SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 34


__ADS_3

Bayangan besar di depan Pandji melenyapkan tubuh Biantara dari pandangan mata normal, tapi tetap auranya terdeteksi di depan, tidak jauh dari Pandji berdiri.


Bian sedang merapal mantra untuk mengendalikan iblis yang sudah menyatu dengan tubuhnya.


Suhu mulai turun, kabut yang melingkupi arena mengubah kondisi dari normal menjadi jauh lebih dingin membekukan tulang. Menciptakan dunia baru yang hanya terjadi di dalam arena pertandingan.


Pandji bersuara datar, "Baiklah, tadi gelap … sekarang gelap dan dingin. Apa aku sudah boleh menyerang? Kau lama sekali membaca mantranya, Bian!"


Tak menunggu jawaban, Pandji mengalirkan mana sihir dalam jumlah besar ke dalam pedang kembar dan melompat ke depan, ke arah makhluk besar yang menyeringai padanya.


Sabetan pedang pandji ditangkis oleh cakar besar serupa belati yang sedikit melengkung ke dalam.


KLANG!!!


Pandji berguling untuk mencari celah, tapi tebasan di kaki makhluk hitam hanya mengenai tempat kosong. Makhluk itu menghilang, dan seketika muncul di belakang Pandji dengan cakar yang hendak merobek punggung.


Merasakan aura jahat ada di belakangnya, Pandji berbalik dengan cepat dan membuat tangkisan dengan pedangnya yang memijar merah.


Makhluk itu meraung karena kehilangan beberapa jarinya, tapi tak diberi kesempatan untuk menghilangkan diri. Pandji merangsak maju dengan liukan dua pedangnya yang mengarah ke perut dan dada.


Dalam waktu singkat, tubuh makhluk hitam sudah dipenuhi luka sabetan pedang. Cairan hitam keluar dan membanjiri lantai arena.


"Giliranmu, Damar!" teriak Pandji seraya melesat cepat mendekati makhluk itu lagi.


Pandji melompat dan memenggal kepala makhluk yang sedang memamerkan taring dan siap mencabiknya, pedang dengan pendar biru memapras tepat dibawah dagu si monster.


Kepala dengan taring mencuat terlepas dan jatuh dramatis di dekat kaki Pandji, meledak menjadi serpihan debu halus dan menghilang bersama tubuhnya. Diikuti juga dengan menipisnya semua kabut hitam yang menutupi arena.


Pandji menyeringai jenaka pada Biantara yang sedang memegang dadanya, "Habis gelap terbitlah terang. Habis perewangan habis juga Si Bian …."

__ADS_1


UHUK!!!


Suara batuk Biantara yang sedang muntah darah menghentikan serangan Pandji, sekali lagi dia ingat bahwa turnamen ini adalah pertandingan persahabatan antar kesatrian. Dia tidak mungkin menghilangkan nyawa peserta dan mencemarkan nama baik keluarga dan kesatrian miliknya.


"Apa kau menyerah?" Pandji masih menunggu Biantara yang sibuk dengan darah yang masih keluar dari hidung dan menetes jatuh membasahi bajunya.


Pakde Noto hampir menghentikan pertandingan tapi Biantara mengangkat kedua pedang pendeknya dan berteriak lantang, "Aku belum kalah!"


Pandji menyeringai dingin, "Baiklah, jangan menyesal jika wajah tampanmu itu terkoyak lagi oleh pedangku!"


Biantara terbakar amarah, dua pedang pendeknya menyabet tanpa aturan ke arah Pandji. Aura membunuh yang sangat besar keluar dari tubuhnya.


"Apa maksudmu Bian, kau berniat membunuhku?" tanya Pandji di sela-sela menghindari tebasan dan tusukan pedang Bian.


Bian mendapatkan momen menendang perut Pandji, "Matilah kau, Bocah!"


Tendangan ganas Bian disambut dan ditangkis dengan gagang pedang dengan keras, suara tulang berderak retak dan lolongan Bian memenuhi seluruh area.


Bian menahan tubuhnya dengan pedang agar tidak jatuh terguling, dengan sisa tenaganya dia kembali berdiri dan melesat cepat menyerang Pandji.


TRANG!!! TRANG!!! TRANG!!!


Pandji menangkis semua serangan Bian dengan gesit, meski pakaiannya terkoyak di beberapa tempat tapi tidak ada luka gores sedikitpun pada tubuhnya. Pedang Bian sama sekali tidak menyentuh kulit putih yang diwarisi dari Ibundanya.


Sebenarnya aku masih ingin bermain, tapi aku masih punya hati untuk tidak menyiksanya lebih lama! Kita selesaikan sekarang saja Damar! Asih!


Dari bertahan, Pandji merubah gerakannya menjadi menyerang dari berbagai sudut. Bian yang sudah kehilangan perewangan dan tenaga dalam tak mampu lagi membendung serangan dengan baik.


Celah yang banyak terbuka membuat pedang Pandji banyak menggoreskan luka di tubuh Biantara, tapi sikap tidak menyerah Bian membuat Pandji kesal dan terus menghajarnya hingga kedua pedang pendeknya akhirnya jatuh ke lantai.

__ADS_1


Bian kehilangan kesadaran karena mengeluarkan banyak darah, tapi hebatnya sama sekali tidak menyerah hingga tidak mampu lagi melawan Pandji.


Pakde Noto melambaikan tangan pada para medis untuk menurunkan Bian dan membawanya ke rumah sakit, tak lama nama Pandji dikumandangkan sebagai pemenang sekaligus juara turnamen tahunan.


Pandji menerima penghargaan dengan wajah datar dan senyum dipaksakan, dia turun dan menemui kedua orang tuanya untuk menyerahkan semua yang baru saja diterimanya dari atas arena.


"Pakde Noto sebentar lagi pasti akan sangat sibuk, kemenanganmu akan membuat Putra Ganendra dibanjiri murid baru," ujar Ayah Pandji bangga.


“Apa Pandji boleh libur latihan, Ayah?”


Wajah Pandji stagnan merasakan sesuatu sangat tidak nyaman tiba-tiba menghampiri dirinya. Hatinya berdebar hanya karena aura aneh tidak kentara yang merayap di udara sekitarnya.


"Ehm … baiklah." Ayah Pandji menjawab dengan gumaman lirih. Ekor matanya mengikuti kemana arah putra sulungnya menatap.


"Bukankah itu Paman Candi, Ayah? Siapa wanita bercadar yang sedang bersamanya? Itu … bukan Tante Risa!"


Ayah pandji menghela nafas berat dan menghembuskannya perlahan saat melihat orang yang disebutkan Pandji menghilang keluar kesatrian. "Mungkin wanita itu … gurunya yang sekarang!"


***


...Suka tidak suka, hari Senin tetap sama dengan hari lainnya....


...Tetap 24 jam....


...Thanks untuk like, komentar, hadiah dan vote untuk Pandji....


...Selamat beraktifitas teman-teman. Jangan lupa puasa Senin Kamis! 🤭...


...Cium jauh ~ Al...

__ADS_1


__ADS_2