
Menurut Damar, jalur yang akan mereka lewati berada di area Gunung Merapi. Pandji memacu barion hitam sesuai arahan Damar dengan wajah serius. Mantra sihir yang dirapalkan mampu membawa raganya dan juga Mika untuk berpindah dimensi saat memasuki gerbang gaib yang pada dasarnya ada dimana-mana meski tidak bisa dideteksi oleh mata normal.
Memasuki wilayah pinggiran hutan pinus di lereng gunung, yang merupakan perbatasan antara dunia manusia dan dunia kegelapan tempat kerajaan iblis, Pandji menarik nafas lebih berat. Dia bukan tidak pernah keluyuran ke alam lain, tapi tempat yang akan dia tuju sungguh berbeda, baik aura maupun tekanannya.
Yang pertama kali Pandji temukan saat mulai menyeberang alam berikutnya adalah jalan setapak yang mengeluarkan cahaya hitam, memperkeruh pandangan yang semula terang menjadi lebih suram.
Pandji menoleh ke kiri dan ke kanan, juga ke belakang untuk memastikan jalan yang dilewatinya sudah benar meskipun yang tampak di matanya hanya kegelapan.
"Mika, menurutmu jalan menuju dunia kematian apa seperti ini?" Pandji bertanya dalam gumaman. Sedikit merasa beruntung ada teman yang diajaknya bicara dari bangsa manusia.
"Konon jalan kematian tidak gelap, tapi penuh dengan cahaya!" bisik Mika menjawab pertanyaan Pandji. Jalan setapak itu memang terasa mencekam, tapi jauh dalam diri Mika mengatakan kalau dia tidak takut. Dia pernah melewati masa tergelap yang jauh lebih buruk dari yang dirasakannya sekarang.
Pandji merasa tubuhnya lebih hangat saat melintasi jalan setapak itu. Sensasi yang aneh dan menggidikkan mulai terasa saat ujung jalan menampakkan lorong besar yang benar-benar gelap tanpa cahaya.
"Apa kita akan tersedot pusaran energi hitam itu, Damar?"
"Betul sekali, kita akan mengikuti arus angin kegelapan menuju hutan hitam." Damar Jati memejamkan mata dan merapal mantra sihir kegelapan untuk membentengi dirinya dan juga Pandji dari tekanan yang mungkin akan sangat menyakitkan saat terjadi lintasan nanti.
Pandji masih sekali lagi menoleh ke belakang untuk melihat jalan yang baru saja dilewatinya, sialnya jalan setapak suram tersebut sudah menghilang entah kemana. Pandji baru ingin mengeluhkan hal itu pada Damar Jati tapi urung karena dinding lorong itu bergerak aneh dan mengeluarkan energi sangat besar yang menarik Pandji dan Mika serta barionnya ke dalam pusaran dengan sangat mudah.
__ADS_1
Pekik kecil Mika dan geraman tertahan dari barion membuat Pandji membuka mata lebar-lebar. Mereka berputar cepat seperti berada dalam mesin penggilingan raksasa tanpa bisa melihat apapun, hanya beberapa saat sebelum terhempas di tempat gelap lain yang dipenuhi dengan rimbunan pohon berwarna hitam.
Pandji dan Mika memicingkan mata, mereka terjerembab di dataran keras beraroma seperti besi berkarat. Berusaha menyelaraskan pandangan dengan kegelapan yang ada di sekitarnya. Bukan hanya mata, mereka juga mulai mengatur nafas dan tenaga untuk menahan aura gelap pekat yang keluar dari dalam hutan.
Pandji mengabaikan sakit di seluruh tubuhnya, dia lebih fokus pada Mika yang masih tersengal.
“Bagaimana kondisimu?" tanya Pandji serupa bisikan.
"Baik saja, hanya perlu menyesuaikan diri sebentar!" Mika memejamkan mata, memompa mana agar kedua matanya bisa berfungsi dengan baik.
