SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS
CH 106


__ADS_3

Dua pedang Pandji menari teratur mengurangi lawan dengan signifikan, wajah putihnya banjir oleh keringat.


Ekspresi dingin pemuda dengan rambut berantakan itu makin membeku ketika mendongak, melihat bola api dan petir yang masih saja terus menyambar kubah lanjaran.


Pandji khawatir. Dia menaikkan kecepatan berpedang dan berteriak lantang pada timnya, "Selesaikan sekarang teman-teman!"


Satu pemuda mayat yang dihadapi Pandji meludahkan cairan hitam setelah terkena sepakan di dada.


Tangan yang hanya tinggal kerangka itu berusaha mengusap kasar bibir sobek belepotan lendir. Pemuda itu bangkit dengan cepat.


Namun, Pandji tidak memberikan kesempatan. Dia kembali menendang hingga tubuh busuk itu terpelanting. Pandji menyambutnya dengan satu tebasan di leher, mengubahnya jadi abu sebelum menyentuh tanah.


Mika dan Raksa masih berkolaborasi dengan sangat serasi. Kekuatan pusaka tidak bisa dipungkiri ikut menentukan kecepatan mereka.


Tombak Raksa meliuk seperti ular, diimbangi oleh pendar belati beracun milik Mika, mereka pantas menjadi aktor utama sebuah film laga.


Meski tidak memakai pusaka dengan kualitas sebagus dan seistimewa milik keluarga Pandji, tapi Aswanta dan dua temannya tidak berkecil hati.


Dibandingkan senjata-senjata yang digunakan oleh ksatria Hargo Baratan, milik mereka masih lebih unggul. Pandji masih memberikan mereka senjata dengan kualitas elit.


"Aku sudah menghabisi tiga puluh satu, Guru!" seru Tirta kejam, amarahnya meluap mengingat kedua orang tuanya.


Mahesa menimpali gusar, "Kuasai emosimu, Tirta. Kau membahayakan kami jika terus bertarung seperti itu, aku kewalahan membagi mana pelindung padamu!"

__ADS_1


"Aku tidak akan menganggapmu sebagai murid jika kau tidak bisa diarahkan, Tirta!" kecam Aswanta. Pedang pendeknya menari ringan, lebih banyak membuat tebasan perlindungan untuk Tirta yang mengamuk dengan alunan pedang ombaknya.


"Oke … oke, aku mengerti! Tiga puluh dua, tiga puluh tiga …." Tirta mundur mendekati dua temannya yang bertarung tepat di balik punggungnya.


Mahesa menusukkan tombak kuningnya dengan ganas dan mengurai daging paha yang sedang membuat tendangan memutar ke arah kepalanya.


Bukan hanya menancap sempurna, Mahesa melepas tombak dengan cara memutarnya dengan cepat dan sadis.


Suara denting logam masih mengisi malam mesti tidak seintens beberapa waktu lalu. Jumlah mereka yang masuk kubah makin menipis dan mulai habis terbakar.


Abu hitam berterbangan dari tiap pertarungan, jeritan dan auman pendek terdengar samar dan hilang ditelan malam.


Di luar kubah, Badrika dan Andara masih bekerja sama menguras mana untuk meluruhkan kubah pelindung yang mulai retak.


Ledakan besar dan kecil terdengar bergantian, sebentar-sebentar kubah menyala seperti kembang api jika ada maroz yang menyentuh jaring tak kasat mata manusia.


Tiga panglima berbentuk chimera berjuang keras menyemburkan api untuk membantu kerja sama antara Badrika dan Andara.


Pandji menyeringai melihat tingkah polah iblis pasukan Badrika dari dalam kubah pelindung.


Semua pasukan manusia yang menyerang pertama memang sudah berhasil diatasi dengan baik.


Tapi tempat tinggalnya seperti sedang di bombardir oleh kekuatan gaib yang bisa menghancurkan apa saja.

__ADS_1


Andai kata tidak ada kubah yang memayung di atas, mungkin rumahnya sudah rata dengan tanah.


Tim Pandji sedang sibuk membangunkan ksatria yang pingsan, memberi ramuan penyembuh racikan Ibunda Pandji yang sudah dikemas dalam bentuk kapsul dan menunggu beberapa waktu sampai tenaga mereka pulih.


"Minum ini sekarang!" kata Aswanta yang membantu memberikan obat pada ksatria yang baru sadar. "Hei kamu … jangan keluar gerbang!"


Tirta menyeret lengan pemuda yang akan keluar gerbang dan memaksanya duduk di dalam pendopo bersama yang lain. "Sekali lagi kau berjalan ke sana, aku akan memotong kakimu dengan pedang. Paham?!"


Pemuda itu mengangguk takut meskipun Tirta berbicara dengan nada konyol. Dia segera menelan obat yang dijejalkan dalam mulutnya dan mengatur pernafasan sambil terpejam.


Rasa sakit pada seluruh badan perlahan menghilang, pikirannya menjadi jernih dan tenaganya kembali stabil. "Terima kasih, ketua!"


"Ketua? Tidak ada ketua kelas di sini, ini bukan sekolah. Ini kediaman keluarga Abisatya, pemilik kesatrian Putra Ganendra," jelas Tirta yang tidak paham dengan ucapan pemuda yang baru ditolongnya.


"Baiklah … terima kasih banyak, Mas …." ucap pemuda itu sambil mengangguk.


"Tirta, itu namaku!"


"Oke, selain mengucapkan terima kasih aku ingin tahu bagaimana aku bisa selamat?"


"Dengar kawan … kau memang sengaja diselamatkan! Tapi itu sama sekali tidak gratis, ada harga yang harus dibayar!"


Pemuda itu menatap Tirta skeptis, kepalanya berdenyut saat berpikir, sejak kapan ada jual beli nyawa di dunia?

__ADS_1


***


__ADS_2