SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 87


__ADS_3

Malam hari di rumah Pandji lebih ramai dari biasanya. Pemuda berkulit putih itu mengajak Aswanta dan dua teman barunya menginap.


"Sumpah ngantuk," kata Aswanta menguap lebar tanpa sungkan.


"Guru kekenyangan makan malamnya, makanya ngantuk … belum juga jam sembilan!" sahut Tirta menanggapi pernyataan Aswanta.


Pemuda yang dipanggil guru itu menaikkan satu alisnya tinggi, "Kau mau aku hajar sekarang? Yang pantas dipanggil guru itu Ayahanda Pandji di sini."


Tirta menyeringai keberatan, tapi mengangguk tak berdaya. "Jadi jam berapa kita akan latihan?


"Kita jadi berlatih malam ini?" tanya Aswanta pada Pandji yang sibuk menyalakan televisi dan play station.


"Main dulu bentar biar nggak tegang," jawab Pandji cuek. Dia memberikan satu wireless stick pada Aswanta dan memilih game balapan mobil.


"Kadang aku nggak ngerti pola pikir yang ada di kepalamu, Sobat! Kita sedang dalam keadaan genting dan kau malah ngajak main PS, kemarin menggebu-gebu mau cari ksatria muda untuk berjuang bersama," ucap Aswanta dengan tatapan tak paham.


"Hanya untuk meredakan syaraf yang tegang … apa salahnya dengan main PS sebentar saja?"


"Ya nggak ada."


"Kenapa protes?"

__ADS_1


"Aku pikir kami di sini untuk berlatih," lirih Aswanta.


"Oh … howling?"


"Pandji … serius dikit bisa nggak sih, yang melolong itu mereka, bukan kita! Emangnya kita bangsa werewolf pake acara howling at the moon," gerutu Aswanta kesal.


"Mobilmu nabrak tuh! Biar emosional konsentrasi jangan pecah, Aswanta!" ucap Pandji datar menunjuk layar permainan dengan stick.


Aswanta mendengus keras, merasa kesal karena Pandji biar mengeluh sedang pusing juga tetap bisa fokus … nggak seperti dia. "Nyerah dah!"


Setelah bermain beberapa kali dan tidak juga menang, akhirnya Aswanta benar-benar putus asa. Dia memanggil Raksa dan Gia untuk bergabung.


"Aku rasa udara Yogya lebih dingin dari biasanya," ucap Aswanta pelan, rasanya seperti di Kaliurang.


"Bukan hawa dingin biasa," sahut Mahesa. "Dingin mencekam dan lebih mistis daripada hawa Merapi."


Tirta ikut nyeletuk dengan serius, "Ini bukan dingin karena cuaca. Mungkin ada hubungannya dengan penunggu pantai selatan yang sedang berlatih elemen es … membekukan air laut!"


Sekonyong-konyong Pandji, Aswanta dan Mahesa menatap Tirta dengan ekspresi kasihan, setengahnya ingin memaki.


"Maksudmu mereka sedang latihan mengubah air laut menjadi es batu?" tanya Aswanta skeptis.

__ADS_1


Pandji terkikik geli, "Mungkin mereka mau bikin arena ice skating!"


Mahesa tergelak melihat raut terluka di wajah Tirta, "Maksudnya mungkin penunggu pantai mau alih profesi jadi bakul es dawet."


Tanpa merasa bersalah, Tirta menjawab, "Aku benar kan? Dingin itu memang berhubungan dengan Es."


Tiga pemuda temannya menyatakan setuju, Aswanta dan Mahesa mengacungkan dua jempol dengan alis terangkat tinggi. Sementara Pandji menguap lebar dan bergumam, "Bener, Dab!"


"Ini niat latihan apa nggak sih?" seru Mika dari dalam pendopo belakang. Dia meletakkan buku bacaan dengan raut marah karena terlalu lama menunggu Pandji dan teman-temannya.


Mika pikir menunggu di belakang sambil mengobrol dengan Atika akan menyenangkan, tapi gadis pendiam itu kebanyakan hanya mengangguk dan menggeleng atau bicara iya dan tidak saja menanggapi cerita Mika. Membuat Mika berang karena bosan dan memilih membaca buku sejarah.


Pandji menatap Mika sekilas, lalu bersuara pelan "Kalahkan mereka bertiga!"


"Kamu?!"


"Aku akan mengamati kekurangan masing-masing orang dan memberikan masukan," ujar Pandji monoton. Jari telunjuk dan tengahnya memberi kode dari mata tajamnya lalu mengarah ke Mika dan teman-temannya. "I am watching you."


Sudut bibir Mika berkedut melihat Pandji melenggang ke arah pendopo, duduk bersila di dekat Atika dengan segaris senyum tipis.


**"

__ADS_1


__ADS_2