SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 12


__ADS_3

Setelah makan malam Pandji menyendiri di dalam kamar, sementara seluruh keluarga sedang berkumpul di pendopo depan.


Malam begitu dingin, tapi langit cerah bertabur bintang. Pandji sedang membaca buku pelajarannya ketika mendengar suara ketukan pada pintu kamarnya.


Dengan wajah malas Pandji membuka pintu dan bertanya pada Atika dengan nada datar, "Apa?"


"Eyang dan Ibunda menunggu kedatangan Mas Pandji di pendopo depan, ada hal penting yang ingin dibicarakan!" jawab Atika sopan.


"Apa Mika ada di sana?"


Atika menggeleng pelan, "Mbak Mika sedang keluar, tadi dijemput temannya."


Pandji mengangkat alis sedikit, "Perempuan?"


"Laki-laki."


"Baiklah, sampaikan pada Ibunda aku sebentar lagi ke sana!"


"Iya, Mas." Atika mengangguk, berjalan meninggalkan kamar Pandji tanpa berani melihat.


Memangnya ada yang salah dengan wajahku sampai dia harus menunduk jika bicara?

__ADS_1


Menutup pintu kamar, Pandji mengikuti langkah Atika yang mulai menjauh. Pandangannya tak lepas dari bagian belakang abdi dalem usia muda itu.


Pandji menggaruk kepalanya yang tak gatal, akhir-akhir ini pikirannya mudah rumit hanya karena hal sepele seperti itu.


Tiba di pendopo, Pandji duduk di sebelah Eyangnya, mengambil tangan keriput milik wanita sepuh yang sangat dicintainya itu lalu memberikan pijatan ringan. “Eyang ada perlu sama Pandji ya?”


Dengan senyum lembut Eyang buyut Pandji mengangguk, “Mas Pandji sudah dewasa, mau hadiah apa untuk ulang tahun nanti?”


“Pandji nggak mau apa-apa, Pandji bisa membeli hadiah sendiri kalau ingin sesuatu." Pandji menolak halus pemberian Eyang buyut yang kadang berlebihan di hari ulang tahunnya. Lagian dia bukan lagi anak-anak yang harus selalu diberi kado saat hari lahirnya tiba.


"Tapi Eyang ingin memberikan hadiah, Mas! Sudah jadi rutinitas tiap tahun, jadi Mas Pandji tidak boleh menolak!"


Pandji tiba-tiba merasa khawatir dengan ucapan Eyangnya, hal itu karena Ibunda juga ikut tersenyum aneh ketika dia sama sekali tidak menolak. "Apa semua baik-baik saja, Ibunda?"


Ibunda Pandji tersenyum lembut, "Tentu saja, Mas Pandji akan segera dewasa dan memiliki tanggung jawab lebih besar dari biasanya."


“Pandji tidak mengerti, Ibunda. Apa Ibunda dan juga Yangyut merencanakan sesuatu? Pandji merasa ada tempe mendoan dibalik percakapan ini,” ujar Pandji menyeringai lucu.


Suara tawa terdengar keras, “Kamu akan diberi hadiah sangat spesial tahun ini." Ayahnya masih tergelak walaupun sudah selesai berkata-kata.


Ini pasti jebakan!

__ADS_1


Pandji menyesal karena menerima begitu saja hadiah yang belum diketahuinya, ini mirip dengan membeli mumi dalam peti.


“Jadi apa hadiahnya, Eyang?”


Wanita sepuh itu berdehem sebelum menjawab pertanyaan Pandji, "Mas Pandji mau Eyang kenalin sama cucunya temen Eyang dari Solo."


"Eh … maksudnya?"


"Cucu teman Eyang itu anaknya ayu banget, sopan dan lembut. Eyang kok suka sama dia, kayaknya lumayan cocok sama Mas Pandji. Eyang sudah mengundang mereka untuk datang pada acara ulang tahunmu!"


Pandji menghentikan pijatan pada tangan rapuh Eyang buyutnya, "Cuma kenalan kan Eyang?"


Lebih baik pura-pura tidak tahu daripada terjebak untuk yang kedua kali. Maksud Eyang pasti menjodohkan dia dengan gadis yang belum pernah ditemuinya itu.


"Ya kalau Mas Pandji setuju bisa langsung diatur acara pertunangan sekalian, biar Cah ayu itu tidak dipinang orang. Sing penting itu ikatan dulu, soal menikahnya nanti kalau Mas Pandji sudah siap," terang Eyangnya dengan senyum yang menurut Pandji menjengkelkan.


Pandji mengeluh sendiri, merasa jadi anak tiri karena Ayah dan Ibunda bahkan hanya senyum-senyum melihat wajah pias setengah marahnya.


Tolonglah … aku bahkan baru berumur 17 tahun dan belum pernah punya pacar! Aku sama sekali tidak tertarik punya tunangan sekarang!


***

__ADS_1


__ADS_2