
Pandji menyeringai melihat pendukung dari pihak keluarganya, Ayah dan Ibunda duduk bersama Raksa dan Gia, sementara Mika, Ratna dan Atika duduk selisih satu deret kursi di belakang. Elok yang duduk bersama keluarganya pun memandang Pandji tak berkedip.
Sebagian besar mata yang hadir menonton pertandingan juga tertuju pada Pandji, alasannya pasti hampir sama. Pandji tidak punya nama dan tidak pernah mengikuti turnamen, kehadirannya sebagai pendatang baru dengan membawa aura besar jadi gosip yang sangat menarik antar pengajar di kesatrian.
Setelah beristirahat selama lima menit, Pandji kembali berdiri di arena untuk melawan pemuda berikutnya. Pemuda 25 tahun berkulit gelap dengan senjata tombak sudah menunggunya dengan wajah beringas.
Tidak ingin menarik perhatian seperti pertandingan pertama, Pandji hanya menarik salah satu pedang kembarnya. Pandji berbisik sendiri, "Bagaimana jika kita tumbangkan dia dalam sepuluh serangan, Damar?"
Pandji mendengar Damar Jati berbicara dalam pikirannya, 'Mas Pandji terlalu meremehkan saya!'
"Aku butuh olahraga, Damar!" desis Pandji tertahan.
'Bagaimana jika lima serangan saja, Mas? Lebih cepat lebih baik kan?'
Baiklah Damar, aku akan membuatnya sedikit dramatis agar penonton senang.
"Mulai …." Suara Pakde Noto menggema di arena. Semua mata fokus ke arena pertandingan, ada yang menahan nafas, banyak juga yang jadi komentator dadakan. Diam-diam juga ada yang melakukan taruhan.
Pemuda berkulit gelap itu berlari memutari Pandji lebih dulu, mencari celah untuk menusuk dengan cepat. Suara tombaknya menderu memecah udara saat menyabet dan berputar.
Pandji mengawasi dengan cermat pergerakan pemuda itu, tombak yang mendadak menusuk ke arah jantungnya itu di tangkisnya dengan pedang hitamnya.
KLANG!!! BLAR!!!
__ADS_1
Suara logam beradu dan ledakan tenaga dalam menggetarkan arena, Pandji sigap memukul tangan pemuda lawan tandingnya dengan gagang pedang saat sedang terhuyung, pemuda itu mengibaskan tangan hingga tombaknya terjatuh.
Dengan kecepatan yang sama, Pandji memukulkan lagi gagang pedangnya ke tengkuk pemuda yang baru saja akan memungut tombaknya. Bunyi debam jatuh terdengar keras saat tubuh pemuda itu pingsan mencium lantai.
Ini terlalu cepat, Damar! Aku belum berkeringat … dan ini tidak dramatis seperti yang kuinginkan!
Damar menyampaikan pembelaan dirinya dalam pikiran Pandji, ‘Lawan Mas Pandji terlalu lemah, ini bukan pertandingan yang seimbang! Akan membosankan jika terlalu lama!’
Bukannya senang, Pandji menggertakkan gerahamnya saat dinyatakan menang. Dia turun dari arena dan beristirahat dengan bosan sambil menunggu nomornya dipanggil lagi.
Beberapa pertandingan berlalu, sepasang demi sepasang ksatria muda naik ke arena untuk beradu ilmu bela diri. Tidak semua pertandingan cukup menarik untuk disaksikan, ada yang menegangkan ada juga yang cukup santai dan ada yang berakhir mengenaskan.
Nama Pandji kembali dipanggil untuk untuk masuk lagi dalam arena, lawannya kali ini pemuda bersenjata dua celurit dari kesatrian Hargo Baratan. Teman satu perguruan Biantara, bernama Arya, umurnya baru 21 tahun.
Pengguna sihir hitam terlarang!
Tak lagi segan Pandji menarik dua pedang hitamnya dan berdiri tangguh dengan kedua tangan di samping tubuh, pedangnya hampir menyentuh lantai.
Arya berdiri mencondongkan tubuh ke depan dengan kedua tangan yang terus bergerak menyilang, membuat tebasan dengan pusaka berbentuk bulan sabitnya.
Aliran mana mulai memenuhi udara di sekitar arena, energi gelap pekat dan jahat menyelimuti Arya yang sedang menyeringai ke arah Pandji.
"Kau akan berakhir di sini, Pandji! Aku tidak akan memberikan kesempatan padamu maju ke babak utama," tutur arya penuh sarkasme dan percaya diri.
__ADS_1
Pandji menatap datar dan mengedikkan kepalanya, "Setelah menghinaku, entah mengapa aku tidak bisa menjamin kau akan baik-baik saja saat turun dari arena ini."
Emosi Arya meluap, wajahnya memerah dan dalam gerakan cepat dia sudah menyerang Pandji dengan brutal.
Suara logam yang terus beradu membuat suasana penonton menjadi tegang dan was-was, "Sepertinya bahaya jika kita melihat terlalu dekat!"
"Tidak! Ada kubah pelindung yang membuat kita aman jika tetap duduk di kursi penonton."
BLAR!!!
Kedua celurit yang menahan serangan tebasan pedang hitam Pandji terpotong jadi dua bagian,
Pandji mengarahkan pedang bergagang hitam emasnya sedikit menusuk ke dada kiri atas Arya. Energi panas Asih Jati yang masuk ke tubuh Arya spontan membakar makhluk gaib yang bersemayam di sana.
Arya ambruk tak sadarkan diri, mulut dan hidungnya mengeluarkan cairan hitam yang berbau sangat amis.
“Apa Pandji menang, Pakde?” tanya Pandji datar, sementara Pakde Noto masih terkesiap dengan darah hitam Arya yang masih terus mengalir keluar memenuhi lantai sekitar kepalanya.
Tim medis segera mengangkat tubuh Arya setelah Pandji dinyatakan menang.
Maaf kawan, itu tadi Asih Jati yang membakar perewanganmu, bukan aku!
***
__ADS_1