
Mika terbangun saat mobil hampir sampai rumah, hawa gelap mengusik tidur lelapnya.
"Kenapa bangun?" tanya Pandji datar.
"Lucu sekali pertanyaanmu, Mas! Aku tidak mungkin bisa memejamkan mata jika ada gangguan."
"Aku akan membereskannya!" Pandji mengedikkan kepala ke arah seorang pria pendek yang menunggu di depan pagar rumahnya.
Mika mengernyitkan dahi karena tidak dapat melihat dengan jelas sosok yang sedang menunduk dan menutupi wajahnya dengan hoodie hitamnya.
"Dia jelas tidak bisa menembus kubah lanjaran Ayahanda, makanya menunggu di depan. Tapi … apa dia tidak terlalu bodoh untuk datang menantang sendirian?!" Mika menatap Pandji, menunggu jawaban pemuda yang justru menguap lebar dengan tidak sopan.
"Apa perlu aku tanyakan alasannya datang?" Pandji menggosok mata dan menepikan mobil sebelum masuk halaman rumah.
Mika mendengus kesal, "Biar aku saja yang menyapanya, mungkin dia datang ingin menyatakan cinta!"
Pandji tersenyum mendengar ungkapan konyol Mika, meski tidak terlalu pekat tapi aura gelap milik pria yang masih membungkuk di depan pagar rumahnya terhitung besar.
Mika mencabut dua belatinya dan berjalan mendekati pria yang juga sedang berjalan ke arah mobil. Mereka kini berhadapan tidak begitu jauh dari lampu mobil yang tidak dipadamkan.
Pandji kembali menguap seraya mengamati dua orang yang sepertinya akan berduel, dia menyandarkan punggungnya seolah sedang menikmati sebuah pertunjukan.
Pria pendek dengan hoodie hitam itu tiba-tiba mengangkat kepalanya dan meraung keras. Tampangnya tampak sangat menjijikkan, kulit melepuh parah seperti sedang mengalami pembusukan, berwarna coklat pucat dengan beberapa daging yang seperti akan terlepas.
__ADS_1
Bau busuk meruap dari tubuh pria yang sedang menerjang Mika, tangannya berusaha menggapai leher gadis yang sudah masuk dalam jangkauannya.
Mika menahan kedua tangan yang sudah mengulur dan menepisnya dengan ayunan belati yang tergenggam di tangan kiri, sementara belati yang ada di tangan kanannya menusuk tepat ke arah jantung.
Tubuh manusia yang sudah membusuk itu tetap merangsek ke depan berusaha melukai Mika hingga belati yang sudah menancap ujungnya tertekan masuk ke dalam tubuh dan menyisakan gagangnya saja.
Mika memutar belati yang menancap sempurna pada tubuh lawannya dengan sadis. Lendir hitam merembes keluar tubuh, membusukkan udara sekitar. Mika mencabut belatinya hingga daging yang memang sudah melepuh itu ikut terlepas dan terburai.
Pria pendek itu kembali meraung pendek sebelum tubuhnya berdebam mencium tanah dan hangus menjadi serpihan debu yang sangat berbau.
"What the hell …," gumam Mika dengan ekspresi ngeri. Aura gelap ikut menghilang, menandakan tidak ada lagi yang perlu Mika khawatirkan.
Gadis cantik itu menghampiri pagar dan membunyikan bel rumah, menunggu sampai Pak Slamet tergopoh datang membukakan gerbang. Beliau menutup kembali setelah mobil Pandji masuk halaman.
" … " Mika menggeleng ringan, berbohong agar tidak menimbulkan keributan di rumah. Menjadi gosip hangat di antara abdi dalem yang akhir-akhir ini mulai resah ketakutan.
"Tapi orang itu dari jam dua terus saja berdiri di depan pagar tanpa lelah, saya takut mau mengusirnya … apalagi Ayahanda Mas Pandji sedang tidak ada di rumah," tutur Pak Slamet khawatir. Sesekali kepalanya masih berputar mencari sosok yang dia maksud.
"Kemana perginya Ayahanda?" tanya Mika sopan.
"Saya kurang paham, tapi saya dengar Beliau ada menyebut nama Den Mas Candika waktu pamit sama Ibunda Mas Pandji."
"Oh …." Mika menjawab singkat dan mengangguk sopan pamit untuk masuk ke kamarnya.
__ADS_1
Pandji mencari Ibundanya yang sedang beristirahat di kamar, mengetuk pintu pelan dan menunggu dengan sabar.
"Ada apa, Mas?" tanya Ibunda Pandji dengan dahi berkerut.
"Apa Ayahanda pergi ke rumah Paman Candi?" tebak Pandji penasaran.
"Tadi Risa menelepon kalau Badrika datang … sepertinya terjadi keributan di rumahnya," terang Ibunda Pandji dengan ekspresi cemas.
Pandji ikut merasakan kekhawatiran Ibundanya, “Apa Pandji perlu menyusul kesana, Ibunda?”
Badrika tadi ada di lokasi yang sama denganku, lalu menghilang ... mungkin saja dia pulang mengacau di rumahnya, dia pasti sedang mencari alasan untuk menjadikan keluarganya sebagai umpan untuk menjebakku.
Ibunda Pandji tersenyum lembut, "Istirahatlah, Ayahmu pasti bisa menyelesaikan masalah yang terjadi di sana!"
"Bagaimana dengan Tante Risa?" tanya Pandji dengan kening berkerut. "Apa Badrika menyakiti Ibundanya lagi?
"Ibunda tidak tahu pasti, tapi kondisinya masih seperti sebelumnya, dia adalah jaminan agar Ayah Badrika tetap memihak padanya dan tidak jadi penghalang niatnya untuk menjadi penguasa," terang Ibunda Pandji datar.
"Badrika pasti punya alasan lebih dari sekedar itu, Ibunda!"
"Semoga Ayahmu sudah bisa melumpuhkannya."
Badrika pasti pergi begitu mencium kedatangan Ayahanda, Iblis licik itu terlalu pengecut untuk berhadapan langsung dengan trah Ganendra. Ayahanda pasti hanya membantu membereskan kekacauan yang disebabkan Badrika.
__ADS_1
***