SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 133


__ADS_3

Menjelang malam, rombongan dari kota Yogya dan Solo mulai berdatangan. Mereka membentuk kelompok-kelompok kecil di lapangan dan mulai berdiskusi internal membahas berita yang menyebar dari mulut ke mulut.


"Sungguh tidak disangka kalau lokasinya di sini!"


"Kata anakku yang ikut berjuang di rumah Abisatya, mereka memiliki postur lebih besar dari pada kita."


"Semoga pusaka warisan nenek moyang dan kebanggaan kesatrian ini tidak memalukan!"


Pandji mengabaikan banyaknya suara yang tertangkap pendengarannya. Dia masih menunggu kedatangan keluarganya, tepatnya ayahnya yang sudah mengabarkan akan datang bersama dengan beberapa orang pilih tanding dari kesatrian ternama.


"Berapa lama lagi ayahanda sampai sini, Mas?"


"Aku tidak tahu, Mika. Ayah menjemput beberapa teman lebih dahulu. Tapi mungkin semua akan terjadi pada puncak malam nanti," jawab Pandji pelan.


Persiapan sederhana yang dibuat Pandji telah selesai, dia hanya butuh energi ayahnya untuk menyalakan heksagram. Setidaknya setengah bagian.


Heksagram besarnya akan menguras mana sihir jika dipaksakan, dan menghadapi Nergal butuh banyak kekuatan. Pandji tidak mau mengambil resiko mati di tangan iblis pada usia tujuh belasan.


"Tugasku apa, Sobat?"


"Memimpin ksatria."


"Kenapa harus aku kalau soal itu?"


"Kemampuanmu hanya berbicara dan membakar emosi orang," jawab Pandji datar.

__ADS_1


Selanjutnya Pandji tidak ikut campur debat antara Mahesa dan Tirta mengenai kalimat yang harus diucapkan Aswanta saat mengobarkan semangat perang.


Terdengar seperti di film-film, tapi Pandji tetap membisu tidak memberi tanggapan.


Dalam diamnya, Pandji bekerja mengamati kubah kegelapan di depannya yang setiap detiknya beraura semakin pekat. Mata batinnya menembus ke dalam untuk mencuri lihat keadaan.


Ratusan orang berdiri di kubah bagian luar yang terletak paling dekat dengan tempat Pandji dan timnya berdiri.


Mereka adalah penduduk desa yang tubuhnya kuat sehingga bisa dimanfaatkan sebagai inang bagi pasukan Nergal. Pasukan utama yang akan dijadikan pion terdepan dan ditumbalkan lebih dulu untuk menghadapi serbuan Pandji dan aliansi putih ayahnya.


Di belakang mereka, berjarak sekitar dua ratus meter terdapat ribuan makhluk hitam berbagai rupa tegak berdiri dalam posisi siap siaga. Pasukan sejati Nergal yang dipimpin oleh beberapa panglima dengan tanduk dan sayap besar. Mereka juga hanya tinggal menunggu aba-aba dari Nergal untuk bergerak.


Dalam tubuh Dirga putra Mas Gun, Nergal berdiri di antara dua pasukan besarnya bersama tujuh paranormal berpakaian hitam.


"Yang Mulia … apakah Anda serius ingin turun tangan sendiri untuk menghadapi bocah yang lahir pada hari kiamat itu?" Salah satu panglima datang melaporkan situasi yang sedang mereka hadapi dan kesiapan pasukan manusia dan pasukan iblis yang dipimpinnya.


“Apa kita masih perlu menunggu? Bukankah jika kita bergerak sekarang kemungkinan menang akan lebih besar berpihak pada anda, Yang Mulia?" tanya Panglima Nergal menundukkan kepala.


"Kau salah! Kita memang harus menunggu semua orang datang. Semakin banyak manusia semakin baik, semakin banyak ksatria semakin ringan kerja kita ke depannya."


"Mohon maaf … saya masih tidak mengerti, Yang Mulia!" Panglima pasukan Nergal menunggu penjelasan dari pemimpin utama klan iblis.


Tidak langsung menjawab dan memberikan penjelasan tentang rencananya, Nergal larut dalam pikirannya sendiri.


Nergal sebenarnya setuju, semakin sedikit lawan semakin mudah dihabisi. Hanya saja waktu yang diberikan padanya untuk menyelesaikan misi, membuat Nergal memiliki pertimbangan lain.

__ADS_1


Sebelum kitab kuno itu terbuka untuk yang kedua kalinya dan dipelajari oleh perempuan dengan darah penyihir, sebelum semua mantra dalam kitab itu dikuasai oleh bocah dalam ramalan, Nergal harus sudah menguasai harta pusaka yang sangat berharga bagi dirinya dan klannya. Kitab tersebut tidak boleh lebih lama lagi berada di tangan manusia.


Meski pangeran pertama iblis harus memilih resiko besar dalam perang kali ini.


Ambisi Nergal untuk mengambil alih tubuh yang lebih bagus untuk pasukannya, rencananya untuk menjadikan ksatria-ksatria yang mendukung bocah dalam ramalan, keinginannya untuk menguasai para pemimpin kesatrian yang beraliansi membantu untuk berperang melawan pasukan iblisnya, jadi alasan lain kenapa Nergal harus menunggu semua manusia itu datang.


Nergal tidak perlu berburu ke pelosok desa dan membuang lebih banyak waktu untuk membentuk pasukan manusianya. Perang terbuka seperti sekarang adalah kesempatan emasnya. Dan mereka yang datang tidak akan diberikan kesempatan pulang.


Membayangkan banyaknya orang sakti yang akan menjadi bawahannya, Nergal menyeringai senang.


"Kau tidak perlu mengerti apa-apa, tapi yakinlah bahwa kita akan panen besar malam ini. Pasukan manusiamu akan berkali lipat lebih banyak dan lebih kuat karena berada dalam wadah yang istimewa nantinya, tubuh ksatria. Bukan lagi seperti warga desa yang ada di depan sana!" Nergal berbicara sarkas sambil menatap barisan manusia yang sudah tunduk dibawah perintahnya.


Panglima pasukan mengangguk setuju, "Sesuai perintah anda, Yang Mulia!"


"Karena aku juga ingin minum sesuatu yang sangat istimewa …," gumam Pangeran Nergal untuk dirinya sendiri. "Rasa haus ini semakin tak tertahankan, bau darah lanjaran sungguh menggelitik penciumanku."


Nergal mendongak ke langit malam dan tertawa lantang, mengendus udara manis dan menatap nyalang ke luar kubah tempat anak dalam ramalan berdiri dengan ekspresi menjengkelkan.


***


...Selamat menunaikan ibadah puasa, teman-teman!...


...Maaf ke depannya SP akan slow update karena Al harus bertapa selama Ramadhan....


...Salam sehat dan jangan lupa ngupi kalau malam!...

__ADS_1


...Cium jauh ~ Al...


__ADS_2