SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 104


__ADS_3

Energi sangat besar meluap ke udara, membentuk kubah raksasa yang jauh lebih besar ... memayungi seluruh wilayah Pakualaman. Mengurung semua makhluk yang sudah hadir agar tidak bisa keluar dari area pertarungan.


Oma Dina telah memasang rangket pelindung gaib terbesar yang pernah diciptakannya sepanjang hidup. Tenaga dalam dan kemampuan yang disimpan selama ini, sekarang dikeluarkan untuk membantu keturunannya yang berada dalam bahaya.


Wanita sepuh yang berjalan ke arah Pandji bersama Gia tampak nyentrik dan tenang setelah menguras energinya. Satu keris besar dengan gagang kuning gading tergenggam erat di tangan kanan.


Hawa angker yang dikeluarkan oleh siluman buaya yang menempati pusaka itu membuat orang bergidik. Semua mata menatap Oma Dina dengan ekspresi takjub. Ngeri, ngeri dan ngeri.


"Tidak ada salahnya mencoba keris warisan dari Pakde Karman," kata Oma Dina setelah berdiri tepat di sebelah cucu pertamanya.


Pandji menaikkan kedua alisnya tinggi, "Jadi Oma sudah menaklukan pusaka itu?"


Oma dan Gia yang berdiri bersebelahan seperti dua perempuan yang sama tapi hidup dalam generasi berbeda.


"Pengasihan danyang warisan kakek buyutmu ternyata masih ada gunanya untuk membuat buaya siluman ini klepek-klepek pada oma," jawab Oma Dina dengan nada rendah hati dan mengulum senyum.


" … " Pandji menggelengkan kepala, menggaruk kepalanya mendengar lelucon oma.


Bukan hanya buaya siluman, opa juga sudah dibuat tidak berdaya oleh oma!


Pandji menatap sekilas wanita yang mewariskan kecantikannya untuk Gia sebelum kembali melihat ke arah gerbang rumahnya.


Tak lama, Pandji mencabut kedua pedang hitam kembarnya saat gerbang rumah mulai berderak roboh. Dia mengedar pandangan ke seluruh tim, "Tetap dekat dengan Mika, Raksa!"


Mahesa berteriak keras, "Aswanta dan Tirta ada dalam perisaiku, Mas Pandji!"


"Aku adalah perisai utama, Mas Pandji!" jerit Mika mengambil posisi di depan Pandji dengan dua belati tergenggam di tangan. Raksa mengangkat tombak naga di sebelah Mika. Siap bertarung.

__ADS_1


Manusia-manusia yang tubuhnya melepuh mulai merangsek ke arah Mika dan Raksa yang berada paling depan, bersamaan dengan ksatria Hargo Baratan yang raganya utuh dan masih bisa mempertahankan jiwa.


Mika mengayunkan dua belatinya, menangkis setiap serangan yang datang padanya.


Melawan murid Paman Candika yang membawa berbagai macam senjata, mengingatkan Mika pada acara turnamen yang belum lama terselenggara.


TRANG!!! TRANG!!! TRANG!!!


"Hancurkan tubuh-tubuh yang sudah membusuk dulu, Mika. Bakar mereka!" seru Pandji memberi perintah. Dua pedangnya juga sedang sibuk mempertahankan nyawa keluarga.


"Bagaimana dengan yang hanya kerasukan?" tanya Mika dengan suara melengking karena harus melompat menghindari pedang yang melintas di dekat kakinya.


"Bebaskan mereka dengan heksagram sihir!"


Satu ksatria berdaging busuk baru saja jatuh setelah tertusuk belati Mika tepat di jantung. Tubuhnya baru menyentuh tanah, belum menghilang ketika terinjak-injak oleh teman-temannya.


Mata indah Mika sesekali melirik pemuda yang harus dilindungi dengan segenap kemampuan. Pemuda yang sedang sibuk mengayunkan pedang di dekat perempuan sepuh dan adik perempuannya.


Mika kembali fokus pada wajah membusuk yang sedang menyeringai menunjukkan giginya yang hampir hilang. Mantan pemuda yang pernah belajar ilmu bela diri itu juga menggenggam belati.


Tusukan demi tusukan tajam berusaha menjangkau Mika yang berkelit dan menangkis dengan lincah. Energi Asih Jati yang meluap dalam tubuhnya terlihat sangat nyata membuat perbedaan.


Dua belati yang digenggam Mika mudah membakar daging busuk dan menjadikannya abu anyir di udara.


“Kau banyak menghabisi temanku, Cantik!” ucap satu pemuda tinggi yang tubuhnya kerasukan maroz. Menghadang Mika yang baru menghabisi dua mayat hidup dalam satu tebasan lebar.


"Aku pastikan kau akan menyusul meninggalkan jasad tak berdosa itu, iblis neraka!" Mika menerjang. Belatinya menebas, menikam dan mengirimkan tekanan besar pada pemuda tinggi yang bertahan dengan wajah terkejut.

__ADS_1


Pemuda itu mengelak, membuang dirinya ke samping dan terus menghindar. Mika tidak memberikan kesempatan untuk bernafas, belatinya terus memburu dan memangkas jarak di antara mereka.


Mika menusuk cepat ke depan, menebas dan menghadiahi satu goresan panjang di lengan. Tidak mematikan, tapi membuat maroz yang berada di dalam tubuh pemuda itu kepanasan.


Satu jeritan pendek dari mulut pemuda tinggi hilang ditelan malam. Mika melompat dan bersalto di udara, mendarat tepat di belakang pemuda yang segera berbalik badan menghadapinya.


Namun, gagang belati Mika menghantam telak di dahi pemuda itu sebelum dia sadar dengan kecepatan pergerakan gadis di depannya.


Pemuda itu memegang keningnya dengan ekspresi kesakitan, berusaha keras menghapus simbol heksagram yang menempel di atas alisnya.


"Jangan repot-repot … usahamu tidak akan berhasil, tanda itu akan melekat di sana selamanya. Kenang-kenangan dariku untukmu," ujar Mika dengan nada iba.


Tidak lama kemudian, pemuda itu jatuh terduduk dan kejang. Kabut hitam keluar dari mulut dan hidungnya dengan cepat … membentuk satu sosok kepala bermoncong panjang.


Belum selesai mewujud, tombak naga hitam Raksa menghancurkan maroz yang baru keluar dari tubuh pemuda tinggi itu.


"Terima kasih, Raksa!" ucap Mika sambil mencari lawan lain.


"Aku di belakangmu, Kak!"


Satu demi satu ksatria yang kerasukan mulai tumbang dan memenuhi halaman rumah Pandji dalam posisi pingsan. Tubuh mereka tidak berdaya setelah ditinggalkan iblis yang sebelumnya bersemayam di sana.


Mika dan Raksa berkolaborasi dengan apik. Mereka mengurangi jumlah manusia busuk yang membuat udara terasa menyakiti paru-paru saat dihirup dalam waktu singkat.


Dalam pertarungan lain, Pandji beberapa kali diberikan kejutan oleh wanita sepuh yang bertarung tenang dengan keris besarnya.


Keris dengan deru menyeramkan … seperti sabetan ekor buaya raksasa di air tenang itu selalu tepat sasaran dalam satu kali gerakan.

__ADS_1


***


__ADS_2