SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 39


__ADS_3

Pandji menyeruput kopinya perlahan, duduk termenung dan mengatur fokus. Matanya mulai terpejam dan nafasnya teratur, dia hanya ingin lebih mengenali perbedaan aura di sekitarnya.


Jika dilihat dengan mata biasa tidak bisa, dilihat dan dirasakan dengan mata batin pasti lebih mengena.


Udara dingin yang tak biasa, tekanan hawa gelap dan jahat yang membuat gelisah dan cemas tanpa sebab, rasa sesak di dada, nafas menjadi lebih berat dan seperti ada jarum yang menusuk lalu menimbulkan nyeri sekilas.


Semua itu dimulai dengan bulu kuduk yang meremang, deteksi spontan dari tubuh karena kehadiran sesuatu.


Tentu saja hal seperti itu hanya berlaku bagi orang yang memiliki sensitivitas terhadap makhluk astral.


Pandji menghembuskan nafas berat, mulai membandingkan aura kekuningan milik orang yang masih hidup normal, sangat besar dan meluap-luap seperti milik Ayahnya.


"Disadari atau tidak, ada rasa takut yang disebarkan keluarga Biantara di area kita, Ayah!" ucap Pandji malas.


"Tetangga kita yang merasa takut tanpa mengerti alasannya sebenarnya hanya tak sengaja mendeteksi aura gelap yang sangat pekat, tapi tidak tau asalnya dari mana," timpal Ayah Pandji kalem.


"Pandji merasakan aliran mana Ayah di udara juga makin kuat melapisi kubah pelindung rumah kita."


Ayah Pandji ikut menatap ke arah selatan, "Keluarga kita sensitif terhadap hal seperti itu, jika tidak memasang pelindung ... tidak ada yang akan bisa tidur saat malam.

__ADS_1


Ayah agak khawatir, iblis cantik yang mendatangimu akan mewujudkan diri dalam berbagai bentuk untuk mempengaruhi. Sebaiknya Mas Pandji lebih berhati-hati dan peka terhadap kehadirannya.


Dia bisa menempel pada siapa saja yang lengah untuk mendapatkan wadah yang bagus, tubuhmu!"


Pandji menyimpan resahnya, mengingat bagaimana Elok begitu mudah dikendalikan oleh mantra Biantara dan makhluk asing dalam tubuhnya.


Dia memikirkan Ratna dan Atika, dua orang yang juga dekat dengannya itu sudah dilihat Biantara. Mungkin itu berbahaya, tapi Pandji tidak bisa memastikannya.


Mika tak diperhitungkan oleh Pandji, selain memiliki kekuatan alami, Mika mudah menyadari jika ada hal aneh terjadi pada tubuhnya.


Membayangkan digoda oleh Ratna membuat kepala Pandji pusing, dia menggaruk rambutnya dan menyeringai pada ayahnya. “Ehm … iya, Ayah. Pandji akan berhati-hati. Apakah masuk ke dalam tubuh manusia adalah bentuk penyamaran, Ayah?"


Kenapa orang seperti Mas Pandji yang mereka inginkan? Karena kekuatan besar itu butuh wadah yang bagus untuk bisa berjalan di siang hari, menjadi penguasa sempurna di bawah sinar matahari.


Sang Pemimpin sedang menginginkan tubuh baru, tubuh anak yang lahir pada hari yang orang Jawa kuno sebut sebagai hari kejayaan setan …."


Sedikit terkejut, Pandji bertanya, "Jadi Pandji lahir di hari itu?"


Meski tak seberapa paham dengan logika yang dipaparkan ayahnya tapi Pandji mengerti situasi sedang tidak baik. Apalagi Ayahnya mengangguk membenarkan pertanyaannya.

__ADS_1


Ada dunia baru yang sedang dibangun di sekitarnya, dan teramat dekat dengan dirinya.


Mulai dari tetangganya, Biantara lalu Paman Candika yang juga dikenal baik oleh keluarganya, Elok yang notabene teman kecilnya dan bisa jadi akan makin mendekati orang yang setiap hari berinteraksi dengannya.


Mungkin orang yang tinggal di rumahnya adalah target berikutnya.


Mendatangi rumah Pandji dalam bentuk astral jelas terhalang oleh rangket pelindung rumah. Jadi bersemayam dalam tubuh orang adalah cara iblis paling aman untuk masuk wilayah pribadi keluarga Pandji.


Alasan itu juga yang dipakai wanita cantik yang datang lewat mimpi Pandji, karena mimpi adalah jalur aman untuk bertemu Pandji tanpa diketahui siapapun, kecuali Ayahnya.


Si penjelajah mimpi yang sudah lama tidak memanfaatkan kemampuannya karena dianggap tidak banyak berguna.


“Bagaimana Ayah tau kalau wanita itu akan datang lewat mimpi Pandji?”


“Karena tidak ada jalan lain dia bisa masuk rumah ini dalam bentuk aslinya, lagian dia ingin bertemu secara pribadi denganmu, ingin mencuri kesempatan dari mata awas Ayah. Jadi … dia memilih menggunakan jalur spesial.”


Pandji mendengus mengingat salah paham yang hampir keterusan karena daya pikat luar biasa dari penggodanya.


Aku yakin di dunia ini tak ada kamera pengawas secanggih Ayahanda!

__ADS_1


***


__ADS_2