
Badrika mengedarkan mata ke seantero area rumah Pandji yang sudah porak-poranda karena jadi arena tempur dadakan.
Wajah pemuda yang berhadapan dengan Pandji itu mengeras, tidak ada yang tersisa selain dirinya dan separuh pasukan kelas rendahnya.
Dia tidak sempat melihat semua pertarungan karena Pandji terus menghalangi pergerakannya. Bahkan ketika Andara melolong kehilangan nyawa, juga ketika iblis yang merasuk dalam tubuh wanita itu lebur jadi abu … Badrika tetap tidak bisa berbuat apa-apa.
Begitu pula dengan tiga panglima chimera yang hancur jadi debu tanpa sempat dibantu sedikitpun olehnya.
Badrika mendengus kesal, menatap Pandji dengan aura pembunuh yang meluap-luap.
Bagaimana tidak? Bukan hanya teman manusia Pandji yang ikut bertempur, tapi ada beberapa makhluk gaib yang ikut andil menghabisi pasukan iblisnya. Yaitu empat maung dan satu macan bertanduk yang juga dikenalnya sebagai tunggangan ksatria iblis di alam kegelapan.
Badrika sadari, sebuah kejayaan memang butuh banyak pengorbanan. Kaumnya sendiri ibarat penjajah di tanah harapan, bisa kalah jadi arang bisa juga menang dan menjadi penguasa baru di wilayah jajahan.
Hal seperti itu adalah resiko yang sudah pangeran iblis pikirkan jika dia ingin menjadi berguna untuk klannya. Jika dia ingin menyediakan tempat tinggal baru yang masih begitu luas di dunia manusia.
Tapi, mati konyol jelas bukan cita-cita makhluk penghuni tubuh Badrika. Melihat setengah pasukannya dibantai, seringainya tidak lagi sama dengan sebelumnya.
"Memikirkan jalan kabur?" tanya Pandji dingin. Perubahan ekspresi Badrika dan arah pandang matanya begitu kentara bagi Pandji.
__ADS_1
Pemuda yang sudah menguras tenaga untuk menahan kekuatan pangeran iblis itu menyeringai dan mencemooh sinis karena Badrika tidak menjawab pertanyaannya.
Mata Badrika masih terpaku pada barion hitam yang sedang menggigit dan merobek leher salah satu pasukannya hingga putus.
Satu, dua dan terus saja bertambah banyak jumlah bawahannya yang hilang dari pandangan Badrika. Alisnya hampir bertaut dan wajahnya mulai mengisyaratkan kekhawatiran.
"Kalian terkurung kubah raksasa di sini. Kau dan pasukanmu tidak akan bisa melarikan diri dengan mudah!"
"Aku juga tidak begitu bodoh, Bocah! Asal kau tau saja, apa yang sudah teman wanitamu lakukan pada perempuan bercadar itu pasti berbuntut panjang … kau tidak tahu siapa yang berdiri di belakangnya!" kata Badrika menggertak balik.
"Sejujurnya aku tidak peduli," tukas Pandji dengan ekspresi bosan. "Bagiku yang namanya iblis tidak akan ada bedanya meskipun memiliki rupa dan bentuk berbeda. Iblis dimana-mana ya tetap iblis!"
Satu petir berkekuatan besar menyambar Pandji. Barrier sihir yang dipakai Pandji untuk melindungi dirinya hancur, menghempaskan dirinya hingga menabrak pagar rumah.
Pandji mendengus, punggungnya serasa patah dan kepala bagian belakangnya berdenyut sakit. Makin sakit hati karena jumlah kerusakan di rumahnya bertambah banyak seiring lamanya waktu dia bertarung dengan Badrika.
Jika aku harus membangun ulang semua ini … oh no, no, no! Aku tidak akan mengeluarkan uang untuk kerusakan yang ditimbulkan Badrika. Aku akan minta ganti rugi pada Paman Candika dan Tante Risa. Mereka bangsawan kaya raya!
Pandji bangun dengan cepat, kepalanya masih pusing dan pijakan kakinya tidak begitu mantap. Tapi Pandji tetap melompat maju menerjang Badrika, karena setiap kali selesai dengan satu petir besarnya, Badrika butuh waktu untuk mengatur kembali tenaganya.
__ADS_1
"Giliranku," gumam Pandji merapal mantra sihirnya.
Udara panas dan dingin diciptakan Pandji dari putaran dua pedang hitamnya. Membakar dan membekukan udara di samping tubuhnya. Selanjutnya, dua udara itu didorong keras ke arah Badrika dalam dua tebasan beruntun.
Angin panas memburu Badrika seperti ribuan pisau yang baru saja keluar dari api pembakaran, merobek pakaian dan menggores kulit Badrika. Sedangkan angin dingin di bawah titik normal membuat darah Badrika membeku seketika.
"Bocah sialan ini," rutuk Badrika dengan gigi bergemeletuk menahan dingin.
Badrika kembali merapal mantra dan berusaha lepas. Namun, Pandji tidak memberi ampun … petir merah ganendra miliknya menyambar tepat di atas kepala Badrika.
Tubuh badrika kejang sesaat, mata nyalangnya menatap langit sebelum meraung dengan sangat keras. Tak lama, Desis kecil keluar dari bibirnya yang setengah terbuka, memanggil satu nama yang tidak dipahami Pandji. "Nergal, aku butuh bantuanmu!"
Gumpalan kabut hitam di bawah bulan mendadak pecah, terbang cepat seperti tersapu beliung dan menghilang di langit timur, berganti dengan suara guntur yang sangat besar. Hujan turun dengan deras dan badai angin datang mengiringi malam.
Alam seperti mendengar keluhan pangeran iblis dari dunia kegelapan yang bernama Levron. Makhluk kuat calon pemimpin yang menempati tubuh Badrika itu merapal mantra khusus untuk memberitahukan keadaannya.
Lalu, seseorang atau mungkin lebih … telah membuka beberapa portal kecil lainnya dan menyeberangkan Nergal beserta pasukan besarnya.
***
__ADS_1