SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 09


__ADS_3

Memikirkan Biantara, sudut bibir Pandji berkedut. Dia bukannya takut berhadapan dalam duel maut di turnamen, tapi kesiapan Pandji tidak ada. Selain tidak pernah berlatih, Pandji juga tidak punya senjata yang kuat.


Biantara merupakan salah satu murid terbaik Raden Mas Candika yang juga merupakan pemilik kesatrian Hargo Baratan. Tempat yang cukup terkenal dengan ilmu sihir, kemampuan mengendalikan alam dan juga memanipulasi elemen kehidupan.


"Bian menantangmu di turnamen bulan depan?" tanya Elok setelah membisu beberapa waktu.


"Kamu sepertinya cukup dekat dengannya hingga tau semua jadwalnya." Pandji berkata monoton.


Elok mengernyit kesal, "Aku bertemu dengannya saat makan di pujasera selatan Hargo Baratan, dia bersama Paman Candika."


Laki-laki yang dibicarakan Elok itu juga dipanggil Pandji dengan sebutan Paman Candi. Orang yang pernah belajar dan menjadi murid ayahnya. Mereka cukup akrab karena Paman Candi menikahi salah satu teman dekat ayahnya dari Surabaya, Risa.


Hingga sekarang pun hubungan mereka masih sangat baik meskipun pemilik Hargo Baratan itu telah selesai masa belajarnya pada Ayah Pandji. Beliau sekarang sedang fokus membesarkan kesatrian miliknya.


Pandji dengar ilmu sihir di Hargo Baratan berkembang pesat ke arah sihir-sihir terlarang atau biasa disebut dengan sihir kegelapan.


Ayahnya Pandji sering mengatakan bahwa sejatinya tidak ada yang namanya ilmu hitam, semua tergantung manusia yang menggunakannya.

__ADS_1


Tapi, Pandji punya pemikiran bahwa ilmu sihir yang menyebutkan nama iblis di dalam mantranya tidak bisa dikategorikan dalam ilmu sihir putih. Alasan Pandji berpikir demikian sederhana, dia sudah membaca semua koleksi buku sihir milik leluhurnya Abisatya yang berisi dua jenis sihir itu.


Ayahnya yang notabene pemegang ilmu tua trah Ganendra tidak bisa berkutik ketika mengetahui bahwa Pandji mewarisi darah Abisatya, darah penyihir yang hilang kejayaannya karena tuduhan sepihak dari orang-orang yang membencinya.


Sehingga sejak saat itu sihir ciptaan keluarga Abisatya dilarang keras digunakan karena dianggap sebagai sihir aliran hitam. Dan Pandji terlahir berbakat dalam penggunaan ilmu-ilmu sihir baik putih maupun hitam.


Bukan Pandji jika berhenti penasaran, dia penguasa perpustakaan dan sudah membaca semua buku yang ada di sana.


Dia bahkan menemukan buku sihir yang berjudul 'MATI', buku kuno yang sengaja disampul ulang dengan gambar dan judul novel roman tempo dulu untuk menyembunyikan keberadaannya.


Seperti kehidupan yang selalu menemukan jalannya, buku 'MATI' juga akan menemukan pemiliknya.


Hanya saja buku itu tidak bisa dibacanya saat ditemukan setahun yang lalu, buku tua itu dilindungi dengan sihir. Buku itu hanya bisa dibaca oleh keturunan Abisatya yang telah berusia 17 tahun. Itulah mengapa Pandji hanya menemukan lembaran kosong tanpa tulisan di dalamnya.


Tapi Pandji sudah mengamankan buku itu di dalam kamarnya, menyampul ulang dengan judul mata pelajaran di sekolahnya dan siap membacanya beberapa hari lagi setelah melewati ulang tahunnya.


"Aku tidak berniat ikut turnamen," sahut Pandji tenang. Tapi itu hanya ekspresi untuk menipu Elok, sejujurnya dia kesal karena tidak bisa menghindari kejuaraan bela diri tahunan itu.

__ADS_1


Hingga Pandji harus rajin latihan di kesatrian. Karena kalau tidak, ayahnya yang akan melatihnya di halaman belakang. Itu buruk, menurut Pandji ayahnya curang dan berubah jadi sangat kejam padanya saat latih tanding.


"Oh … sayang sekali, artinya Bian akan menjadi juara lagi tahun ini. Aku kurang suka jika itu sampai terjadi …," lirih Elok sedih.


"Harusnya kamu bangga, itu bisa jadi nilai plus di mata orang tuamu."


Elok menatap Pandji dengan niat menegur, "Dia selalu menyombongkan diri, itu membuatku tidak terkesan. Juga … sok kegantengan."


"Banyak yang ingin jadi pacarnya, bukankah itu berarti dia memang punya banyak kelebihan?"


"Aku tidak sedang memujinya, aku sama sekali tidak menyukainya jika kamu ingin tau!" sarkas Elok seraya keluar dari mobil Pandji yang telah berhenti di depan rumahnya.


Gadis muda itu bahkan kehilangan kesopanan yang selalu dijunjung tinggi oleh keluarganya, dia tidak mengucapkan terima kasih atau berbasa-basi menawari Pandji untuk sekedar mampir sebentar.


Pandji menaikkan alisnya sedikit dan bergumam sendiri, "Poor you!" (Kasihan deh lo!)


***

__ADS_1


__ADS_2