SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 175


__ADS_3

Bola api yang meledak di udara dengan tiga warna, berhasil mengumpulkan tiga pangeran iblis yang sedari tadi hanya menonton di pinggir dengan cepat. Termasuk di dalamnya ada putra mahkota yang selalu menyeringai angkuh.


Mereka bertiga masuk ke area pertempuran dengan membawa seluruh pasukan yang tersisa. Setiap pangeran memerintahkan pasukannya untuk mengepung lokasi pertarungan dan tidak membiarkan satupun musuh lolos dalam keadaan hidup.


Di sisi lain, Mika dan Mpu Sapta yang menyadari Pandji sudah berubah dan menyatu dengan kekuatan gelap Damar Jati, memilih menjadi pemimpin bagi pasukan iblis yang baru ditundukkan untuk menghadang tiga kelompok pasukan pangeran kegelapan yang mulai membaur dalam pertempuran dan bergerak melingkar.


Mpu Sapta memutuskan terjun ke tengah arena karena sudah banyak iblis dan hewan spiritual yang bisa melindungi saat dirinya membentuk pasukan baru. Mantranya tidak berhenti terucap meskipun mana sihirnya mulai menipis.


Menundukkan begitu banyak iblis sangatlah menguras jumlah energi tuanya yang memang tidak terlalu besar.


Sementara Pandji sedang merasakan sesak dan panas di dadanya. "Aku bisa mati kelebihan mana jika tidak segera digunakan, Damar!"


"Hukum energi hampir sama seperti uang, tidak ada yang namanya kelebihan, Mas Pandji! Hanya perlu sedikit teknik untuk menyeimbangkan ... lalu mana kegelapan kita akan menyatu sempurna," ujar Damar Jati dalam kepala Pandji.


Kalau kasus terdahulu Pandji kehilangan kesadaran saat tubuhnya ditempati Damar, kali ini mereka berdua menjadi kesatuan kekuatan. Sehingga Pandji harus berusaha keras untuk beradaptasi dengan energi gelap Damar yang masuk ke dalam tubuhnya.


"Oh … apakah bantuanmu tidak datang? Apa perempuan cantik dan kakek yang sudah bau tanah itu yang kau sebut bantuan, bocah arogan?" ejek Pangeran ke delapan memanaskan suasana hati Pandji.


Berdiri di antara empat pangeran lain yang sudah bergabung dan menghunus senjata, Pangeran kedelapan merasa percaya diri dengan situasi dan keberuntungan yang berpihak padanya. Apalagi Pandji terlihat menyeringai tidak nyaman dengan tubuhnya.

__ADS_1


Mata Pandji yang sepenuhnya hitam menatap kosong pada lima pangeran di depannya. Suara Pandji terdengar jauh lebih berat dan dingin saat berbicara.


"Aku yakin kau bukan baru-baru ini menjadi ksatria iblis, seharusnya kau sudah paham kalau jumlah tidak menjamin apapun. Lebih banyak bukan berarti bisa menang dengan mudah dibandingkan yang lebih sedikit!" jawab Pandji santai.


"Oh ya? Baiklah, kau memaksa kami untuk melakukan hal paling buruk yang tidak pernah ada dalam pikiran aroganmu itu!"


"Seingatku, saudara kalian yang bernama Levron dan Nergal juga mengancamku seperti itu, tapi … itu ternyata hanya omong kosong yang tidak bisa dibuktikan!" Pandji menghembuskan nafas berat.


"Kau, beraninya berbicara lancang …!" Pangeran ke delapan langsung memusatkan semua kekuatan gelap pada pusaka berbentuk trisula yang dipegangnya.


"Aku bicara fakta!" Pandji tertawa sinis diikuti luapan mana sihir dari dalam tubuhnya, aura pembunuh sengaja ditunjukkan untuk menekan para pangeran.


Sebagai pemanasan, Panji mengangkat kedua pedang dan menyatukannya menghadap langit yang penuh dengan kabut gelap. Tak lama, suara gemuruh seperti badai datang bersama melesatnya berlarik-larik kilat hitam menyambar ujung pedang Pandji.


Gelombang kabut hitam dengan gemuruh laksana ombak keluar dari ujung pedang Pandji dan menyapu pasukan iblis seperti daun kering diterbangkan angin. Lolongan panjang seketika memenuhi pendengaran dan debu hitam berterbangan dimana-mana. Sekali sabet, Pandji berhasil mengantarkan puluhan iblis langsung menuju neraka.


Setelah membantu Mika dan Mpu Sapta memporakporandakan barisan iblis yang siap menyerang, Pandji memfokuskan serangannya pada lima pangeran iblis yang mengeroyoknya.


Selama pertarungan berlangsung, telinga Pandji sering kali menangkap perintah putra mahkota untuk tidak melukai tubuhnya, dia berharap saat sihir pemindahan jiwa dirapalkan, pangeran kesayangan raja iblis itu tidak mempunyai bekas luka di tubuh barunya.

__ADS_1


Namun, suara putra mahkota hanya dianggap udara bau yang keluar dari bokongnya. Tidak ada yang menggubris perintahnya, empat pangeran lain memilih untuk segera menghabisi Pandji tanpa ampun. Lagi pula menangkap lawan tanpa melukai dianggap jauh lebih sulit daripada membunuhnya.


“Pangeran ketujuh, kau sudah berjanji membantuku untuk mendapatkan pemuda itu tanpa luka!” teriak putra mahkota marah. Dia melihat saudaranya yang paling sakti itu berambisi untuk merobek mulut Pandji yang sering berbicara penuh percaya diri.


Pangeran ketujuh mendengus keras saat putra mahkota membuat gerakan yang mengakibatkan jurus terbaiknya tertahan. Kesempatan yang dimanfaatkan Pandji untuk menghunus pedang kembarnya ke arah dua bersaudara yang sedang saling jegal dengan alasan memiliki kepentingan yang berbeda.


BLAR!!!


Benturan tenaga dalam tak seimbang terjadi, pedang pendek milik pangeran ketujuh jatuh ke atas tanah. Sadar sangat berbahaya menghadapi Pandji tanpa senjata, membuat pangeran ketujuh nekat berguling untuk mengambil senjatanya yang berada tidak jauh dari dirinya.


Melihat hal itu, Pandji melompat ke arah pedang pendek tersebut dan menendang gagangnya dengan keras bertenaga dalam. Pedang pangeran ketujuh melesat cepat menuju pemiliknya dan tepat menancap di wajah buruk yang terkejut tanpa sempat menghindar.


Suara retak batok kepala diikuti ledakan kecil membuat empat pangeran terkesiap, tidak menyangka saudaranya yang paling kuat justru berakhir paling awal.


Debu hitam pangeran ketujuh yang menghilang di kegelapan malam membuat pemandangan yang sangat menjatuhkan mental bertarung empat pangeran yang tersisa.


"Mari kita serang bocah sial itu dengan formasi empat pangeran iblis mengejar cinta!" seru putra mahkota memberi perintah.


"Jika kau cukup percaya diri dan memiliki keyakinan, majulah duluan! Aku ada dibelakangmu!" sahut pangeran kelima tanpa malu.

__ADS_1


"Aku akan mengadukan semua tingkahmu di sini pada yang mulia raja, Pangeran kelima!" ujar Putra Mahkota penuh kebencian.


***


__ADS_2