
Aswanta masuk ke dalam pertarungan, memapras amukan salah satu pengeroyok yang paling dekat dengan pemuda bersenjatakan kayu.
"Mundur!" teriak Aswanta memberi perintah mutlak. Dia berdiri di depan pemuda itu dengan pedang mengacung ke arah tiga pemuda yang sedang kerasukan maroz.
"Terima kasih," sahut pemuda yang ditolong Aswanta. Dia mundur menjauh dan duduk di tepi trotoar dengan nafas tersengal.
Sikap pahlawan Aswanta membuat tiga pemuda di depannya mendongak bersamaan dan melolong keras.
Aswanta memainkan pedang pendeknya dengan gaya memutar, suara deru dan pendar merah dari bilah tajam membuatnya bergidik sendiri.
Aura pedang pemberian Pandji menekan kuat area sekitar, energinya yang besar perlahan masuk ke dalam tubuh Aswanta. Mengalir dari tangan kanan dan menyebar ke setiap sel darahnya.
Aswanta menarik nafas bangga, energinya meluap dan dia siap jika harus menghadapi lebih dari sekedar tiga ekor hewan gaib menjijikkan yang bersembunyi dalam tubuh-tubuh manusia,
"Baiklah … aku memang tidak butuh bantuan Pandji. Dia dengan baik hati memberikan aku kesempatan menunjukkan diri untuk menarik perhatian kakaknya yang cantik itu! Aku harus berterima kasih padanya nanti," gumam Aswanta seraya melirik ke arah mobil, lalu menyabetkan pedangnya menyongsong satu pemuda yang menerkamnya.
Jika Aswanta tahu apa yang ada di pikiran Pandji jauh berbeda dengan apa yang ada di kepalanya, mungkin dia harus benar-benar mulai minum obat anti gila.
Pemuda yang menerkam Aswanta dipatahkan serangannya dengan mudah, tangan yang mengulur ke dada Aswanta ditangkap dan dicengkram kuat untuk selanjutnya dibanting ke trotoar.
Sebelum pemuda itu bangun, Aswanta sudah menekan lututnya ke dada dan menghantamkan gagang pedang tepat di tengah dahi si pemuda.
__ADS_1
Segel heksagram yang menempel di atas alis pemuda itu menyala sebentar lalu menyedot semua energi gelap yang ada pada tubuh si pemuda hingga keluar melewati lubang-lubang di kepalanya … seperti debu yang sangat lembut, mereka mudah hilang diterpa angin.
Satu maroz hancur oleh kekuatan pusaka Aswanta.
Kepala pemuda itu jatuh terkulai, mata terpejam dan kesadarannya yang masih berada di dasar belum siap dibangunkan.
Dua pemuda yang menyerang secara bersamaan mencoba merobohkan Aswanta dengan cara menangkap dari dua arah yang berbeda.
Aswanta dapat melihat kedua makhluk yang ada di dalam tubuh pemuda yang akan menyerangnya menyeringai, menampakkan taring yang menembus moncong dengan mata merah menyala.
"Pusaka yang hebat … dengan energinya aku bukan hanya bisa merasakan aura maroz yang sangat gelap dari jarak tertentu, aku juga bisa melihat dengan jelas bayangan iblis dalam tubuh manusia." Aswanta bergumam memuji pusaka dari Pandji dengan senyum dingin.
Pemuda itu limbung dan hampir jatuh saat Aswanta menangkapnya dan memukulkan gagang pedang pada dada kiri atas.
Tidak ada lolongan, pemuda itu hanya mendongak dan melotot menatap asap hitam keluar dari mulut dan hidungnya. Suaranya tercekik saat dia jatuh dalam posisi berlutut, lalu bersujud mengucap syukur dengan linglung.
Aswanta menebas gumpalan asap hitam yang baru saja membentuk kepala serigala, tidak memberikan kesempatan pada iblis untuk membentuk tubuhnya.
Belum sempat mengangkat wajah, satu teman terakhir yang masih menyerang Aswanta dengan brutal jatuh di sebelah pemuda yang masih bersujud.
Dengan mulut membuka lebar, pemuda itu bangun dari sujudnya, menatap temannya yang baru saja jatuh dan mengalami kejang hebat. Kelojotan seperti ayam baru saja disembelih lalu diam tak berkutik meninggalkan udara yang kembang kempis di dadanya.
__ADS_1
Menatap Aswanta yang masih merentangkan pedang setelah menyabet gumpalan awan hitam yang menggunung di atas temannya yang jatuh, pemuda itu bingung harus bicara apa.
"Dewa …? Ksatria Agung? Pendekar?" tanya pemuda itu berusaha keras untuk mendapatkan posisi menyembah Aswanta. "Aku mengucapkan terima kasih."
Pemuda itu merangkak ke arah Aswanta yang ikut bingung, mendekap kaki Aswanta erat dan memaksa mencium telapaknya. "Pahlawan … sekali lagi terima kasih telah menyelamatkan hidupku yang hina ini!"
Aswanta tertegun melihat hal konyol terjadi di depannya, dia menendang pelan pemuda itu dan mengutuk dengan kasar, "Kamprettttt … kau pikir aku ini siapa hah? Bangunkan dua temanmu dan segera pulang ke rumah masing-masing sekarang juga!"
Tanpa diperintah dua kali, pemuda itu sekuat tenaga menepuk betis temannya agar segera sadar dan bisa pergi menjauh dari pendekar yang baru menolongnya.
Aswanta menghampiri pemuda yang tadi kena keroyok, “Kau baik-baik saja? Pulanglah!”
Pemuda itu mengangguk dan tersenyum kecut, "Aku belum akan pulang, aku keluar rumah memang untuk bertemu mereka! Apa masalah tiga temanku sudah teratasi?"
"Eh … yang benar? Soal tiga temanmu sudah aman." Aswanta belum sempat melanjutkan interogasi karena ponselnya mendadak berdering.
Aswanta menerima telepon seraya menghadap ke arah Pandji, suara klakson berbunyi dua kali pertanda Aswanta diminta segera kembali ke mobil.
Dengan perasaan kesal, Aswanta memaksa pemuda yang masih memegang kayu butut itu untuk ikut bersamanya, karena Pandji memberi titah seperti raja. Wajib dipatuhi.
***
__ADS_1