SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 22


__ADS_3

Di pendopo belakang, Pandji duduk bersama calon tunangannya di temani Giandra dan Mika. Pandji yang kurang tidur dan kenyang setelah sarapan beberapa kali menguap, diam-diam dia merindukan bantalnya.


Tidak ada keinginan untuk bicara karena Mika dan Gia sedari tadi sudah banyak cerita dengan gadis yang dipanggil Ibundanya Ratna.


"Mas Pandji kenapa diam saja dari tadi?" tanya Gia usil.


"Mas Pandji alerginya kumat," jawab Pandji sekenanya tanpa berpikir dulu. Mika yang mendengar keluhan Pandji menaikkan alis tak percaya.


"Oh … tapi Gia lihat nggak ada kulit Mas Pandji yang merah seperti biasanya!"


"Anak kecil mana tau," ledek Mika penuh tawa. Dia melirik Pandji dengan raut kesal, "Mas Pandji cuma gatal-gatal, nggak ada iritasinya jadi nggak kelihatan."


Gia bingung menelaah ucapan Mika, "Tapi Mas Pandji tadi makan normal, Kak Mika!"


"Apa Mas Pandji sakit?" tanya Sekar Ayu, suaranya jernih seperti air mengalir dari pancuran kolam ikan di dekat mereka.


Pandji menoleh menatap mata teduh yang sedang khawatir dengan keadaannya, dia menggeleng ringan, "Hanya masalah kecil."

__ADS_1


Dalam hati, Pandji memaki Mika yang meledeknya gatal karena perempuan cantik. Tapi Mika juga tidak salah menebak adiknya yang berangkat jadi dewasa itu. Otak Pandji sekarang sedikit liar dan nakal, bahkan mulai sering menggodanya.


"Mas Pandji lelah?" tanya Sekar Ayu perhatian.


Pandji menguap tak sopan, "Aku kembali ke kamar dulu, mau tidur! Mika akan menemanimu, kita ketemu lagi nanti malam ya?!"


Mika hampir berteriak memanggil Pandji yang seenaknya memberikan pekerjaan padanya untuk menemani Sekar Ayu. Gia yang tidak disebut namanya oleh Pandji segera berlari menyusul kakaknya masuk ke dalam rumah.


Pandji benar-benar menghabiskan waktunya untuk tidur. Selain menghadiri technical meeting bersama seluruh peserta, dia hanya di kamar melatih refleksi mana dan cara memanipulasinya.


Ribet, penuh aturan dan tata krama!


Keluhan Pandji tak pernah berubah, dia tidak suka sesuatu yang mencolok atau berlebihan.


Halaman depan sudah penuh orang yang sedang berpesta, membawa makanan dan minuman lalu membuat kelompok untuk membahas turnamen.


Sebagian lain membicarakan tentang perempuan dan tertawa lebar saat bahasan mulai panas mengenai gairah muda mereka.

__ADS_1


Mika yang tampil cantik tak urung jadi pusat perhatian peserta. Meskipun banyak juga wanita yang hadir mendampingi pacarnya untuk bertanding ikut kejuaraan, tapi hanya beberapa yang benar-benar mempesona dan mencuri mata anak muda di sana.


Elok yang datang bersama Biantara sama sekali tidak beranjak dari sisi pemuda tampan itu, sorot matanya kosong melambangkan jiwanya sedang tidak pada tempatnya.


Pandji hanya tersenyum tipis saat Bian menjabat tangannya mengucapkan selamat ulang tahun, aliran mana sihir meluap dari tubuh Bian membentuk kubah pelindung untuknya dan Elok yang jadi pasangannya.


Bian tidak ingin Pandji merusak ikatan yang sudah dibuat olehnya untuk Elok.


Pandji tak meladeni Bian, dia pergi meninggalkan mereka berdua dan menghampiri Sekar Ayu yang sudah menunggunya.


Tak berniat pamer sedikitpun Pandji berjalan menyapa tamunya didampingi Putri Solo yang terlihat lebih dewasa ketimbang umurnya. Itu terlihat dari tubuhnya yang sudah sempurna sebagai wanita meski usianya sepantaran Pandji.


Pandji tidak suka calon tunangannya itu ditatap lapar oleh orang lain, dia lebih baik menyuruh gadisnya diam di kamar dan hanya menunggunya. Dia melirik kecantikan di sebelahnya seraya menggaruk kepalanya.


Sepertinya aku terkena 'beauty effect' dan mulai sakit kepala sebelah karenanya!


***

__ADS_1


__ADS_2