SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 62


__ADS_3

Di luar kelas, Pandji masih bertemu dengan beberapa siswa yang tertinggal masuk aula. Pandji sengaja ingin berkeliling untuk ikut memastikan semua orang yang ada di lingkungan sekolah masuk zona aman.


Meskipun tidak ada jaminan bahwa aula adalah tempat paling aman di sekolah, setidaknya Pandji mengenal Pak Broto yang menjabat wakil kepala sekolah bukanlah orang biasa. Beliau juga salah satu pengajar di kesatrian milik Paman Candika.


Menyusuri kelas demi kelas, Pandji mendengar suara geraman binatang tak jauh dari tempatnya berdiri. Pintu kelas tertutup dan terkunci, tapi ada dua siswa yang sedang berkelahi di dalam.


Pandji melihat dari jendela kaca pemandangan seorang siswa bertubuh gemuk sedang dihempaskan siswa lain yang bertubuh jangkung. Tubuh gemuk itu menabrak meja dan berakhir menghantam tembok di belakangnya.


Tendangan Pandji pada pintu kelas menghentikan sejenak aksi siswa jangkung yang sedang mencekik leher lawannya yang bersandar pada dinding hingga nafasnya hampir putus.


Siswa jangkung itu lalu melepaskan lawannya begitu saja, mendongak dan mengendus udara sebentar sebelum melolong layaknya serigala.


Manis darah Pandji membuat pemuda jangkung berbalik dan mengalihkan perhatian pada Pandji.


"Segera ke aula, larilah!" Pandji memberikan jalan aman pada siswa gemuk agar bisa keluar kelas.


"Kau bagaimana? Apa kita lari bersamaan?" tanya siswa gemuk dengan nada iba.


"Lariku cepat … kau mau tertangkap lagi sama dia? Pergi sekarang kalau ingin selamat."

__ADS_1


"Baiklah kawan, kalau kau tak mati aku akan membalas kebaikanmu karena telah menyelamatkanku!" seru pemuda gemuk yang tergesa berlari ke arah aula.


"Aku akan menagihnya nanti! Aku harap itu sepadan," jawab Pandji tak kalah keras.


Suara kaki yang berlari menjauh membuat Pandji bernafas lega beberapa saat, karena detik berikutnya lehernya sudah dicengkeram erat oleh siswa jangkung yang sedang dikuasai makhluk gaib bermoncong serigala.


Pandji dibanting sekuat tenaga hingga kepalanya membentur lantai, lehernya masih dalam posisi dicekik sesaat sebelum dilemparkan dan menabrak meja kursi dengan kerasnya.


Suara umpatan Pandji keluar, tangan kanannya meraba bagian belakang kepalanya. Saat merasakan rasa basah dan licin darah, Pandji sadar kalau kepalanya terluka.


Siswa jangkung datang dan menerjang, Pandji mengelak dan menghindar dari tangan kuat yang hendak mencabut nyawanya.


Pergerakan pemuda jangkung melambat seketika, memberikan waktu pada Pandji untuk memukul tengkuknya dengan kuat dan membuat pemuda itu jatuh kehilangan kesadaran.


"Damar … Asih," desis Pandji lirih. Tubuh pemuda yang kehilangan kesadaran menegang, kakinya menyentak seperti orang sedang kejang dan kepalanya mendongak dengan mata melotot melihat ke atas.


Dua pedang yang dipanggil Pandji muncul, melayang dalam jarak satu meter di depan pemuda dengan wajah mengantuk itu.


Pandji menangkap kedua pedangnya, menebas kabut hitam berbentuk kepala serigala yang keluar dari mulut siswa jangkung yang sedang kelojotan di lantai.

__ADS_1


Kabut hitam yang semula hendak melayang di udara, jatuh meleleh di lantai menjadi cairan hitam berbau busuk dan menghilang entah kemana.


Pandji menepuk beberapa kali pipi pemuda itu hingga sadar sepenuhnya, "Pergi ke aula sekarang!"


Seperti mendengar kalimat hipnotis, siswa jangkung yang baru mendapatkan kesadaran berdiri dan berjalan cepat menuju aula sekolah.


Tak lagi merasakan ada aura gelap di dekatnya, Pandji melangkah keluar kelas menuju bagian belakang.


Pandji membuat sigil pelindung yang baru saja diajarkan Romo Guru di beberapa tempat dengan ujung pedangnya. Dia berniat membuat beberapa lagi di sekeliling sekolah untuk mencegah makhluk dari dimensi lain itu keluar masuk area sekolah seenaknya..


Sigil yang dibuat Pandji di tanah menyala dengan warna hijau kebiruan, saling terhubung antara gambar satu dengan yang lain seperti sebuah pagar tak kasat mata. Akhirnya sebuah kubah besar tercipta memayungi seluruh sekolah.


Meski belum mengetes hasilnya, tapi dari energi yang terpancar, harusnya barrier sihir pemuda tampan itu memiliki kekuatan tak kalah hebat dengan rangket pelindung lanjaran milik ayahnya.


Pandji merentangkan kedua pedangnya dan berlari ke arah kegelapan yang berjalan di siang hari. Kawanan hewan yang melolong dengan mulut manusia. Sekelompok teman yang tak lagi mengenalinya.


Maaf kawan, aku tidak janji kalau ini tidak akan sakit atau melukai kalian. Tapi, ini lebih baik daripada kalian berubah menjadi hewan peliharaan iblis!


***

__ADS_1


__ADS_2