
Nergal menyeringai sinis, ada kelegaan saat dirinya melihat Pandji yang mulai kewalahan menghadapinya. Nergal akhirnya memilih melepaskan tubuh Dirga yang mengungkung kekuatannya dan membiarkan putra mas Gun terkapar dengan luka dalam yang parah, tidak bergerak dan mungkin sedang sekarat.
Berdiri tegak dengan tubuh aslinya, Nergal tampak lebih gagah dan kokoh. Moncong bertaring yang menembus rahang bawah menjadi pemandangan mengganjal di mata Pandji, dilengkapi dengan dua tanduk yang menjulang … Nergal benar-benar tampak seperti iblis sejati.
Punggung Nergal melengkung meskipun dia berdiri tegap, berpunuk lebih dari satu dan memiliki sayap hitam yang tumbuh di sekitar punggung, hal unik yang menjadi penyempurna bentuk tubuh salah satu pangeran dari alam kegelapan tersebut.
Kali ini, Pandji berkali-kali harus membekukan udara di sekitarnya untuk menghalau cakar tangan kiri Nergal. Sesekali juga harus mengadu Damar dan Asih dengan pedang panjang Nergal.
Iblis hitam di depannya itu sudah tidak lagi memikirkan pusakanya yang bergaris tajam di beberapa bagian. Mungkin hanya menunggu waktu saja untuk patah atau malah hancur saat berbenturan dengan Damar Asih.
Nergal bertarung dengan cepat, serius dan lebih banyak diam setelah mengetahui kalau Ayah Pandji mampu mengimbangi tujuh paranormal yang sudi membuka portal mini untuk menyeberangkan pasukannya.
Sebelum semua menjadi berbalik arah dan membahayakan pasukannya yang mulai menang dalam pertarungan melawan tim Aswanta, Nergal beritikad menghabisi Pandji sebagai tekanan mental bagi seluruh aliansi dan ayahnya.
Hasilnya, Nergal memang jauh lebih unggul saat tidak lagi berada di dalam tubuh Dirga. Dia mampu melukai Pandji dan membuat pemuda di depannya itu beberapa kali muntah darah.
Sabetan pedang Nergal sangat mematikan pada bagian kepala Pandji.
"Dari sekian banyak tempat yang bisa kau serang, mengapa kau selalu mengincar wajahku?" Pandji melompat menghindar dengan nafas tersengal.
Nergal tidak menjawab apalagi menanggapi pertanyaan tidak penting dari musuhnya.
"Apa kau iri denganku? Kau bisa mulai dengan memangkas taring dan tanduk jika ingin terlihat lebih keren," sambung Pandji jengkel.
__ADS_1
Tebasan Nergal yang mengarah ke lehernya ditangkis dengan kekuatan Damar Jati. Cahaya biru terang mewarnai dua pusaka yang bersinggungan penuh tenaga.
BLAR!!!
Pandji terpental jatuh beberapa meter setelah beradu kekuatan yang sudah terjadi ratusan kali dalam beberapa jam terakhir. Dadanya panas dan darah mulai mengalir deras dari sela bibirnya.
Sementara Nergal yang hanya terhuyung menyeringai bengis, mendongak dan mengaum keras seraya mengarahkan pedangnya menghadap langit.
DUAR!!!
Ledakan besar dan cahaya hijau pekat laksana kilat turun dari langit menyambar pedang Nergal. Menyelubungi bilahnya dengan pendar listrik kehijauan dan asap hitam pekat.
Nergal lalu menghunus pedang tersebut ke arah Pandji dan berkata lantang, "Kematianmu sudah tiba, anak kecil!"
Mendengar ancaman Nergal, Mika yang sedang mengembalikan tenaga terkesiap. Skill eyesnya memindai mana sihir yang luar biasa besar bakal dilepaskan Nergal melalui pedangnya.
Mika membatalkan niatnya untuk bermeditasi lebih lama, dia berlari menyongsong Pandji tanpa memikirkan apa-apa lagi. Bahkan tidak sempat pamit pada wanita bercadar yang masih meladeni penduduk desa yang jumlahnya sudah tidak terlalu banyak lagi.
"Pandji!" jerit Mika mengingatkan pemuda yang sedang berusaha bangun dari jatuhnya.
Selarik cahaya hijau pekat yang keluar dari pedang Nergal dengan telak menghantam Mika yang memasang dirinya untuk keselamatan Pandji. Dua belati yang menyilang di depan dada Mika tak sanggup menahan mana sihir Nergal.
BLAR!!!
__ADS_1
Satu letusan besar terdengar menyakitkan, diikuti hujan kembang api berwarna hijau dan merah di udara yang memercik dari dua kekuatan pusaka yang baru saja beradu.
Mika seperti tersapu badai, tubuhnya melayang di atas tanah … terpental ke belakang hingga menabrak dada Pandji yang menangkapnya dari belakang. Gadis cantik itu mengaduh, muntah darah sangat banyak dan sekarat seketika karena mayoritas pembuluh darahnya pecah di dalam tubuh.
Pandji menurunkan Mika yang mulai pucat membiru, menjejalkan ramuan dari ibundanya ke mulut Mika dan memaksanya menelan dengan bantuan tenaga dalam.
"Jangan pergi, Mika! Aku mohon!" kata Pandji lirih di telinga perempuan yang selalu mengikutinya dengan setia.
Nergal menyunggingkan gigi taringnya dan kembali mendongak ke langit malam, mengisi pedangnya dengan energi sihir dari kegelapan yang berkumpul di angkasa.
Wajah Pandji mengeras menahan marah, "Damar!"
"Mas Pandji tidak akan mampu menghadapi Nergal dengan kekuatan yang ada sekarang!" Damar Jati berbisik pelan dalam pikiran Pandji, memutuskan kalimat Pandji yang belum diungkapkan semua.
"Aku tau maksudmu, Damar! Sihir pedang darah? Aku juga tahu ini sihir terlarang dan dianggap hitam … tapi untuk Mika dan semua ksatria yang telah gugur, aku tidak perlu lagi berpikir ulang sekarang!" Pandji berbicara dalam gumaman pendek.
"Sendiko, Mas Pandji! Mohon maaf sebelumnya jika nanti ada yang terasa tidak nyaman dan mungkin menyakitkan!"
Damar Jati mempersiapkan diri bersamaan dengan Pandji yang mulai melepaskan mantra. Mana sihir meruap di seluruh tubuh Pandji. Dia membiarkan Asih Jati lepas dari tangan dan melayang di udara.
Pandji hanya menggenggam erat pedang hitam berpendar biru di tangan kanan, siap menggunakannya untuk ritual sihir pedang darah yang sedang dirapalnya.
***
__ADS_1