SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 58


__ADS_3

Kondisi Mika menjadi lebih stabil setelah ditangani oleh Ibunda Pandji. Tubuhnya yang lemah dibaringkan tengkurap pada tempat tidur yang terbuat dari batu berwarna abu-abu.


Nafas Mika sangat teratur, dia hanya seperti orang yang sedang tidur nyenyak dengan selimut menutupi tubuhnya. Menyisakan bagian punggung yang terluka, sudah dibalut dan diberi ramuan khusus oleh Ibunda Selia.


Batu tempat Mika berbaring bukanlah batu biasa, itu adalah batu yang terus mengeluarkan energi hangat dan berkhasiat untuk mempercepat penyembuhan luka.


Ayahanda Pandji menutup pintu perlahan, mendekati Mika yang masih belum sadar dan bertanya dengan ekspresi menyesal, "Bagaimana kondisinya, Diajeng?"


"Dia akan membaik, hanya butuh istirahat lebih lama setelah pulih."


Pandji menyentuh ranjang batu yang beberapa waktu lalu juga dipakainya tidur sebelum masuk ke rumah sakit, "Rasanya sangat nyaman tidur di atas batu ini, sensasi mengantuk dan tenang seperti dibawa lelap ke alam lain.


Merasakan energi yang dilepaskan batu ini perlahan masuk ke dalam tubuh dan menghilangkan seluruh rasa sakit, sungguh sebuah keajaiban."


"Membaca tulisan nenek buyutmu, Ibunda perkirakan kalau ranjang batu ini umurnya mungkin hampir dua ratus tahun." Ibunda Pandji memberikan sedikit penjelasan tentang sejarah pengobatan kuno yang dikuasai leluhurnya.


"Tapi kenapa tidak ada yang menggunakannya sebelum ini, Diajeng?"


"Seperti yang Kangmas tau, semua warisan trah Abisatya tersimpan rapi dalam perpustakaan. Jika kita tidak dipertemukan, jika mata batinku tidak Kangmas buka … mungkin tidak ada lagi keturunan keluarga ini yang mengerti sejarah leluhurnya."


"Bakat memang tidak lahir dalam setiap generasi, tidak ada yang tau juga kalau kamu mewarisi bakat nenek buyutmu, bisa menguasai ruangan antik ini dan semua fungsinya, Diajeng."

__ADS_1


"Tidak menyangka juga bahwa bakat ini ternyata bergunanya sekarang," kata Ibunda Pandji dengan senyum lembut.


Pandji mendekat, mengamati punggung Mika dan mengeluarkan sebaris kata, "Dia cepat sekali sembuh. Bagaimana dengan Tante Risa, Ayah? Apa bisa dibantu disembuhkan di sini juga?"


"Bisa … hanya harus bergantian dengan Mika. Ibunda harus memastikan kondisi Mika aman untuk dirawat di rumah sakit baru kita akan menangani Tante Risa." Ibunda Pandji mengusap kepala putra sulungnya dengan sayang.


Ayah Pandji duduk di kursi kayu, bersedekap dan menarik nafas panjang. "Tidak ada manusia yang terbiasa dengan rasa kehilangan, Mas Pandji.


Begitu juga dengan Paman Candika, Beliau sangat terpukul dan merasa tak berguna sebagai kepala keluarga.


Ayah tidak bisa melindungi Ayunda … juga hampir kehilangan Tante Risa.


Ayah tidak tau harus berbuat apa saat Pamanmu itu juga tak mau kehilangan Badrika!"


Mengangguk lesu, Ayah Pandji melanjutkan bicara dengan lebih tenang. "Sebenarnya bisa saja Ayah dan Paman Candi habis-habisan melawan anak itu, tapi … sebagai Ayah, Paman Candi tidak sanggup jika harus kehilangan dua anak dalam satu waktu.


Jadi … dia melarang Ayah untuk menyakiti Badrika dan membiarkan dia pergi begitu saja setelah memporakporandakan rumahnya."


"Bukankah itu hanya menunda angkara, Kangmas? Cepat atau lambat Badrika akan jadi momok untuk kita semua!" ucap Ibunda Selia tegang.


"Ya," ujar Ayah Pandji singkat. "Tak lama lagi."

__ADS_1


Pandji menatap Ayahnya tak percaya, ketegangan otaknya yang baru saja turun mendadak naik dua kali lipat. “Apa Badrika … Sang Pemimpin?”


“Tubuh Badrika tidak bisa dipakai secara permanen oleh Sang Pemimpin, itu hanya sementara sampai dia mendapatkan tubuh yang sempurna." Ayah Pandji mengamati putranya yang mendadak jadi salah tingkah.


"Kangmas … maksudnya tubuh putra kita? Mas Pandji yang diinginkan makhluk itu?"


Ayahanda Pandji mengedikkan bahu singkat, "Putra kita lahir bertepatan dengan hari lahir Sang Pemimpin, Raja iblis yang ingin berinkarnasi dalam tubuh manusia agar bisa menguasai dunia."


Dengan menahan amarah, Ibunda Pandji mengeratkan kedua tangannya. "Aku tidak akan mengizinkannya, Kangmas!"


Ayah pandji tersenyum menenangkan, “Kita semua mendapat ancaman yang sama, Diajeng! Aku merasakan gelombang aura pekat yang sangat besar saat Badrika datang, menutup semua elemen kehidupan manusianya.


Lalu makhluk dalam tubuh Badrika itu mengambil Ayunda dengan sangat mudah, tubuh yang baru saja dibersihkan dan belum sempat aku buatkan sigil pelindung seperti Arum. Akhirnya Ayunda menjadi target utama makanan Sang Raja."


"Apa dia akan datang ikut mengambil buku sihir hitam itu bersama perempuan cantik yang membuat kesepakatan dengan pandji, Ayah?" tanya Pandji dengan mata melebar tak percaya.


"Ayah rasa tidak, Sang Pemimpin akan melemah pada saat hari lahirnya tiba. Dia hanya akan bersembunyi menunggu kurirnya untuk mengantar buku itu padanya.”


"Damar Jati bilang sihir dalam buku itu mampu melenyapkan mereka tanpa tenaga, benarkah begitu, Ayah?"


Dengan senyum kecut, Ayah Pandji menjawab, “Sayangnya buku itu juga berisi sihir untuk membuat tubuh yang dikuasai menyatu sempurna dengan jiwa iblis, menjadi makhluk immortal (abadi) dan menjadi satu sumber angkara bagi manusia."

__ADS_1


***


__ADS_2