
Mika mengejar balik Andara yang baru saja melepas energi besarnya, serangan jarum yang mencoba menghentikannya ditangani dengan baik.
Mata istimewa Mika mendeteksi sekecil dan secepat apapun senjata Andara yang sedang diarahkan padanya.
Dalam sekejap, Mika tak lagi berjarak dengan Andara. Belatinya menyabet seperti kilat menyerang titik vital Andara yang terus mundur menghindar kewalahan.
Mika mengatur langkah, dia mengimbangi Andara dengan baik. Terlihat lebih unggul karena wanita bercadar yang jadi musuhnya sudah kehilangan banyak mana.
Satu tusukan belati Mika tepat merobek bahu Andara yang seketika meraung seperti serigala malam. Panas dan racun dari belati Mika tak kuasa ditahannya, dia memegang keras bahunya dan mundur dengan cepat.
"Pangeran!" teriak Andara memohon bantuan. Tapi sayangnya Badrika tidak bisa datang, Pandji menghalanginya saat dia baru saja bergerak sedikit.
"Lupakan pangeranmu! Dia tidak mungkin datang membantu," sinis Mika melancarkan serangan cepatnya.
Mika memburu Andara cepat, tidak memberikan sedikit saja kesempatan untuk bernafas. Dia bersalto dan menendang Andara dari belakang.
Andara yang fokusnya ada pada bahu jatuh terjerembab ke depan, tersungkur dengan kedua tangan menahan beban tubuhnya.
Mika menginjak punggung andara hingga rata dengan tanah, menjambak rambutnya ke belakang hingga perempuan dibawahnya mendongak menatap penuh kebencian padanya.
Tanpa belas kasihan, bilah tajam belati Mika menancap pada leher yang sedang tegang. Menariknya dengan cara memutar hingga batang tenggorok Andara hancur dan urat-uratnya putus.
"Arrgghhh …." suara terakhir Andara keluar bersama cairan merah dari mulutnya.
Darah menggenang di bawah kepala Andara yang terkulai. Asap hitam yang keluar dari tubuhnya membentuk makhluk hitam bersayap dengan paruh panjang seperti burung.
__ADS_1
"Tidak ada kata kabur untukmu, iblis!" seru Mika garang. Belati yang memijar sangat terang dihujamkan ke dada makhluk yang siap terbang meninggalkan jasad Andara.
Seperti menusuk dinding yang sangat keras, kulit makhluk di depan Mika hampir tidak tertembus jika dia tidak segera memompa mana sihirnya.
Energi Asih Jati masuk menembus jantung makhluk itu dan meledakannya dari dalam. Serpihan abu bertebaran di sekitar Mika, meninggalkan bau anyir berkarat yang menusuk hidungnya.
Mika tidak ambil pusing dengan jasad Andara yang meleleh menjadi cairan hitam. Gadis itu pergi menyongsong pasukan Badrika yang mulai mendesak Aswanta dan teman-temannya.
Chimera yang sengaja dihadang oleh Gia menyemburkan api tanpa henti. Gia memanggil empat maungnya untuk membantu menghalau setiap serangan dari iblis berkepala kambing dan singa tersebut.
Dengan tubuh kecilnya, Gia melenting menghindar, melepas energi kujang dan membuat sabetan pada ekor yang sedang mengarah padanya seperti pecut besar berwarna hitam.
Tidak mengenai sasaran, chimera yang marah besar itu menerjang dengan terkaman tinggi. Empat maung menyambut, tabrakan di udara membuat bunyi ledakan besar.
Gigitan empat maung tidak mudah dilepaskan begitu saja, chimera itu tak ubahnya seperti singa yang terjebak di antara kawanan hyena.
Gia mendekat dengan satu kali lompatan, kujang pusakanya mengarah tepat di kepala chimera yang sedang berontak. Menancap dalam hingga menembus otak. Gia seperti mencabut senjata dari tempat hampa karena makhluk itu mendadak hancur dan tiada.
Bersamaan dengan itu Raksa juga berhasil melukai chimera yang jadi lawannya. Tombak hitamnya kini sedang menancap di dada hingga menembus punggung kambing betina yang hanya bisa mengembik pelan sebelum pergi meninggalkan teman-temannya.
Raksa memanggil Gia agar bergabung dengan Mika, sementara dia melompat cepat ke arah Oma Dina.
Perempuan tua yang menolak keras kehadiran Gia dan tidak mau dibantu itu terpaksa menerima kedatangan Raksa yang langsung mendesak salah satu panglima iblis berbentuk chimera.
Oma Dina tidak membuang kesempatan, chimera yang menyembur api padanya dihalau dengan kekuatan siluman buaya yang menempati keris besarnya.
__ADS_1
Api seketika padam terhisap oleh keris yang mulai memijar. Semakin banyak api yang dihisap semakin banyak jumlah mana chimera yang berpindah tempat.
“Keris yang unik, Oma!” seru Raksa dengan nada kagum.
"Meski tak sehebat tombak naga, tapi ini ternyata tidak buruk juga," timpal Oma tenang. Tubuh tuanya memang tidak lagi lincah, tapi sabetan kerisnya tidak bisa membuat musuhnya dengan mudah mendekat apalagi melukainya.
Tidak butuh waktu lama, kolaborasi unik antara cucu dan nenek membuat musuh kewalahan dan harus rela tertusuk keris oma di bagian perut saat berusaha menerkam.
Belum sampai mendarat, Sang Panglima dihajar oleh ayunan tombak Raksa yang dalam sekejap mengubahnya jadi angin lalu.
Dengan bantuan Mika dan Gia, Aswanta dan timnya yang bertarung dekat dengan heksagram yang terus menyala langsung membalik keadaan dari terdesak menjadi penyerang.
Ratusan iblis tumbang oleh pedang dan pusaka yang tidak berhenti mengeluarkan suara berdenting.
Malam masih belum usai, pertempuran masih berjalan tidak seimbang. Jumlah iblis masih separuh dan ksatria pejuang sudah mulai kelelahan. Satu dua orang teman Pandji harus berkorban nyawa pada malam paling tidak diperhitungkan oleh manusia.
Pandji masih menahan kekuatan Badrika dengan kedua pedangnya. Pusaka kebanggaan Badrika yang berbentuk bulan sabit berkali-kali beradu dengan Damar-Asih. Menciptakan pusaran udara yang menghempas sekitarnya seperti badai.
Tidak ada ksatria yang mau bertarung di dekat Pandji, mereka memilih menyingkir untuk menghindari efek benturan dua kekuatan yang bisa saja mencelakai tanpa disengaja.
Sementara di angkasa, bulan redup tergantung bersama aura gelap yang sangat pekat. Pasukan besar iblis masih setia menunggu portal utama dibuka.
***
...Pandji cari kupi dulu ya teman-teman, biarkan Badrika menunggu sebentar sebelum pertarungan, warkop mana warkop?! 😅...
__ADS_1