SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 27


__ADS_3

Elok duduk lemas di ranjang Mika, kakinya tak bertenaga dan nafasnya tersengal. Tubuhnya masih gemetar meskipun sudah tidak ada apapun yang mengganggunya dari dalam, tapi wajahnya masih pias ketakutan.


Ibunda Pandji mengulurkan gelas berisi ramuan yang biasa dipakai untuk pengobatan. Ramuan rempah yang diracik sendiri dengan metode kuno. Elok menenggaknya perlahan, menunggu reaksi dingin dalam tubuhnya menghilang dan kembali normal.


"Elok boleh istirahat sebentar, setelah itu Mas Pandji akan mengantarmu pulang," kata Ibunda Pandji lembut dan berlalu meninggalkan kamar Mika.


Pandji yang berada di sana menatap Elok khawatir, "Apa yang kamu rasakan sekarang? Ada yang terasa sakit?"


"Aku hanya pusing dan agak bingung. Apa aku datang sendiri ke pesta ulang tahunmu atau bersama Biantara?"


"Apa kamu lupa?" tanya Pandji skeptis.


Elok menatap Pandji datar, "Aku tidak tahu ... aku bingung dengan ingatanku. Sepertinya aku datang bersama Bian, tapi aku merasa tidak yakin karena aku tidak pernah menyukainya, jadi mana mungkin aku bersamanya?"


"Lalu dimana Bian sekarang?"


"Aku rasa di rumahnya, dia tidak menyukaimu jadi dia tidak mungkin datang untuk mengucapkan selamat ulang tahun kan? Tapi … dia kan peserta turnamen, jadi bukan mustahil dia ada di sini . Apa dia datang?" tanya Elok linglung. Dia memijit keningnya yang berkerut tajam, mencoba mengingat yang baru saja terjadi.

__ADS_1


"Jadi kenapa kamu bisa pingsan di pesta? Kamu belum makan seharian atau sedang tidak enak badan?" tanya Pandji masih penasaran dengan ingatan Elok.


"Aku … pingsan? Yang benar saja kamu itu!"


" … " Pandji hanya menaikkan alis menahan senyumnya.


"Kamu tau kita satu sekolah dari kecil, emang pernah kamu lihat aku pingsan?"


Pandji menggelengkan kepala ringan. "Aku tidak tau, aku kurang memperhatikan. Maaf," ujar Pandji memasang raut sedih yang dibuat-buat.


"Ya aku memang bukan siapa-siapa sih, wajar kalau kamu nggak tau," sahut Elok masam.


Pandji baru saja akan menyuruh teman kecilnya untuk beristirahat ketika Mika dan Ratna masuk ke dalam kamar karena diminta Ibunda Pandji untuk menemani Elok.


Pemuda tampan itu merasa aneh di antara tiga perempuan cantik yang menatap dirinya lekat-lekat.


Apa ada yang salah? Aku hanya mengobrol … tidak melakukan yang lain! Apa arti tatapan kalian? Apa aku harus memilih salah satu?

__ADS_1


"Aku akan mengantarmu pulang satu jam lagi," kata Pandji memecah kesunyian.


Elok hanya mengangguk, "Terima kasih."


"Ini minumnya Mas Pandji mau ditaruh mana?" tanya Atika di depan pintu kamar.


Mata Pandji mengarah pada perempuan cantik lain yang membawakannya teh herbal dari Ibundanya, dia menggaruk kepalanya karena tiga wanita di dalam kamar itu juga melihat ke arah yang sama.


Rona merah di pipi Atika menyiratkan perasaannya pada Pandji, sementara tiga yang lain juga harus menahan perasaan antara marah, cemburu dan juga kesal.


"Sepertinya Ayahanda mencariku!" kata Pandji singkat. Dia meloloskan diri dari mata empat wanita yang sedang menebak isi kepalanya dan bukan tidak mungkin akan mengadilinya.


Pandji mengusap dagunya seraya berjalan santai ke pendopo depan dimana pesta masih berlangsung.


Aku tidak mungkin memilih salah satu dari mereka, meskipun ada yang bilang 4 adalah angka sial tapi aku menyukai itu karena jumlahnya besar. Lebih banyak gadis lebih baik kan? Uhuk …!


Sebaiknya aku tidak lagi membaca kisah para Raja atau Kaisar yang memiliki banyak wanita dalam haremnya, hal itu membuat otakku makin rumit dan serakah!

__ADS_1


***


__ADS_2