Udara berhembus dingin membekukan tulang, tapi sesekali jauh lebih panas dari suhu normal kota Yogya. “Cuaca yang sangat aneh, bisa mendadak sakit jika begini terus situasinya! Apa kau baik saja, kawan?”
Barion Pandji mengaum rendah, menunduk untuk menjilat tangan Pandji yang memegang moncongnya. Memberitahukan kalau dia tidak memiliki masalah berada di hutan hitam.
"Mataku berfungsi lebih baik saat di sini," gumam Mika lirih.
"Tentu saja, mata itu akan bangkit kekuatannya di tempat energinya berasal." Damar Jati menjawab ringan kebingungan Mika.
"Astaga! Jadi …." Mika tertegun menyadari bahwa di dalam tubuhnya juga mengalir energi dari dunia kegelapan. Itulah mengapa dia merasa familiar dengan hal-hal aneh di luar jangkauannya, hati kecilnya selalu mengatakan kalau dia pernah melewati atau hidup di dunia yang sama dengan Damar Jati.
__ADS_1
"Sebagian energimu adalah milik istriku, Asih Jati. Dia yang familiar dengan kegelapan, karena aku memang pernah berasal dari sini, dan energi gelapku banyak yang dihisap Asih," terang Damar Jati singkat. Menjawab semua pertanyaan Mika yang tidak terlontar.
“Baiklah aku mengerti sekarang, tapi apa itu berarti kalau aku bagian dari iblis kegelapan?"
"Tidak juga! Manusia selalu memiliki pilihan dalam hidupnya, sejatinya hitam dan putih kan memang selalu ada dalam diri kita," timpal Pandji asal. Wejangan Romo Guru yang didengarnya malas-malasan rasanya pas untuk menjawab pertanyaan Mika mengenai siapa dirinya.
"Saya pikir saat Mas Pandji menguap jika mendengar dongeng dari Romo Guru, menguap juga semua petuah beliau. Ternyata saya salah sangka!" Damar Jati terkekeh, dia ribuan kali mendengar kalimat itu saat menemani Romo Guru. Kalimat sakti yang mengubah Damar menjadi sedikit lebih bijak dalam menjalani hidupnya sebagai roh pusaka.
Pandji menaikkan kedua alisnya melihat Damar Jati yang mewujud di depannya, "Kenapa kau menampakkan diri, Damar? Bukankah kau buronan di sini?"
"Tempat ini aman dan jauh dari kerajaan iblis, ini adalah tempat saya bersembunyi sebelum ditemukan Mpu Sapta. Saya akan berburu dan mencari makanan untuk Mas Pandji dan Mika!" Damar Jati mengangguk dengan sedikit membungkukkan badan, menunggu Pandji memberikan persetujuan.
"Jadi ini yang disebut hutan hitam? Baiklah, mungkin aku akan bermeditasi sambil menunggu kau kembali!" Pandji mengikuti langkah Damar yang membawanya ke sebuah pohon besar dengan bentuk unik karena seperti ada rumah pohon tersembunyi di atasnya.
"Sendiko Mas Pandji, saya pamit! Saya meminjam mobil sport hitamnya!" Aura Damar Jati dan barion Pandji menghilang sesaat setelah kalimatnya terucap, meninggalkan dua orang yang termangu mengamati seisi hutan dari atas pohon.
"Semua mata penghuni hutan ini berwarna merah darah, persis seperti matamu sekarang, Mika!"
Mika mengangguk setuju, matanya menjadi sangat awas melihat kelebatan sekecil apapun di sekitar. "Mereka juga awas, tapi tempat ini terselubung perisai gelap Damar Jati. Mereka tidak berani mendekat!"
__ADS_1
"Aku akan bermeditasi sekarang, jika makanannya sudah ada bangunkan aku!" Pandji berpikir singkat, apa yang akan dibawakan Damar Jati untuknya?! Daging silumankah atau umbi-umbian dari pohon aneh di dalam hutan?
***