
Di halaman belakang, Mika sudah berdiri dengan posisi siap dan wajah serius. Dia mengamati Pandji yang datang dengan gaya malasnya.
Dua pedang di punggung dibawa Pandji dengan sangat terpaksa, dia tidak ingin melawan Mika dengan merendahkan harga dirinya yang sedang ingin sekali mengukur kemampuan.
Pandji baru saja menguap saat Mika sudah berada di depannya dan mengayunkan dua belati secara bersamaan.
"Woi … aku belum siap, Mika!" teriak Pandji melompat ke samping dan menjauh mengatur jarak.
Mika mendengus tak peduli, "Musuh menyerang tanpa menunggu kamu siap!"
"Hm … baiklah, tapi kita bukan musuh. Apa kau ingin melukai adikmu yang tampan ini?"
Mika tergelak, "Sejak kapan kamu jadi adikku? Aku belum pernah mendengar kamu memanggilku 'kak' sejak lima tahun lalu."
Dengan kecepatan tinggi Mika sudah berpindah tempat menyerang leher belakang Pandji.
Merasakan energi panas di dekat lehernya, Pandji merundukkan kepala dan menghantam Mika dengan sikunya. "Maaf, itu tak sengaja terlalu keras!"
Mika tersenyum masam, setengahnya meringis menahan sakit. "Bagus, kamu mulai serius sekarang, jadi aku tak perlu sungkan!"
Dua belati dengan bilah berwarna merah itu terus mencari sasaran, menusuk menyasar area vital Pandji.
"Eh … kamu serius sekali, Mika. Ini hanya latihan!" seru Pandji yang segera membekukan udara di depannya sebelum belati Mika menusuk batang tenggorokan.
Mika menjerit karena belatinya menabrak dinding tak kasat dan merobohkannya tanpa sedikitpun menyentuh pemuda yang justru menyeringai jenaka, "Pandji … kamu tidak boleh menggunakan sihir!"
"Kamu tidak bisa menyuruh musuhmu untuk melawan hanya dengan tangan kosong atau memakai senjata pusaka, Mika!" timpal Pandji enteng.
Menggertakkan gigi gerahamnya, Mika kembali menyerang dengan brutal, "Baiklah, aku akan lebih serius lagi."
Melihat mata Mika berkilat merah, Pandji menyeringai dan bergumam pada roh pusaka miliknya. "Asih … kau sungguh mau melawan energimu sendiri?"
__ADS_1
" … " Asih Jati tak menjawab, tapi pedang hitam bergagang motif emas itu memijar seperti lava saat Pandji mengeluarkan dari sarungnya.
Pandji membuat tangkisan beruntun pada belati yang menderu menyerang tak tentu arah di seluruh tubuhnya.
KLANG!!! KLANG!!! KLANG!!!
Bunyi logam memekakkan telinga ketika dua pusaka dengan energi panas yang sama berbenturan. Udara malam yang dingin lebih cepat menjadi hangat dan akhirnya berubah panas.
Pandji terus bertahan tanpa melakukan serangan, mengimbangi semua gerakan cepat Mika hingga gadis cantik di depannya marah dan emosional.
"Serang aku Pandji!" teriak Mika seraya menyabetkan belatinya ke bahu Pandji yang bercelah sedikit. Ujung bilahnya menggores hingga lengan atas dan menimbulkan tetesan darah di baju dan mulai membasahinya.
"Not bad, Sista!" ujar Pandji melirik lukanya lalu menaikkan satu alisnya.
Mika tersenyum meledek, "Itu hanya salam perkenalan, Mas Pandji!"
"Aku suka gayamu," sahut Pandji seraya menyabetkan Asih jati dekat dengan wajah Mika yang pucat karena telat menghindar.
Tapi Pandji yang sengaja hanya menakuti membelokkan sedikit pedangnya hingga hanya mengenai rambut kakaknya.
Pandji menyarungkan pedangnya dan melihat rambut Mika yang sedikit hilang karena terbakar, dia menyeringai tanpa merasa bersalah.
"Suruh siapa tidak menghindar! Jika aku tidak membelokkan arah pedang, mungkin wajahmu yang cantik ini yang terbakar," lirih Pandji mengusap rambut Mika yang masih panas, mengalirkan energi dingin dan meninggalkan Mika tak acuh.
Meski kesal, tak urung wajah Mika memerah karena Pandji memujinya cantik, dia juga puas bisa menunjukkan pada Pandji hasil latihannya selama lima tahun di kesatrian Putra Ganendra.
Sekarang gilirannya mengobati lengan Pandji yang berdarah, Mika segera menyimpan dua belatinya di pinggang dan berlari mengejar Pandji ke dalam rumah.
Pandji membuka kotak obat dan membawanya ke kamar, Mika menyusulnya dan ikut masuk tanpa minta izin lebih dahulu.
"Kamu akan dapat masalah jika Ibunda tau," gumam Pandji melepas bajunya.
__ADS_1
Mika linglung, antara ingin membantu mengobati atau meninggalkan Pandji. Ternyata dalam satu ruangan pribadi dengan pemuda yang dibuntutinya selama lima tahun terakhir membuatnya tak nyaman.
"Aku akan membantu membersihkan lukamu dan segera keluar," ujar Mika pelan. Dia mengambil kapas dan membasahinya dengan cairan antiseptik setelah sebelumnya membersihkan darah di sekitar luka.
Melihat wajah Mika yang sangat dekat dengannya membuat pikiran Pandji rumit, bulu mata gadis di depannya sangat lentik dan menggemaskan saat dibuat berkedip.
Ratna saja tidak akan cukup!
Mika menaburkan obat dan menutup luka Pandji dengan perban. Wajahnya merah hitam melihat Pandji yang menatapnya lembut tanpa ekspresi apapun di wajah.
“Terima kasih, Kak Mika!” ucap Pandji tulus.
Mika pucat, mendadak dia tidak menyukai panggilan yang merentangkan jarak itu. Dia mengangguk ringan dan keluar kamar Pandji dengan enggan.
BLAR!!!
Belum lagi Mika menutup pintu kamar, dia berjingkat kaget dan menatap Pandji penuh tanya.
Kubah pelindung rumah bergetar hebat dan berderak seperti kaca hendak pecah.
BLAR!!!
Kubah lapisan pelindung pertama hancur meninggalkan goncangan kuat di seluruh rumah.
Pandji menatap hujan cahaya merah di atas rumah melalui jendela kamarnya.
Segeralah pulang Ayah!
***
...Happy weekend teman-teman!...
__ADS_1
...Musim hujan belum usai, jangan lupa jaga pasangan!...
...Salam ~ Al ...