SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 163


__ADS_3

Damar mengajak Pandji dan Mika keluar penginapan sesuai perkataannya kemarin. Pada tengah malam puncak pesta, mereka menuju kastil menjulang yang berada di sisi belakang istana.


Pandji mengernyitkan dahi ketika berdiri di samping bangunan gelap seperti pilar raksasa yang ujungnya menyentuh langit. "Damar, apa ada yang belum kau ceritakan lagi padaku? Kastil ini adalah sebuah penjara? Berapa banyak tawanan yang disekap di dalamnya hingga butuh bangunan sebesar ini untuk memenjarakan para penjahat iblis?"


"Iblis berusia ratusan tahun, Mas. Bahkan ada yang ribuan, bukankah wajar saja jika penjaranya pun berkali lipat besarnya daripada yang ada di dunia manusia?"


"Lalu bagaimana kita menemukan Mpu Sapta? Ini seperti menggantang anak ayam, Damar!"


Damar Jati menggaruk dagunya sebelum bertanya, "Saya kurang paham maksudnya, Mas! Saya tidak pernah sekolah, saya butuh waktu untuk belajar lebih banyak bahasa anak muda sekarang!"


"Maksudnya itu pekerjaan yang sulit dan penuh resiko, Damar!" Mika menjawab dengan ikhlas.


"Aku lupa membawa perkamen terakhir yang diberikan Romo Guru, aku juga belum mempelajarinya lebih lanjut, tapi dari yang aku ingat lokasi ini persis seperti gambar yang ditunjukkan beliau." Pandji berbicara sendiri dengan ekspresi menyesal. Dia terlalu terburu-buru berangkat ke dunia iblis hanya karena malas berurusan dengan tamu ayahnya yang membawa anak gadis sebagai persembahan.


Damar Jati memahami, dia mengeluarkan beberapa lembar perkamen kuno dari balik bajunya, memilah satu persatu lalu mengambil yang paling lusuh untuk diberikan pada Pandji. "Jika ini yang dimaksud Mas Pandji, saya juga memilikinya!"


Pandji dan Mika melebarkan mata penuh tanya, roh pusaka milik Pandji terlalu banyak menyimpan kejutan.

__ADS_1


"Jangan bilang kau mencuri arsip kerajaan iblis, Damar!" tuduh Pandji keji tapi takjub. Dia sudah mengira hal seperti itu pasti dilakukan Damar Jati di masa silam. Tidak jauh beda dengan dirinya yang membuka paksa brankas berisi buku-buku kuno sihir hitam di perpustakaan keluarga Abisatya.


"Kau sungguh putra angkat iblis yang sangat cerdik dan tidak tau diri, Damar!" ucap Mika tak kalah tercengang.


Damar Jati terkekeh, "Sebagai ksatria elit dan putra angkat yang menimbulkan banyak masalah di dalam istana, saya selalu memikirkan jalan untuk pelarian sebelum terbunuh. Jadi menyimpan semua denah tiap jengkal tanah iblis adalah bagian dari rencana."


"Kastil ini dilindungi oleh formasi sihir, Damar! Aku berusaha mengintip tapi belum berhasil, haruskah dibuka dengan mantra pembuka portal dari kembaran Asih? Tapi dia bilang itu akan membuka keseluruhan gerbang gaib, bahkan yang seharusnya tidak boleh terbuka, seperti portal utama dimensi yang dipakai untuk menyeberang ras iblis ke dunia kita!" Pandji menggaruk kepalanya dan mengerjap untuk berpikir lebih cepat.


"Nama kembaran istri saya, Welas. Panyihir agung yang mengasingkan diri di tempat yang tidak pernah diketahui," kata Damar lirih. Ekspresinya menunjukkan kalau dia juga sedang berpikir keras.


"Apa mungkin jika kita lewat pintu masuk utama saja seperti tamu, lalu kita lumpuhkan iblis yang sedang berjaga?" tanya Pandji meminta pertimbangan Damar.


"Ehm … kenapa kau justru mengingat bagian yang harus dilupakan, Damar! Waktu itu aku hanya anak kecil yang sedikit nakal, tapi idemu cukup bagus! Aku setuju," kata Pandji ambigu saat menutup obrolan.


Mata Pandji mulai terpejam untuk mendapatkan fokus, memompa mana sihir dan merapal mantra. Ketika tubuh Pandji sudah berselimut energi aneh berhawa hangat, dia berjalan mendekati perisai sihir yang melindungi seluruh kastil.


CES!!!

__ADS_1


Tangan Pandji menyentuh dan melubangi perisai pelindung kastil sebesar pintu normal di rumahnya. Pandji melangkah pelan memasuki area kastil diikuti oleh Mika dan Damar.


Pemuda berwajah malas itu lalu membuka perkamen berisi denah kuno sebentar untuk mempelajari jalur keluar masuk penjara iblis.


"Mpu Sapta pasti ada di bagian terbawah, penjahat paling berkelas di dunia iblis di tempatkan di area satu dengan penjagaan paling ketat." Damar Jati membuka sedikit informasi yang dimilikinya di masa lalu.


"Maksudmu ada di lantai pertama di depan kita ini, Damar?"


"Lantai satu atau bagian terbawah penjara adalah ujung paling menjulang yang tidak terlihat itu, Mas!" terang Damar Jati menunjuk atas bangunan yang tidak terlihat karena berselimut kegelapan.


Pandji benar-benar ingin memaki roh pusakanya, apa yang dikatakan Damar soal berbanding terbalik dengan dunia manusia ternyata tidak berlaku untuk siang dan malam saja.


"Kenapa kau tidak bilang dari tadi kalau lantai satu justru ada di bagian paling atas, Damar?!" Mika sudah mendahului Pandji dengan menggerutu sebal pada Damar Jati yang dianggapnya tidak langsung lengkap saat memberikan informasi.


"Biarkan saya yang memimpin jalan, saya sedikit tahu rute tercepat untuk mencapai bagian terbawah penjara, maksudnya bagian kastil paling atas!" ujar Damar Jati menawarkan bantuan.


Pandji menggeser tubuh, memberikan jalan pada Damar Jati untuk mengambil alih posisinya, tak lupa menegur Mika untuk tidak banyak bicara. Pandji lebih suka menggunakan kemampuannya berkomunikasi dengan Damar Jati secara gaib agar tidak menarik perhatian mata dan telinga iblis penjaga.

__ADS_1


Namun, kehadiran mereka terlalu cepat untuk diketahui iblis yang sedang berkeliling melakukan patroli, dan Mika menutup mulut dengan tangan kanan karena merasa perkataan Pandji benar, suaranya baru saja menarik perhatian sepuluh iblis yang berkelebat cepat ke arah mereka.


***


__ADS_2