SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 158


__ADS_3

Pandji menggosok kepala barion hitam yang sedang mengaum rendah, protes karena harus ditinggal di hutan hitam selama Pandji dan Mika ke kota.


"Setelah sampai ujung hutan ini, kembalilah ke sini kawan! Aku akan memanggilmu saat kembali dari kota, banyak stok makanan di dalam hutan, kau bisa berburu dengan bebas! Sekarang antar kami ke perbatasan utara!" Pandji melompat ke punggung barion diikuti Mika.


Perjalanan menembus pepohonan rindang berwarna hitam sama sekali bukan hal sulit untuk makhluk spiritual seperti barion. Hutan seperti itu adalah tempatnya hidup dan mencari makan.


Namun, rute yang dipilih barion mengalami sedikit kendala, perjalanan yang seharusnya berlangsung cepat harus terhenti mendadak. Satu orang wanita cantik berdiri arogan di depan kawanan hewan buas menyerupai anjing hutan. Berbulu lebat berwarna hitam dan bermata merah garang.


Pandji menenangkan barion yang mengaum berisik lalu bertanya dengan sopan pada sosok yang mencegat jalannya dengan berani. "Mbak Yu, kalau mau ke kota … apa benar lewat sini ya?"


"Aku tidak ada urusan denganmu, anak muda! Aku ada urusan dengan pria brengsek yang bersembunyi di balik auramu!" Wanita cantik itu mendengus dan menjawab ketus pertanyaan Pandji. "Dan jangan sok akrab dengan memanggilku seperti itu!"


"Tapi Mbak Yu menghalangi jalan saya, nanti kalau ketabrak gimana?"


"Kau boleh pergi setelah urusanku dengan pengecut itu selesai, sebaiknya kau suruh dia keluar atau aku yang akan memaksanya!"

__ADS_1


Pandji menyeringai rumit dan berbicara dalam pikirannya. "Apa yang dimaksud wanita itu adalah dirimu, Damar? Apa aku kurang beretika bertanya seperti itu? Kenapa dia memasang wajah tidak senang?"


Suara Damar Jati juga terdengar tidak senang saat menjawab pertanyaan Pandji. "Sebaiknya kita meninggalkan tempat ini secepatnya saja, Mas! Saya sedang malas berurusan dengan si pemburu! Tabrak saja, saya yakin akan sulit mengejar barion ini!"


"Hm aku tau, tapi dia memasang barikade gaib, Damar! Dan sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk mengenang masa lalumu bersama wanita cantik itu, benar begitu, Damar?!" Pandji terkikik mendengar omelan Asih Jati yang mengungkit-ungkit masa lalu Damar saat masih tinggal dalam persembunyian di hutan hitam.


"Mas Pandji … apa yang kau tertawakan?" desis Mika dari belakang Pandji. "Apa aku harus turun dan membuatnya menyingkir dari jalan? Kelihatannya dia wanita yang keras kepala!"


"Wanita itu ada perlu dengan Damar Jati, kita istirahat saja sebentar sambil menunggu mereka temu kangen, sebisa mungkin hindari pertarungan agar tidak menarik perhatian iblis lain!" jawab Pandji sembari menguap. Dia memerintahkan barionnya agar menyingkir ke sisi kiri, mengajak Mika turun lalu duduk santai mengamati situasi.


Pandji mengedikkan bahu, kepalanya disandarkan pada barion yang merunduk dibelakangnya lalu memejamkan mata tak ingin tau. "Selesaikan urusanmu, Damar! Jangan lebih dari lima menit!"


Damar Jati mewujud di depan wanita ras iblis yang tergolong cantik itu, salah satu penunggu hutan hitam yang biasa disebut si pemburu. "Apa ada yang bisa aku bantu, Nona?"


"Aku tersanjung kau tidak lupa padaku, Damar! Bahkan kau masih menyebutku dengan panggilan kesayanganmu!" Wanita dengan segorombolan anjing hutan itu menatap Damar Jati penuh kerinduan.

__ADS_1


Damar Jati bukannya senang, wajahnya terlipat dan ekspresinya tertekan seperti suami yang ketahuan janjian ketemuan dengan mantan. "Katakan apa maumu?"


"Aku menagih janji, Damar! Kau sengaja meninggalkanku, kau melarikan diri bersama Sang Empu setelah semua yang sudah aku lakukan untukmu, kau benar-benar keterlaluan!" sungut wanita yang dipanggil nona dengan nada manja. "Sekarang, kau malah berlagak baru bertemu denganku! Aku marah nih!"


Pandji hanya membuka sebelah mata untuk melirik sebentar ke arah Damar, sementara Mika menutup mulutnya yang hampir menyemburkan tawa. Kalimat terakhir yang dikatakan oleh nona di depan Damar, terdengar sangat menggemaskan dan menggoda.


"Aku berterima kasih kau banyak membantu, tapi mengenai permintaanmu … itu hal paling tidak mungkin yang bisa aku lakukan sekarang! Aku datang untuk sebuah kepentingan, aku juga sudah mengatakan itu kemarin malam!" ungkap Damar Jati tegas. Roh pusaka milik Pandji itu jelas terlihat tidak sabar dan kesal.


Pandji makin penasaran setelah mendengar Asih Jati mengumpat dalam pikirannya. Jadi kemarin saat mencari makanan untuknya dan Mika, diam-diam suami Asih Jati itu bertemu dengan salah satu penggemar di masa lalunya?!


“Aku sudah meminta dengan baik Damar, aku juga bisa tersinggung dan kalap jika kau terus saja menolakku! Kesabaranku ada batasnya. Aku sudah memberikan pilihan padamu kemarin untuk menyerahkan gadis penyihir itu sebagai gantinya, tapi kau tetap saja keras kepala!" Nona muda berparas cantik itu memasang wajah angkuh dengan mata mulai memerah.


Mendengar ucapan sinis, gejala tidak enak dan luapan mana pekat di sekitarnya, Pandji sontak membuka mata dan melompat, berdiri siaga di depan Mika. "Ada apa, Damar?"


***

__ADS_1


__ADS_2