SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 32


__ADS_3

Pertandingan empat besar dilewati Pandji dengan cepat, Pakde Noto bahkan sempat menguap karena pertarungan Pandji yang terlalu sebentar.


Lawan tandingnya belum sempat mengangkat senjata ketika terhempas keluar arena pada serangan pertama Pandji.


Pandji melongo, dia hanya mengeluarkan setengah tenaga dan menunggu pemuda pendek di depannya menyerang. Dirasa terlalu lama, Pandji menebas kepalanya cepat.


Saat lawannya sibuk menghindar, tendangan Pandji telak mengenai dada dan membuat pemuda di depannya terlempar begitu saja.


Ups … aku sungguh tidak sengaja, kawan!


Pandji menyeringai polos karena pertandingan dihentikan wasit.


"Mas pandji, turnamen tahunan adalah pertandingan persahabatan … tidak diperkenankan melukai lawan apalagi membahayakan nyawanya!" seru Pakde Noto panik karena pemuda yang jatuh di luar arena itu tidak bergerak.


Pandji mengangguk mengerti, "Mohon maaf, Pakde! Saya tidak akan mengulanginya."


Tim medis menyatakan kemungkinan ada patah tulang rusuk.


Pandji sedikit shock dan merasa agak bersalah. Dia sungguh tidak menyangka kalau lawannya tidak sekuat yang ada dipikirannya.


Sementara Biantara maju ke babak utama setelah mengalahkan pemuda asal Solo dalam waktu yang cukup lama. Pertarungan menegangkan dan lumayan sengit.


Pemuda bersenjata tombak panjang itu sangat lincah saat melawan Bian, serangan cepat dan gerakan berlikunya membuat Biantara berang

__ADS_1


Dua pedang pendek Bian kesulitan menangkis beberapa serangan tusukan dari lawannya, meskipun akhirnya bisa menjatuhkan lawan, tapi Biantara juga harus menguras tenaganya.


Dibandingkan dengan Pandji yang sarat dengan keberuntungan, Biantara masuk babak utama dengan kerja keras.


Bian hanya bisa mengumpat dalam hati, karena setelah pertandingan yang melelahkan dia harus menghadapi Pandji yang masih segar bugar.


Cecunguk itu benar-benar diberkati, dia hampir tidak keluar tenaga untuk sampai babak utama. Aku yakin panitia telah mengatur pertandingan sehingga Pandji sialan itu mendapatkan lawan yang mudah dikalahkan!


Pandji tersenyum miring melihat Biantara mengakhiri pertarungannya dengan baju basah karena mandi keringat, dia pura-pura mencium keteknya saat Bian melihatnya dengan geram.


"Apa aku masih harum?" tanya Pandji pada Mika.


Tanpa mengendus, Mika menjawab datar, "Suruh saja Biantara datang kemari dan memastikannya!"


Pandji tergelak, “Ok, sekarang bisakah aku mendapatkan sedikit makanan ringan? Mulutku terasa asam."


Bukankah sebaiknya kamu memikirkan strategi apa yang harus kamu pakai untuk menghadapi monster dalam tubuh Biantara?


Dari awal, dia bertanding tanpa menggunakan kekuatan sihir hitam, sepertinya dia akan menunjukannya di pertandingan terakhir untuk menghadapimu!


Aku sudah merasakan aura gelap menyelimuti tempat ini, aku khawatir padamu!"


"Aku pasti baik-baik saja … dan ehm, jangan terlalu panjang kalau bicara. Aku takut kamu kena asma!" ujar Pandji datar. Dia menerima keripik ubi ungu, mengunyahnya tanpa beban pikiran dan berkata pelan, "Aku harus bersantai dan tenang sebelum bertanding, Mika."

__ADS_1


Pandji menyandarkan duduk dan memejamkan mata sambil memasukkan keripik ke dalam mulutnya, telinganya tak berhenti mendengar bisik-bisik penonton yang dengan kurang ajar memasang taruhan untuknya.


"Mika … bisakah kau memasang taruhan untukku?" tanya Pandji seraya mengulurkan dompetnya pada Mika. "Hanya untuk motivasi, kamu tau kan aku tidak suka kehilangan uang dengan sia-sia?"


Dengan geram Mika menerima dompet Pandji dan juga tasnya karena nomor Pandji sudah dipanggil untuk segera menuju arena, "Anak ini …!"


Berjalan santai tanpa ekspresi, Pandji naik ke arena bersamaan dengan Biantara yang juga naik dari sudut berbeda.


Lapisan kubah pelindung dirasakan Pandji lebih tebal dari sebelumnya,


Ayahanda pasti bekerja keras agar efek buruk pertandingan tidak sampai melukai penonton nantinya.


Dua pemuda tampan berdiri berhadapan dengan wajah beku, Biantara yang lebih tua beberapa tahun dari Pandji mengangguk singkat memperkenalkan diri. "Bian, kesatrian Hargo Baratan."


"Pandji … Putra Ganendra."


Bian menarik dua pedang pendeknya dan langsung mengalirinya dengan mana sihir. Mengambil jarak aman dari Pandji yang juga sudah bersiap dengan kedua pedang kembarnya.


TRANG!!!


Kedua pedang beradu dan bergesekan singkat menimbulkan suara nyaring menyakitkan telinga. Bian menatap ganas, benturan yang baru saja terjadi cukup membuat tangannya bergetar.


Dia sudah mengalirkan setengah lebih dari tenaga dalamnya untuk mengukur kekuatan Pandji, tapi sepertinya pemuda lawan tandingnya sama sekali tidak terpengaruh. Wajahnya tetap dingin dan matanya menatap Bian tanpa ekspresi.

__ADS_1


Bocah kecil ini … benar-benar jenis yang paling menyebalkan!


***


__ADS_2