
Para penonton mulai berdiskusi dengan rasa penasaran. Pemandangan Biantara yang merasa seperti artis idola di atas arena membuat suara di sekitarnya jadi lebih ramai.
“Apa pertandingan ini memang sengaja diatur? Seperti sebuah kebetulan saja pemuda dari kesatrian tuan rumah mulus melaju ke babak utama!”
“Aku rasa tidak, selain lawan yang dia dapat memang tidak mampu menandinginya … pemuda bernama Pandji itu memiliki keberuntungan yang tinggi!"
"Biantara mungkin tidak akan menjadi juara lagi tahun ini! Aku memang tidak suka dengan karakternya … gayane lho nyebahi, Dab!" (Gayanya menyebalkan, Mas!)
"Yeah, aku juga tidak memasang taruhan untuk Bian tahun ini. Dan sepertinya aku akan menang banyak karena progres kemenangan Pandji ada di depan mata!"
"Belum tentu … Biantara masih punya peluang menang!"
Suara berisik tidak lepas dari area penonton yang mulai tegang.
Getar pada lantai karena benturan energi tak mengganggu mereka yang sibuk memperhatikan jagoan masing-masing.
Dibandingkan semua penonton, yang paling tidak tenang adalah guru Biantara.
Duduk bersebelahan dengan Ayah Pandji, Paman Candika beberapa kali mendongak dan berkomat kamit entah membaca apa, mungkin mantra.
Mantan murid Ayah Pandji itu tidak bisa menyimpan kegelisahannya, wajahnya menyiratkan rasa was-was dan bahaya. Sesekali dia melirik ke arah Ayah pandji yang serius mengikuti pertandingan putranya.
"Mas Pandji ternyata garang juga hehehe …," celetuk Paman Candika sambil tertawa khawatir.
Melihat sekilas ke arah mantan muridnya, Ayah Pandji menimpali santai, "Masih terlalu emosional, tidak bagus tapi tidak terlalu buruk!"
__ADS_1
TRANG!!! TRANG!!! TRANG!!!
Kedua pedang kembali bertemu menimbulkan suara keras dan gelombang kejut udara di arena. Hembusan angin keras menghantam Bian dan mengoyak sedikit baju yang dipakainya.
Tangan Biantara kebas, "Pusaka yang bagus, Abisatya!".
Bian mau tak mau harus mengakui kalau dua pedang milik Pandji bukan pusaka biasa. Pedang pendeknya juga bukan pusaka biasa, sayangnya secara kualitas masih di bawah pedang kembar berwarna hitam milik lawannya.
Pandji hanya mengangkat kedua alis, tak menanggapi ucapan Bian. Dia fokus menyerang dengan tebasan dan sabetannya. Pandji lebih senang bisa memotong Bian jadi dua secepatnya, soal ngobrol di arena dia lebih memilih mendiamkan Biantara.
BAM!!!
Siku Pandji telak menghantam dada Bian. Terdorong mundur beberapa langkah, Bian cepat menguasai diri.
Salah satu pedang pendeknya yang dipakai untuk menangkis harus direlakan cacat, cuilan logam itu jatuh dekat wasit. Bajunya makin robek di beberapa tempat karena angin yang sangat deras.
Bian menggertakkan giginya, menyumpah dalam hati.
Bocah sialan ini! Pedangku hampir patah karenanya!
Sabetan berikutnya tak kalah sadis, pedang pendar biru sedingin es milik Pandji menggores wajah Bian menyilang dari alis kiri hingga pipi kanan.
Wajah tampan Bian mengeluarkan darah segar yang menetes perlahan pada lantai arena.
Pandji memutar pedangnya dan menambah kecepatan gerakan, Bian yang tak siap dengan serangan Pandji kembali harus terluka di bahu kanan. Rasa panas terbakar segera mengalir ke jantung dan hampir membuatnya pingsan.
__ADS_1
Dengan wajah dingin Pandji berucap pelan, "Sebaiknya kau mengaku kalah saja, Bian!"
"Jangan mimpi, Bocil!" Bian melesat, bukan lurus ke arah Pandji, tapi memutari arena pertandingan.
Tujuh lubang tubuh di kepalanya mengeluarkan kabut hitam yang makin lama makin pekat dan menyebar di seluruh arena.
Biantara terlihat seperti bayangan yang berkelebat cepat mengelilingi Pandji dari jarak aman, tak lama kabut hitam yang dikeluarkannya sudah memenuhi arena, menenggelamkan tubuh Bian dan Pandji di dalamnya.
Pandji fokus pada Bian, sihir gelapnya mulai bekerja menutup pandangan penonton. Mereka tidak akan tahu apa yang sebenarnya terjadi di arena yang suram karena terselubung kabut hitam.
Tubuh Bian berdiri dibayangi oleh monster besar yang sangat mengerikan di belakangnya, membuat pandji harus sedikit mendongak jika ingin melihat wajah buruknya.
Aura jahat meluap, mana sihir hitam milik Bian menggantung di udara sekitar, menekan aura dan energi Pandji.
Kegelapan abadi mendatangi Pandji bagai sulur tanaman besar yang siap membelit dan memakan tubuh kurus yang sedang membentangkan kedua pedang sihirnya.
"Damar! Asih! Pertunjukan sesungguhnya sudah dimulai …."
"Sendiko dawuh, Mas Pandji!"
Suara lolongan panjang mencekam di dalam arena, para penonton sibuk mengerahkan tenaga dalam ingin melihat dalam kabut, meskipun semua itu sia-sia.
Hanya beberapa guru spiritual yang berkemampuan tinggi yang bisa melihat pertarungan Biantara dan Pandji di dalam gelapnya arena.
***
__ADS_1