
Pandji tidak mengikuti keseluruhan babak penyisihan kelas menengah, begitu Raksa masuk ke babak berikutnya setelah mengalahkan tiga lawan secara berturut-turut, Pandji keluar area pertandingan dan memilih duduk santai di pendopo dalam kesatrian.
Menguap beberapa kali, Pandji memejamkan mata mengistirahatkan pikiran. Dia menemukan beberapa murid Paman Candika dari Hargo Baratan memiliki aura yang sama dengan Biantara. Meskipun tidak sepekat milik Bian, tapi tidak menyembunyikan kesan jahat pada pemiliknya.
Menghabisi pasukan iblis rendahan yang masuk ke dalam tubuh manusia pasti memakan banyak waktu, Pandji terpikir untuk segera bertemu dengan Sang Pemimpin.
Aku tidak mungkin bertanya pada Paman Candika, tapi menantangnya juga bukan ide bagus mengingat dia tidak pernah menyalahi aturan atau berbuat jahat padaku dan keluarga.
Pandji merasa rumit dengan pikirannya, aura tidak enak yang menggantung di udara dirasakannya bertambah banyak. Mungkin karena banyak peserta yang berasal dari kesatrian Bian mulai masuk ke dalam area pertandingan.
Tak lama sebuah kubah pelindung raksasa terbentuk mengelilingi arena, Pandji merasa aman. Dia sangat mengenal energi yang memayungi arena pertandingan adalah milik ayahnya.
Pertandingan hampir dimulai, Pandji masuk ke ruang peserta dan duduk di sudut paling belakang. Menunggu gilirannya tiba, Pandji memilih tidur daripada mengamati calon yang mungkin jadi lawannya.
Tidak begitu lelap Pandji mendengar suara peserta lain berbicara, "Gila … pertandingan hanya berlangsung tak sampai tiga menit, ksatria muda dari perguruan Hargo Baratan itu dengan cekatan menjatuhkan lawan."
"Aku rasa itu karena keris pusakanya," sahut yang lain.
"Bukan, menurutku sihir yang mengaliri pusaka itu yang membuat energinya naik dua kali lipat."
"Cukup menarik, kamu tau duel sebelumnya sangat membosankan. Sepuluh menit yang sia-sia karena kalah dengan cara menyerah.'
__ADS_1
Pandji membuka mata sedikit, melirik dua pemuda yang sedang bercakap-cakap mengenai pertandingan. Membaca seragam yang dipakai dua pemuda bersenjata tombak, Pandji mengerutkan dahi.
Mereka berasal dari kesatrian menengah yang cukup terkenal, bukan tidak mungkin salah satunya akan jadi lawan mainnya nanti.
Beberapa pertandingan berlalu dengan cepat, jagoan-jagoan dari kesatrian besar sudah menyingkirkan lawan mereka dengan mudah di babak penyisihan.
Pandji mengamati satu pertandingan yang sedang berlangsung.
Pemuda jangkung dengan senyum mengejek, merendahkan dan meremehkan pemuda pendek dengan senjata tombak di depannya.
Pakde Noto yang bertugas sebagai wasit babak penyisihan memberikan aba-aba bahwa pertandingan di mulai. Pemuda jangkung dengan senjata belati langsung menerjang dengan ganas, tidak memberikan jeda pada tikaman mautnya.
Pemuda pendek yang diremehkannya jauh lebih gesit, ilmu meringankan tubuhnya tidak bisa dibilang buruk. Bahkan pandji bergumam datar, "Hanya butuh satu serangan dari Mas Pendek untuk menjatuhkanmu, Jangkung!"
Pakde Noto menghentikan pertandingan dan menyatakan Si Pendek sebagai pemenang dan berhak maju ke babak berikutnya karena telah mengalahkan tiga ksatria termasuk pemuda jangkung tersebut.
Pandji mengelus dagunya saat nomornya dipanggil, dia berjalan santai masuk ke dalam arena. Berdiri siaga menunggu lawannya juga siap. Pakde Noto meliriknya singkat sebelum memberikan tanda pertandingan dimulai.
Tak ingin bermain lama, pandji langsung mencabut dua pedang dari punggungnya dan mengalirkan mana sihir. Pedang yang dipegang kedua tangan Pandji memendarkan cahaya merah dan biru sesuai dua elemen sihir yang dialirkannya.
Pemuda yang ada di depan Pandji tampak pucat dan gemetar, tidak siap menghadapi Pandji yang sedang serius. Aura petarung Pandji menekan mentalnya hingga ke dasar.
__ADS_1
"Aku menyerah …!" Pemuda pucat itu menjatuhkan pedang dan mengangkat kedua tangannya, lalu mengangguk malu pada wasit.
"Eh …?" tanya Pandji bingung. Dia akhirnya menyarungkan pedangnya saat Pakde Noto mengumumkan namanya sebagai pemenang. Pandji menguap lebar dan menggerutu dalam hati.
Aku butuh sedikit pemanasan sebelum bertemu Bian, semoga lawan berikutnya tidak menyerah sebelum bertarung!
Pandji masih mendengar pemuda itu dimarahi oleh ketua kesatrian saat turun dari arena.
"Apa yang kau lakukan, Wira? Menyerah sebelum bertarung?"
"Maaf, Guru. Tapi aku merasa bodoh jika harus melawan pemuda bernama Pandji itu, auranya mengerikan!"
"Setidaknya kau sedikit mencoba kemampuanmu, Wira!"
"Aku tidak ingin terluka parah, Guru. Aku tau batas kemampuanku, menang jelas tidak mungkin … luka parah dan mungkin cacat seumur hidup itu pasti!
Meskipun dilarang membahayakan nyawa lawan, tapi kalau aku tidak mampu menandinginya dan terjadi kecelakaan hingga kematian, itu sama sekali bukan salahnya. Bukankah demikian, Guru?"
Pandji hanya menggaruk kepalanya mendengar debat Guru dan murid dari Solo, dia bahkan belum melakukan apapun untuk dinilai tinggi oleh pemuda itu.
Menurutku pendapat pemuda itu terlalu berlebihan, aku saja tidak tau bakal kalah atau menang menghadapinya … kadung serius malah nggak sido tanding!
__ADS_1
***