
"Tante mohon … jangan bunuh Badrika, Mas Pandji!" isak Ibunda Badrika. Rupanya Ayahanda Pandji kembali ke rumah bersama seluruh keluarga Badrika.
Pandji masih belum melepaskan Badrika, menahan pedangnya yang menancap di bahu hingga tembus ke tanah dan memukul keras kening Badrika dengan gagang pedang lainnya.
"Heksagramnya, Ayah!" seru Pandji memohon bantuan energi untuk menyalakan rune sihir raksasa yang sudah dipersiapkannya.
Tanpa menjawab dengan kata, Ayah Pandji merangsek ke arah kawanan maroz yang menghadang langkah mereka dengan trisula naga.
Menusuk dan menghabisi dengan cepat barisan penghalang bersama Paman Candika.
Tak lama, Pandji melihat lingkaran heksagram raksasa yang mengelilingi seluruh area pertarungan telah menyala sempurna, membumbung tinggi ke atas seperti bangunan transparan dengan rune sihir rumit di dalamnya.
Selanjutnya segala sesuatu jadi mudah, heksagram itu seperti tornado magnet yang membelenggu iblis dan menghancurkannya jadi abu lalu membuangnya ke angkasa.
Lolongan demi lolongan ramai bersahutan mengisi malam paling mengerikan di kediaman Pandji.
Debu hitam berterbangan di dalam heksagram, lalu memudar dan menghilang bersama aura kegelapan mereka.
Menyisakan Badrika yang meronta keras karena iblis di dalam tubuhnya tidak mau ikut pergi meskipun setengah mati tersiksa.
Ayahanda Pandji mendekati putranya yang sedang duduk di atas lawannya sembari menahan gagang pedang yang bilahnya menancap pada bahu Badrika.
Beliau bersedekap sebentar, membaca mantra lalu menyentuh tujuh titik gerbang tubuh Badrika mulai dari telapak kaki hingga ubun-ubun. Bagian yang biasa digunakan sebagai jalan keluar masuk iblis saat menguasai tubuh manusia.
Namun, pangeran iblis bernama Levron adalah jenis yang sangat keras kepala, dengan segenap kekuatannya dia tetap bertahan di dalam tubuh Badrika.
Ejekannya masih saja keluar meski tubuhnya seperti dirajam ribuan pedang, "Kau tidak akan sempat menyelamatkan tubuh ini, manusia! Aku akan membawanya ke neraka."
__ADS_1
Pandji mengalirkan mana lewat kening Badrika, menyerang aliran tenaga dalam Badrika agar Levron mau meninggalkannya. Sementara Ayahanda Pandji masuk ke dimensi alam lain untuk mencari jiwa Badrika yang terinjak dan tersembunyi di bawah kuasa iblis.
"Jangan sok mengancam, yang ada dalam posisi tidak berdaya itu kau, Iblis!" gertak Pandji senewen.
"Atau begini saja, lepaskan aku maka tubuh ini akan selamat. Aku janji …!" ucap Levron dari dalam tubuh Badrika, mulai bernegosiasi.
"Sekali lagi kau dalam posisi kalah, jadi bukan kau yang menentukan aturannya!" sahut Pandji datar.
"Jahanam, aku sudah berjanji dengan serius dan akan menepatinya … tapi kau justru tidak percaya padaku bocah!"
"Oh jadi kau mulai menganggap dirimu berakhlak sekarang? Bukankah tepat janji itu bukan sifat dasarmu?" ejek Pandji seraya menambah jumlah mana yang masuk dalam tubuh Badrika hingga pemuda di bawahnya itu melotot, menggertakkan gigi dan kejang-kejang.
Proses yang sulit dan menyakitkan bagi tubuh Badrika untuk melepas Levron yang sudah terlalu lama mengikat dirinya.
"Aku tidak akan membiarkanmu hidup, bocah ingusan!" ancam Levron masih dengan suara arogan. Meraung sesaat lalu kembali menatap Pandji dengan benci.
"Bukan urusanmu untuk tahu! Tapi aku bisa menjamin keselamatan Badrika jika kau melepaskanku! Aku adalah seorang pangeran, kasta tertinggi di dunia kegelapan!"
Pandji menaikkan kedua alisnya, "Entah mengapa aku tidak begitu peduli kau siapa?! Pangeran atau kacung nggak ada bedanya … iblis ya iblis!"
Usaha Pandji mulai berhasil, asap tipis hitam mulai keluar dari hidung Badrika saat celah aliran mananya terbuka dan menguap karena dorongan energi Pandji yang terus mendesak dari dalam.
"Arrrgghhh … apa yang kau lakukan manusia? Kau sungguh membuatku marah!" desis Levron masih dalam suara Badrika.
Pandji bersiaga melihat asap hitam yang keluar dari tubuh Badrika semakin banyak, menggumpal di depan wajah pucat yang kejang seperti orang sedang meregang nyawa.
Dengan cepat Pandji mencabut pedangnya yang menancap di bahu Badrika begitu pemuda itu kehilangan kesadaran. Dia menyerahkan sepenuhnya jasad Badrika pada Ayah dan Ibundanya untuk diberi pertolongan jika masih mungkin.
__ADS_1
Pandji menghunus pedangnya pada makhluk besar yang sedang merentangkan sayap lebarnya. Paruh dan tanduk mulai mencuat dari kepala, juga beberapa tonjolan seperti punuk unta tumbuh indah di sepanjang punggungnya.
Sebelum Levron selesai membentuk cakar tajam setengah melengkung, Pandji menebas dua sayapnya.
Lolongan panjang kembali mengisi malam.
"Kau tidak bisa pergi begitu saja setelah memporakporandakan rumahku!" ujar Pandji dingin.
"Nergal akan memburumu dengan pasukan besarnya jika aku sampai tidak kembali," ucap Levron mengancam dengan iba.
Pandji memasang wajah bosan, dia mengangkat kedua pedangnya dan menebas cepat leher serta beberapa bagian tubuh iblis yang masih belum mewujud sempurna di depannya.
"Kau bisa kembali ke neraka sekarang!" Pandji menyaksikan mata marah Levron menggelinding bersama kepala yang perlahan hilang diguyur hujan.
Malam kelam telah berakhir. Semua mata menatap pemuda yang berjalan gontai menuju rumahnya.
"Aku lelah sekali, Damar!" ucap Pandji memelas. "Aku ingin tidur!"
"Sendiko, Mas Pandji … tapi luka lengan tetap butuh perawatan!"
"Biarkan saja, nanti Ibunda pasti mencariku setelah selesai mengurus Badrika!"
Hujan mendadak mereda, fajar kelabu bersemburat merah cerah di langit Pakualaman.
Pandji memejamkan mata tak lebih dari setengah jam. Harinya akan sibuk dengan acara pemakaman. Menguburkan sembilan orang ksatria muda yang gugur saat berjuang bersamanya adalah tekanan mental terbesar yang pernah dihadapinya.
***
__ADS_1