
Adik Biantara menatap Mika kosong, tanpa kehidupan di matanya. Tubuhnya melayang turun dan menjejak tanah tanpa suara.
"Aku menginginkanmu, Mika!"
Mika tertawa sinis, "Oh ... romantis sekali, Gentala!"
Tawa pemuda yang berdiri tak jauh dari Mika begitu nyaring, satu tangannya mengulur, "Datanglah padaku, Mika!"
Angin dingin menyapu tubuh Mika dan Pandji. Aliran mantra pemanggil jiwa dihembuskan ke arah gadis cantik yang sedang bersiaga dengan dua belati di tangan.
"Gentala … dengar! Kau tak bisa menggunakan mantra itu untukku, aku tidak berminat bergabung dengan iblis." Menatap sengit pemuda yang berdiri tak jauh di depannya, Mika menyambung kata, "Maaf … kau bukan tipeku!"
Gentala tersenyum canggung, "Jiwamu tak murni sebagai manusia, Mika! Selamanya kau hanya bagian dari roh pusaka yang bergentayangan dari generasi ke generasi.
Aku menawarkan hal yang tak bisa diberikan manusia, Mika. Aku akan membebaskanmu dari sumpah setia sebagai penjaga.
Kau tidak perlu jadi abdi siapapun di dunia ini. Mari berdiri bersamaku dalam jajaran pemimpin yang akan berkuasa di atas manusia.
__ADS_1
Ingatlah … kau bukan manusia biasa, Mika! Tak seharusnya kau menempatkan dirimu di bawah bayang-bayang pemuda itu, pilihan lain ada di depanmu! Bersamaku kau bisa jadi ratu!"
Pandji menguap lebar, memasang wajah bosan dan mengantuk, "Apa masih lama acara lamarannya?"
Mika terkikik geli mendengar kekonyolan Pandji, "Aku sudah memilih jalanku, Gentala! Kau tak perlu repot-repot bernegosiasi, kita sudahi saja bincang-bincang tak berguna ini. Aku yakin kau datang dengan banyak rencana. Jadi jika aku menolak, kau pasti akan marah kan?"
Pandji menaikkan sebelah alis dan menatap Mika jenaka, "Kamu nggak ingin jadi ratu?"
"Ratu iblis?" tanya Mika sewot.
"Kau sudah tau jawabannya kan … siapa namamu tadi, Gentala ya?" tanya Pandji dingin.
Seketika, gelombang udara besar siap menghempaskan Mika dan Pandji yang berada dalam jangkauan Gentala. Angin yang membawa debu dan kerikil bergerak cepat, secepat Pandji yang sudah membekukan udara di sekitarnya.
WUSH!!! WUSH!!!
Badai yang menabrak dinding tak kasat mata di depan Pandji berbelok arah dan memporak porandakan sekitarnya.
__ADS_1
"Mundur, Mika! Yang ada dalam tubuh gentala salah satu panglima … kekuatannya besar dan kamu baru saja sembuh!"
"Biarkan aku mencobanya, aku ingin mengukur kekuatan!" tolak Mika keras kepala.
"Habisi saja pasukannya!" perintah Pandji penuh tekanan. Dia tidak suka dibantah apalagi didebat dengan alasan yang tidak tepat.
Mika membelalakkan mata melihat banyaknya bayangan yang datang dari belakang Gentala.
Iblis dalam rupa terburuk, bukan hanya berbentuk serigala maroz yang berdiri tegak, tapi juga berbentuk manusia berkulit abu-abu dengan sekujur tubuh yang rusak dan berbau busuk.
Pandji menangkap kedua pedangnya yang muncul dari ruang hampa, mengalirkan mana dalam jumlah besar hingga kedua pedang yang semula berwarna hitam itu memijar sesuai elemen sihir yang tersimpan di dalamnya. Merah dan biru.
Mika menyongsong makhluk-makhluk hitam yang mulai melolong menerkam, dua belatinya merobek, menusuk dan menyayat tanpa ampun siapapun yang ada di dekatnya.
Cairan hitam busuk meleleh dari bagian tubuh maroz yang tergores belati Mika, keracunan sesaat lalu makhluk gaib itu mati dengan cepat.
Di sisi lain Pandji berhadapan dengan Gentala, siap mengadu peruntungan dengan kekuatan dan mana sihir yang yang sudah banyak berkurang karena dipakai untuk mengisi empat heksagram buatannya.
__ADS_1
***