
Gerhana bulan total mulai terjadi, seluruh bayangan umbra bumi jatuh menutupi bulan, sehingga matahari, bumi dan bulan berada tepat di satu garis yang sama.
Fenomena langit yang terjadi karena sebagian atau seluruh permukaan bulan tertutup oleh bayangan bumi itu menyebabkan bulan terlihat berwarna merah darah dari balkon kediaman keluarga Abisatya.
Bulan abang sedang menyinari bumi Pakualaman dalam kesunyian.
Pandji dan seluruh keluarganya mendongak dan menatap ke arah yang sama. Tempat dimana bulan abang menampakkan keindahannya. Tempat dimana Tuhan menunjukkan kuasa-Nya terhadap semesta.
"Bukankah malam ini seharusnya semua masalah itu terjadi, Ayah?" tanya Pandji tiba-tiba.
"Ayah tidak merasakan apapun selain aura kehidupan semua orang yang ada di sini, mungkin karena petaka yang dimaksud terjadi sehari lebih cepat," jawab Ayahanda Pandji kalem.
"Artinya ramalan dan penanggalan kuno itu salah?"
"Tidak juga … tidak sepenuhnya salah tapi juga tidak seratus persen benar."
"Apa kemungkinan seperti itu berlaku untuk anak dalam ramalan dan juga buku sihir setan, Ayah?" Pandji menggaruk kepalanya, berharap jawaban Ayahnya bisa memuaskan perasaannya.
Pemuda tampan yang baru berusia tujuh belas tahun itu tidak ingin terlibat lebih jauh dengan kejadian aneh dalam dunianya. Dia sedang memikirkan hidup tenang dan menjadi lebih kaya dari sekarang sehingga dia bisa bermalas-malasan di kemudian hari.
Benaknya penuh dengan rencana bisnis. Pandji ingin mempunyai tempat bisnis terbesar yang bergerak dalam bidang senjata untuk bela diri, pusaka, benda-benda mistis seperti batu mustika, ramuan pengobatan hingga menyediakan tenaga bagi yang membutuhkan bantuan.
__ADS_1
Aswanta dan tim akan menjadi bagian dalam menjalankan rencana bisnis toko unik pribadinya.
Ayahanda Pandji menatap sekilas putranya yang sedang menatap bulan dengan pandangan berbeda. "Tidak ada salahnya berjaga dari segala kemungkinan. Meskipun malam ini tergolong aman, kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok!"
Pandji menghembuskan nafas berat, "Jika malam ini bisa kita lewati, bukankah malam-malam berikutnya akan jadi lebih mudah?"
"Kita tidak bisa memprediksi ataupun berasumsi tentang hal yang belum terjadi, Mas!"
Bulan semakin merah menyerupai darah. Namun, udara terasa normal tidak menyakiti kulit. Tidak ada aliran mana, tidak ada aura kegelapan yang ada di sekitar Pandji.
"Baiklah, gerhana hampir selesai dan tidak ada tanda-tanda aneh yang muncul kecuali malam jadi terlalu sepi. Apa kita sudah bisa membaca kitab sihir itu sekarang?"
"Rangket yang dipasang Oma Dina masih berdiri kokoh mengelilingi rumah dengan jangkauan lumayan luas, jadi wajar jika tidak terdengar suara gaib dari makhluk halus. Mereka berada dalam jarak lumayan jauh dari kita," terang Ayahanda Pandji tenang. "Sepertinya teman-temanmu bisa pergi istirahat setelah ini. Kita akan ke perpustakaan bersama!"
"Hm … kau bisa ajak Mahesa dan Tirta beristirahat, mungkin tidak akan ada kejadian aneh malam ini," sahut Pandji datar.
"Aku dengar tadi tentang kitab kuno, apa aku boleh ikut membacanya? Mungkin ada sihir yang bisa aku pelajari!"
Pandji menoleh, melihat Aswanta dengan tatapan kasihan.
Aku saja belum tentu bisa membacanya, apalagi kamu teman!
__ADS_1
"Banyak buku tentang sihir di kesatrian, kau bisa membaca dan meminta Pakde Noto untuk mengajari," ujar Pandji ringan. "Kau tinggal atur waktumu untuk latihan, samakan saja dengan jadwal Mahesa dan Tirta!"
"Aku ingin yang sedikit istimewa seperti sihir petir merah … setidaknya yang biru juga nggak masalah." Aswanta menatap Pandji cengengesan. "Murid ingin belajar langsung padamu, Guru!"
Sudut bibir Pandji berkedut, "Aku takut kau mati karena kehabisan mana saat mempelajarinya. Untuk mengendalikan petir itu butuh tenaga yang besar, sebaiknya kau belajar dari dasarnya dulu!"
"Apa aku berbakat? Dibandingkan Mahesa yang memiliki perisai sihir dan juga Tirta dengan pedang gelombang ombak … aku jelas lebih buruk daripada mereka," keluh Aswanta meradang. "Tanpa pedang pusaka darimu, aku nggak ada bedanya dengan para ksatria dari Hargo Baratan yang baru bergabung dengan Putra Ganendra."
"Kau memang tidak berbakat dalam ilmu bela diri," tegas Pandji dengan ekspresi monoton. "Kau tipe orang yang terlalu banyak bicara!"
"Lalu apa yang bisa aku lakukan jika menjadi ksatria pilih tanding tidak memungkinkan?" kejar Aswanta kecewa. Dia tidak menyangka Pandji tidak mendukungnya menjadi lebih digdaya.
Pandji menggaruk pipinya sebelum menjawab, "Kita akan bicara bisnis setelah semua ini benar-benar selesai!"
Aswanta hampir berteriak, pendengarannya terasa salah menerima kalimat Pandji. "Bisnis? What the hell, Sobat? Aku bisa apa dengan hanya bicara? Untuk menggoda istri orang saja aku tidak ada tampang dan kemampuan!"
"Jual batu mustika, pusaka dan benda mistis lainnya!" jawab Pandji terbahak, dia ngeloyor pergi karena gerhana bulan telah berlalu.
Malam masih cerah dan sangat terang oleh purnama yang baru saja tertutup bayangan bumi. Seluruh mata memandang takjub. Mereka juga bernafas lebih lega, karena tidak ada aura gelap yang menghimpit dada.
Pandji meninggalkan balkon, kali ini benar-benar berjalan ke perpustakaan bersama Mika dan keluarganya, sementara Aswanta dan lainnya pergi ke ruang keluarga untuk merayakan kondisi tenang dengan bermain game bersama.
__ADS_1
Ternyata malam kejayaan setan tidak seseram yang mereka bayangkan. Tidak sama dengan tujuh belas tahun lalu saat Pandji dilahirkan, saat tengah malam dengan gemuruh petir dan badai angin melanda Pakualaman.
***