SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 141


__ADS_3

Ayah Pandji dan Mas Gun kembali terlibat pertarungan sengit. Ledakan keras kerap terjadi saat dua energi berbenturan, angin terhempas ke segala arah dari adu pusaka yang mereka lakukan.


Masih mengandalkan trisula naga kembar yang notabene dulunya milik Pakde Karman, Ayah Pandji terus mendesak Mas Gun dalam posisi bertahan. Pertarungan serius berlangsung selama beberapa saat tanpa ada yang terluka satupun.


Ayah Pandji tidak bisa dibilang lebih unggul karena dalam kondisi terdesak, Mas Gun masih mampu menyelamatkan anggota tubuhnya yang jadi incaran trisulanya.


"Bahkan kau dengan tidak tau malu menggunakan pusaka milik ayahku," ujar Mas Gun dengan nada jijik, hatinya tercabik melihat pusaka yang dulunya memberikan kejayaan pada leluhurnya sekarang ada di tangan orang yang paling ingin dibunuhnya.


“Kau bisa merebutnya dariku, Pak Tua!” Ayah Pandji menjawab ringan seraya mengayunkan trisulanya ke arah kepala Mas Gun. Satu serangan mematikan.


Pria tua itu melompat mundur menghindar tepat waktu sehingga pusaka Ayah Pandji menebas tempat kosong. Mas Gun lengsung memberi kode kepada tiga temannya untuk bergantian menyerang sementara dia mengatur ulang nafas dan tenaga.


Serangan tangan kosong dari paranormal termuda mengandung tenaga dalam tinggi, memberikan gelombang kejut cukup besar ketika Ayah Pandji menangkis dengan tapaknya yang berlumuran darah. Dua tenaga dalam beradu singkat lalu keduanya termundur bersamaan.


Hasilnya, seluruh tangan Ayah Pandji seperti tertusuk ribuan jarum panas dan darah dari luka yang sudah ada mengalir lebih deras. Keseimbangannya sedikit goyah dan pijakan kakinya tidak membentuk kuda-kuda siaga.


"Itu balasan untuk tiga temanku!" Paranormal termuda berbicara sambil memburu Ayah Pandji dengan serangan susulan, mengikis jarak dan mendesak dengan cepat.

__ADS_1


Kombinasi serangan yang dilakukan secara bergantian oleh tiga paranormal membuat Ayah Pandji menjadi tidak sabar saat bertahan. Dia sudah kehilangan banyak darah dan rasa nyeri mulai menyerang lengannya yang memiliki luka terbuka dengan dahsyat.


Ayah Pandji benar-benar tidak diberi kesempatan untuk bernafas apalagi meminum kapsul penyembuh, dia dikepung dan didesak terus menerus dengan serangan mematikan. Setiap organ tubuh Ayah Pandji mendapatkan pukulan yang keras, dada berdenyut dan dia kini berjuang sekuat tenaga untuk tidak menumpahkan darah dari mulut.


BLAR!!!


Trisula naga kembar Ayah Pandji menghantam keras keris tipis milik paranormal berkulit hitam yang dipanggil dengan nama Ki Tomo. Keris tersebut patah jadi dua bagian yang sama panjang dan pemiliknya terlempar beberapa meter tanpa bisa bangun lagi.


Ki Tomo jatuh terlentang dan tidak berhenti muntah darah, tekanan energi yang masuk ke dalam tubuhnya memecahkan pembuluh darah dan memutus urat saraf. Hanya dalam waktu beberapa menit saja Ki Tomo sudah kejang-kejang dan memasuki fase kehilangan kesadaran. Siap meregang nyawa.


Melihat situasi sedikit kendur, Ayah Pandji melompat mundur untuk mengatur nafas. Kaki Ayah Pandji juga bergetar saat menopang tubuh, aliran mana dalam tubuhnya kacau dan sakit hebat mendera bagian kepala. Pandangan mata mulai buram ketika satu tangan Ayah Pandji mengambil dua kapsul penyembuh tingkat tinggi dan menelannya dengan ekspresi tegang.


Butuh waktu sekitar satu menit bagi Ayah Pandji untuk kembali bisa menguasai diri. Nafasnya mulai teratur dan luka lengannya tidak lagi mengeluarkan darah, kondisi tubuh membaik dan penglihatannya kembali stabil.


"Aku patut berterima kasih padamu, Diajeng! Ramuan racikan mu sungguh bisa jadi penyelamat darurat," gumam Ayah Pandji pada dirinya sendiri. Dia mendadak tersenyum simpul mengingat istri cantiknya.


Sementara Mas Gun sibuk dengan jasad Ki Tomo, Ayah Pandji sudah bersiaga dan kembali memburu dua paranormal yang juga sedang mempersempit jarak dengannya. Mereka kembali bertukar serangan dengan serius hingga beberapa waktu yang cukup lama.

__ADS_1


"Firasatku memburuk!" bisik paranormal tua pada temannya. Dengan sisa kekuatan dia menerjang lebih dulu mencari celah lengah Ayah Pandji.


Pertarungan tiga orang tersebut hampir imbang, tapi Ayah Pandji mendapatkan kesempatan emas menusuk perut paranormal tua yang terlambat bergerak menghindar. Trisula naga kembar berbilah tiga itu menancap menembus punggung.


"Mungkin firasat buruk itu adalah kematian," ucap Ayah Pandji terdengar dingin.


"Arrrgghhh …!" Tubuh renta si paranormal limbung saat trisula tajam itu dicabut paksa. Kaki Ayah Pandji menendang bekas tusukan hingga tubuh tua paranormal tersungkur dan berhenti bergerak seketika.


"Baji … ngan!" Raungan marah paranormal termuda disambut Ayah Pandji dengan dengan satu tebasan lebar. Trisula naga kembali meminta nyawa, darah mengalir deras dari urat leher paranormal yang putus karena salah langkah saat menyerang.


Tubuh gempal tersebut berdebam mencium tanah, kejang sesaat lalu diam untuk selamanya meninggalkan bau anyir di sekitarnya. Ayah Pandji melihat pemandangan tersebut dengan ekspresi kasihan.


“Brengsek sialan tak berperasaan!” sumpah serapah Mas Gun mengikuti gerakan kerisnya yang mengalun tajam ke arah jantung Ayah Pandji. Aura pekat pembunuh meruap dari tubuh yang dikuasai amarah dan kesedihan.


Ayah Pandji mengedikkan bahu dan tersenyum masam, "Bukan salahku!"


***

__ADS_1


__ADS_2