SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 171


__ADS_3

Pandji merasa rumit dan dilema, Mpu Sapta adalah orang biasa yang kesaktiannya terpusat untuk membuat pusaka. Beban untuk bertarung dengan ribuan iblis ada di pundaknya, sementara Mika ….


"Jangan suruh aku pergi dari sini! Aku tau kau pasti sedang berpikir agar aku membawa pergi Mpu Sapta dan meninggalkanmu sendiri di sini," desis Mika penuh ancaman pada Pandji.


"Ehm … aku tidak sendirian, Mika. Ada Damar dan Asih yang akan membantuku mengurus amukan para iblis, aku berharap kau bisa lari ke hutan hitam bersama Mpu Sapta dan menyeberang pulang dengan menunggang barion. Aku bisa memanggil black kesini untuk kau gunakan lolos dari perang ini!" jelas Pandji tegas.


"Stop! Aku tidak menerima pengaturan yang seperti itu, aku penjagamu dan seterusnya akan seperti itu!" Mika menggenggam erat dua belatinya dan melirik marah pada Pandji.


Pandji mendengus kesal, "Jangan keras kepala, menjaga Mpu Sapta sama saja dengan menjagaku, dia adalah aset masa depan!" Pandji menutup mulutnya seketika karena Mika melebarkan matanya, melotot sengit.


"Bisa-bisanya kamu malah mikirin itu, Mas!" Mika menggerutu tidak puas, bersiap mengomel panjang dengan merincikan apa saja yang sudah Pandji warisi dari keluarganya.


Namun, Mika tidak memiliki kesempatan karena pasukan iblis yang berada di bawah perintah salah satu pangeran kegelapan sudah bergerak bersiap menyerbu.


Melihat banyaknya iblis yang mulai berkelebat bersamaan, Pandji tidak ingin membuang waktu dengan melayani mereka bertarung satu persatu.


"Bawa Mpu Sapta berlindung di belakangku, Mika!" perintah Pandji dengan nada yang sangat dingin.

__ADS_1


"Aku tidak mau … damn!" Mika memaki dalam hati, tapi tetap tidak bisa menolak kata-kata Pandji yang luar biasa menekan, karena diucapkan dengan bantuan tenaga dalam. Ternyata Pandji sudah mulai memompa mana sihir sebelum Mika mendebatnya.


Aliran udara di sekitar Pandji berdiri, penuh dengan mana campuran yang terus meruap dengan kecepatan dan jumlah lebih dari biasanya. Mika bergidik ngeri, energi gelap Pandji keluar bersama dengan energi alam yang sifatnya murni dari dalam tubuhnya.


Pandji bahkan mengeluarkan hampir seluruh kemampuannya di awal pertarungan.


Awan hitam mengumpul di bawah langit, semakin lama semakin banyak dan meluas, sangat tebal bergumpal seperti mendung yang akan menurunkan hujan.


"Aku butuh bantuan ... Damar, Asih!"


"Sendiko dawuh, Mas Pandji!" Dua suara pria dan wanita bersahutan dalam kepala Pandji.


Dengan satu kali ayunan pedang ke arah pasukan iblis, suara gelegar membahana, terdengar memekak telinga. Pandji menciptakan petir di dalam tornado yang turun ke area tempur dengan cepat. Siap menyapu siapapun dengan gemuruh angin dan petir bersahutan.


Tornado berisi petir yang bergerak sesuai perintah Pandji, menghadang dan menghempas pasukan iblis yang sedang maju ke arahnya dengan kecepatan yang sulit diikuti mata. Membungkus pasukan iblis dalam badai petir biru dan menggulungnya dalam pusaran angin panas yang sangat besar.


Raungan demi raungan pasukan iblis yang hancur dalam tornado tak terelakkan, mencekam suasana malam yang seharusnya sunyi. Dengan kekuatan badai sebesar itu, sepasukan iblis hanya seperti debu yang diterbangkan angin dan menghilang dalam kegelapan.

__ADS_1


Pandji berlari menyongsong ke arah pasukan iblis di sekitar tornado yang masih terus berusaha bergerak menyerang ke arahnya. Dua pedang Pandji mengayun ringan, tapi dengan kekuatan yang dahsyat.


Bukan lagi satu sabetan satu yang terbunuh, tapi dalam satu gerakan tebasan lebar, Pandji mampu menghancurkan minimal dua sampai tiga iblis. Mengubahnya menjadi debu hitam yang mulai memenuhi udara malam.


Pandji tidak sempat berhitung berapa banyak iblis yang terbakar atau membeku dan pecah menjadi butiran hitam seperti salju yang turun di musim dingin. Tekadnya hanya satu saat menyabetkan pedang, keluar dari dunia iblis secepat yang dia bisa.


Mika dalam dilema, antara pergi membantu Pandji atau berdiri di sekitar Mpu Sapta dan melindunginya. Aset yang menurut Pandji lebih berharga dibandingkan dengan nyawanya.


Dengan penuh rasa bangga, Mpu Sapta berbicara dengan Mika. "Aku tidak menyangka kalau Satrio Pamungkas masih sangatlah muda!"


"Bisakah Mpu Sapta sedikit saja menggunakan senjata untuk bertarung?" tanya Mika penuh harap.


"Tidak!" jawab Mpu Sapta tegas, "Tapi aku bisa menundukkan iblis dan hewan spiritual dengan pengasihan, aku bisa membuat pasukan iblis mereka beralih membantu kita meskipun tidak dalam jumlah besar."


"Jadi?" Mika hampir melongo bodoh mendengar pengakuan Mpu Sapta.


"Itu keahlian seorang Mpu yang biasa dipakai untuk mengisi pusaka buatannya. Arahkan saja mereka kemari, kita tidak bisa bertarung di tengah pasukan!"

__ADS_1


***


__ADS_2