
Tengah malam buta di wilayah tak jauh dari kediaman Pandji, angin malas berhembus, binatang malam pun enggan bersuara.
Bintang yang semula meramaikan langit dengan sedikit cahaya sudah tak tampak. Berganti dengan awan hitam memayung, membuat angkasa tampak gulita.
Di dalam kamar, Pandji sengaja tak menyalakan pendingin ruangan. Jendela terbuka lebar dengan tirai mengumpul dan terselip di pinggir kaca.
Pemuda yang merasakan gerah lebih dari biasanya itu membuka bajunya dan berdiri dekat jendela, menatap luar rumahnya.
Setelah menghabiskan siang hari di rumah Paman Candi, Ayahnya kembali ke sana satu jam yang lalu untuk memasang rangket dan membuat sigil pelindung yang akan dipakai Arum dan Ayunda.
"Apa kau merasakan sesuatu, Damar? Malam ini begitu sunyi." tanya Pandji lirih tanpa bergerak sedikitpun dari tempatnya.
"Wanita cantik itu mempelajari situasi, Mas Pandji! Sirepnya bekerja dalam radius hampir setengah kilometer dengan rumah ini sebagai pusatnya. Pasukannya menjaga gerbang dimensi agar Mas Pandji tidak melintas sampai dengan waktu kesepakatan tiba."
"Itu cukup mencengangkan, Damar. Butuh kekuatan besar untuk melakukan itu!"
“Dia membawahi beberapa panglima yang bekerja di wilayah Yogya, salah satunya yang sudah mati melawan kita! Jadi … dia memang bukan wanita cantik biasa," timpal Damar menjelaskan keadaan lebih lanjut.
“Banyak aura pekat di selatan, apa dia sedang mengantar salah satu anak buahnya untuk mengendarai Biantara?” desis Pandji seraya menatap arah selatan rumahnya.
__ADS_1
Damar yang muncul di belakang Pandji ikut melihat searah dengan yang tuannya lakukan. “Saya rasa begitu, rumah Biantara akan jadi basis baru karena Den bagus Candika sedang mencoba memberontak dan melawan balik."
"Rasanya tanganku sudah gatal untuk memberi pelajaran pada Biantara, sia-sia aku menjelaskan kebaikan padanya beberapa hari lalu!"
Aura merah terasa dari lantai atas, Pandji hanya bisa mengeluh dalam hati karena makin lama makin pekat dan panas.
Apa yang sedang kau lakukan di kamarmu, Mika?
Pandji keluar kamar untuk membuat kopi dan memastikan Mika tidak teledor sengaja keluar rumah dan cari sensasi.
"Mau kemana kamu, Mika?" tanya Pandji yang merasakan aura kakak perempuannya itu melintas dibalik punggung. Dia melanjutkan mengaduk kopi tanpa sedikitpun menoleh ke arah Mika.
"Gitu aja heboh, yang penting aku masih pake celana! Lagian ini tengah malam, lantai bawah kalau malam jadi area kekuasaanku, kamu ngapain turun?"
Mika melirik punggung Pandji sekilas dan melengos ke arah lain. "Cari angin, nggak bisa tidur!"
"Kamarmu ada balkon terbuka, silakan cari alasan lain kalau kamu masih ingin tinggal di Yogya!" sarkas Pandji membalik tubuh.
" … " Mata Mika melebar dan kedua alisnya terangkat.
__ADS_1
Aroma kopi menguar dari cangkir yang dibawa Pandji dengan tangan kiri, mulai memenuhi ruangan.
"Wow … penampilanmu sungguh luar biasa, Mika! Aku suka dua belati di pinggangmu, boleh aku melihatnya?!"
Mengamati penampilan kakaknya yang seperti petarung wanita membuat Pandji menahan nafas. Ikat pinggang kulit tempat untuk menggantung dua belati yang memancarkan energi kemerahan seperti aura Mika itu menambah daya seksi di mata Pandji.
Mika mengerutkan dahi, merasa enggan melihat Pandji yang tak memakai baju dan berantakan tapi justru terlihat sangat tampan. Hatinya memaki dan wajahnya mendadak panas hanya karena Pandji tersenyum samar. "Ini belati biasa, tak ada istimewanya dibanding dua pedang kembarmu!"
"Hm … aku rasa itu bukan benda biasa. Itu juga masuk dalam kategori pusaka kalau dilihat dari energinya," ucap Pandji antusias. Senyumnya yang semula samar menjadi sedikit miring penuh curiga karena Mika menatapnya dengan tak biasa. "Ada apa di wajahku, Mika?"
"Jangan seperti itu!" Mika membuang muka, benci dengan detak jantungnya yang keras dan cepat. Pandji jarang sekali tersenyum seperti itu pada Mika, jadi saat pemuda itu melakukannya, benar-benar memberi efek tak baik padanya.
"Apanya? Baiklah aku akan memakai baju, tunggu sebentar di sini … aku ingin melihat belati itu!" tunjuk Pandji pada pinggang Mika saat melintas dalam jarak dekat untuk kembali ke kamar.
Mika mengangguk tak berdaya, ingin menangis karena indera penciumannya terganggu dengan bau kopi … bukan, bau maskulin Pandji yang lewat tanpa dosa di depannya.
Mengusap matanya yang memperhatikan punggung Pandji, Mika mendengus pelan.
Aku 23 tahun dan dia 17 tahun, itu bukan hal yang mustahil. Tapi ….
__ADS_1
***