
Pandji masih tak habis pikir dengan acara makan siang di rumah Paman Candika. Alasan Tante Risa sudah masak banyak dan khusus untuk menyambut kesembuhan Pandji dianggap terlalu mengada-ada.
Hatinya memberontak ingin menolak acara yang dinilai tak banyak berguna, Pandji ingin segera sampai rumah dan tidur di kamarnya.
"Boleh Pandji bertanya, Ayah?"
"Tentu saja," jawab Ayahanda Pandji kalem.
"Ayah tidak bermaksud menjodohkan Pandji dengan putri Paman Candi kan?" tanya Pandji was-was.
"Tidak."
"Lalu apa tujuan kita makan istimewa di sana, Ayah? Apa ini sangat mendesak hingga dari rumah sakit kita tidak pulang dulu?"
Menghembuskan nafas perlahan, Ayah Pandji melirik putranya sebentar sebelum menjawab, "Lumayan mendesak … jalan pulang kita juga tidak searah, jadi sekalian saja mampir."
"Ehm … jika bukan mengenai perjodohan, apa ini mengenai sihir hitam milik Hargo Baratan?" tebak Pandji dengan dua alis hampir bertaut.
Ayah Pandji hanya mengedikkan bahu dan menjawab malas, "Bisa dibilang begitu. Ayah belum memastikan kebenaran ucapan pemilik kesatrian."
"Apa Paman Candi sengaja datang ke rumah sakit untuk bertemu Pandji?"
"Ya," sahut Ayahnya cepat.
__ADS_1
Pandji merenung sejenak sebelum kembali bertanya lagi, belum ada satupun jawaban Ayahnya yang bisa memuaskan rasa penasaran yang bercokol dalam kepala Pandji.
"Apa kedatangan kita ada hubungannya dengan muridnya Paman Candi yang bernama Biantara?"
"Hm … kita akan membahasnya nanti setelah makan, simpan rasa penasaranmu, Mas!"
Pandji mendengus kesal, mengambil sebungkus keripik singkong dan mengunyah dengan enggan. Dia tidak lagi bicara selama perjalanan hingga sampai rumah teman Ayahnya.
Mengulas senyum lebar, Pandji menerima pelukan Tante Risa. Menurut Pandji, Istri Paman Candi masih saja terlihat muda biarpun sudah melahirkan anak lima.
Tapi kalau soal cantik, tetap saja Ibunda Selia menempati urutan pertama.
"Wah … lama nggak ketemu, Mas Pandji kok tambah tinggi," sambut Tante Risa dengan mata berbinar.
"Iya, tapi nggak tambah berat badan alias tambah kurus." Pandji celingukan mencari teman mengobrol. Gia menghilang saat bertemu salah satu anak Tante Risa yang jadi teman sekolahnya. "Badrika kemana, Tante?"
"Badrika sedang keluar … kita makan aja dulu yuk! Tante udah masak banyak, semua menu vegetarian. Kita makan sehat hari ini, biar sakti kayak Mas Pandji," ajak Tante Risa dengan tawa renyah.
Menaikkan dua alisnya, Pandji tertawa ringan. “Yang sakti itu Paman Candi, Tante. Sayangnya Badrika nggak ikut turnamen, kalau ikut pasti dia juara tahun ini!”
Pandji melihat sekilas perubahan raut Ibunda Badrika menjadi sendu, tapi segera ditutupi dengan senyum tulus. "Mungkin tahun depan, dia juga susah disuruh ikut kegiatan seperti itu."
Obrolan di meja makan didominasi oleh Tante Risa dan Ibunda Pandji, membahas menu harian dan anak. Pandji hanya diam mendengarkan tak acuh dan makan dengan tenang.
__ADS_1
Dia baru mengangkat kepalanya saat Paman Candi menyebut namanya, "Mas Pandji mau nambah? Makan yang banyak biar agak berisi!"
Pandji mengangguk sekilas, merasakan keramahan Paman Candi dan tante Risa sudah biasa di rumah itu. Satu hal yang dirasanya tak ramah adalah adanya aura lain di dalam rumah.
Aura yang sama yang dirasakan Pandji di saat terakhir acara turnamen, aura aneh yang juga dibawa wanita cantik saat mengunjunginya lewat mimpi.
"Apa ada tamu lain di rumah ini selain kami, Paman?" tanya Pandji tanpa mengedipkan mata saat menatap pria yang juga menatapnya dengan senyum masam.
"Uhuk …." Ayah Pandji kembali menutup mulut karena istrinya sudah hendak bicara.
"Mas Pandji … itu tidak sopan! Bukan urusan kita untuk tau siapa tamu Paman Candika dan Tante Risa," tegur Ibunda Pandji lembut tanpa tekanan.
"Maaf …," lirih Pandji menundukkan wajahnya dan kembali makan dengan pikiran ruwet.
Paman Candi yang memahami rasa penasaran Pandji segera menjawab, “Setelah ini Mas Pandji ikut ke belakang ya! Paman Candi dan Tante Risa mengundang Mas Pandji memang untuk bertemu tamu itu!"
Pandji terperangah, menatap Ayahnya dengan pandangan bertanya. Dia baru mengangguk menyetujui setelah kedua orang tuanya tersenyum setuju.
Tangan Pandji secara reflek mengusap dada setelah menyelesaikan makannya.
Ada apa dengan jantungku … ini jelas bukan deg-degan karena jatuh cinta!
***
__ADS_1
...Silakan teman-teman bergabung dalam Grup Chat Al untuk silaturahmi dengan sesama reader/author....
...Thanks - Al ...