SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 42


__ADS_3

Di sudut selatan, kegelapan yang menyamarkan rumah Biantara dirasakan Pandji sangat pekat.


Bangunan besar yang berada satu kawasan dengan tempat tinggal Pandji itu memiliki gerbang dan pagar yang tinggi.


Tanaman bersulur menjalar menutupi batu-batu yang menjadi motif pagar dengan jeruji runcing di atasnya. Rumah yang sangat tertutup dari pandangan mata normal.


Dan bisa dipastikan apapun kegiatan yang sedang berlangsung di dalam, tak mungkin bisa dilihat atau didengar dari luar.


Biantara sedang duduk di pendopo depan, semua luka fisiknya sembuh dengan cepat dan hanya meninggalkan bekas goresan benda tajam di kulit luarnya.


Itu juga mencolok terlihat pada wajah tampannya, bekas luka yang membuat Biantara memiliki ciri khas, bekas luka yang membuat Biantara berang, bekas luka yang makin menumbuhkan dendam.


Biantara tersenyum ngeri, ada kepuasan melihat pasukannya patuh menerima perintah dan tak akan kembali sebelum berhasil menyusup ke rumah Pandji.


Pasukan berisi segerombolan makhluk hitam yang diberikan kepada Biantara setelah dia menukar jiwa dengan kesembuhan dan kesempatan mendapatkan jabatan panglima dalam regenerasi dunia baru.


Tawa kecil Bian muncul karena mendapatkan banyak ide untuk menghancurkan orang yang sudah memberikan luka di wajahnya. Luka yang membuat wajah rupawannya kehilangan pesona.


Tak ayal lagi, Bian mendengus kesal setelah menunggu cukup lama, dia tidak melihat ada pasukan yang kembali dan melaporkan keberhasilan seperti yang sudah diperkirakan.


Misi yang diberikan oleh Sang Pemimpin untuk mengambil kitab sihir di rumah Pandji masih belum bisa dipenuhi Bian. Dia hanya bisa berusaha lebih keras sekarang.

__ADS_1


Jika serangan pertama malam ini tidak membuahkan hasil yang bagus maka berikutnya adalah masuk ke sana lewat dunia nyata.


Biantara memasang sikap waspada saat mana sihir terasa memenuhi udara sekitarnya, mana yang dia ingat milik pemuda paling menyebalkan yang tubuhnya diinginkan Sang Pemimpin.


Bocah tengil itu … menembus dimensi dan percaya diri sekali berani datang ke rumah ini!


Pandji muncul dari ruang hampa dan menyeringai sinis pada Bian, "Selamat malam, tetangga! Maaf berkunjung malam-malam."


Biantara melotot tajam, "Kau mencariku? Atau mencari mati?"


"Aku hanya ingin jalan-jalan karena tidak bisa tidur, memastikan kau sudah sembuh agar bisa menarik pasukan iblis dari rumahku. Mereka makhluk rendahan tak berguna, Bian!" ejek Pandji dengan nada monoton.


"Aku datang untuk mengingatkanmu … kau hanya dimanfaatkan mereka, Bian. Jalan hitam yang kau pilih tidak akan mengantarkanmu sampai puncak, aku akan memangkas sebelum kau tumbuh!" Pandji menarik dua pedang dari punggungnya dengan ekspresi dingin.


"Bukan urusanmu!" Bian yang tak siap dengan kedatangan Pandji, merapal mantra untuk memanggil pasukannya.


"Aku tidak akan sungkan," geram Pandji. Perubahan aura di area sekitarnya menunjukkan bahwa pasukan Bian mulai berdatangan.


Bayangan hitam dengan jumlah lebih dari sepuluh mengelilingi Pandji dengan cepat, mengurung Pandji rapat dan menampakkan wujud aslinya.


Moncong bertaring dan kuku tajam keluar perlahan dari jari setiap makhluk yang siap memangsa Pandji, sesekali kepala mereka mendongak hanya untuk melolong panjang.

__ADS_1


"Buat pemuda itu sekarat, tapi jangan sampai mati!" Bian memberi perintah dengan suara bergetar.


Pandji menarik dua pedang hitamnya saat semua makhluk-makhluk itu mulai mengeluarkan asap hitam seperti awan yang berjalan dan siap membungkusnya.


Tak menunggu asap bertambah makin banyak, Pandji melompat ke depan dan bergerak cepat menyabetkan kedua pedang sihirnya.


Satu pedang hitam mulai memijar kemerahan saat Pandji mengalirkan energi, menebas dengan cepat makhluk yang juga bergerak secepat bayangan menyerang dan mencoba melumpuhkan Pandji.


"Sepertinya pasukanmu terlalu cemen, Bian!" Pandji mengejek setelah menebas lima makhluk yang menerkamnya tanpa kesulitan berarti. "Ini peringatan terakhir untukmu, aku hanya akan menyelamatkanmu dari ilmu sesat ini satu kali! Tidak akan ada lain kali!"


Pandji memutar tubuh dan mengayunkan pedangnya dengan brutal. Makhluk hitam yang terpotong berubah menjadi asap hitam dan menghilang. Dua pedang kembar dengan energi berbeda menderu dan menebas sasaran hingga tanpa sisa.


Suasana tenang dan lengang, Biantara berdiri tertegun menatap Pandji menyarungkan pedangnya di punggung dan melompat ke punggung barion.


"Pikirkan baik-baik ucapanku atau kau akan menyesal di kemudian hari!"


Pemuda itu menghilang bersamaan dengan lompatan pertama hewan gaib tunggangannya.


Benar-benar bocah pembawa sial!


***

__ADS_1


__ADS_2