Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)

Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)
Selling My Virginity Ch 97.


__ADS_3

Pulang dari rumah sakit. Amanda dibantu asisten pribadinya untuk mencarikan tas yang ia kenakan waktu di Paris. Saat sudah ketemu asisten nya itu menjemput Amanda di rumah sakit.


“Ini dia Nona tas nya,” ucap sang asisten seraya memberikan tas tersebut kepada Amanda yang duduk di kursi belakang mobil.


“Makasih ya, tolong kamu juga urus mobilku. Bawa ke bengkel dan perbaiki bekas tabrakan itu,” ucap Amanda.


Ia pun mulai menggeledah isi di dalam tas tersebut. Mencari sebuah kartu nama yang dia selipkan di dalam tas nya itu.


“Huh, ini dia. Aku kira aku kehilangan kartu nama pria brengsek ini,” ucap Amanda menatap sebuah kartu nama yang dia pegang.


Tanpa menunggu lama, ia pun menghubungi nomor telpon yang tertera di kartu nama itu. Dewa Ardhias, CEO pemilik sebuah club malam bernama Claude’s , dan juga Home Design Tatto.


“Sepertinya aku sudah gila, untuk meminta pertanggung jawaban dari pria ini. Club malam dan rumah pembuatan tato? Yang benar saja, dia bukan pria baik-baik!”


Amanda menghela nafas dalam dan mencoba menjernihkan isi kepalanya. Semua yang terjadi akhir-akhir ini sudah membuat dirinya menjadi gila. Pertama diusir dan sekarang hamil anak pria asing yang tidak dikenalnya. Sungguh miris kehidupan nya.


“Dia tidak mengangkat telpon nya,” gerutu Amanda.


“Pergi ketempat ini,” ucap Amanda seraya memberikan kartu nama itu kepada sang asisten. Dengan sigap asisten nya langsung tancap gas menuju alamat yang tertera.


Tidak berselang lama mereka sudah sampai. Di sebuah ruko lantai dua yang bertuliskan ‘Home Design Tatto’ di depan nya. Asisten Amanda pun masuk ke dalam nya dan dalam lima menit dia kembali lagi ke dalam mobil.


“Ini dia Nona, alamatnya,” ucap Asisten memberikan secarik kertas kepada Amanda.

__ADS_1


“Antar aku ke tempat ini,” titah Amanda kemudian.


***


Sesampainya di tempat tujuan, sebuah apartemen yah tidak sebesar tempat apartemen dimana Agil tinggal. Tapi ya lumayan menurut amanda. Amanda langsung keluar dari mobil. Berjalan dengan lenggak-lenggok memasuki lobby apartemen. Menggunakan lift menuju lantai 10, setelah itu dia langsung menuju unit 145. Tempat Dewa tinggal.


Sudah ketiga kalinya Amanda menekan bel di pintu unit bertuliskan 145 itu. Dia mulai kesal, ia pun berniat untuk pergi saja. Karena merasa mungkin tidak ada orang di dalam nya.


Tapi ketika dia hendak pergi, pintu unit itu terbuka. Keluarlah seorang pria dengan celana jeans hitam dan tanpa menggunakan apapun di bagian tubuh atasnya. Berdiri di depan pintu tersebut.


Amanda mengerutkan keningnya, menatap pria itu dengan kesal. Sedangkan pria itu menatap heran kepada Amanda.


“Kenapa lama sekali bukanya?” decak Amanda yang langsung menerobos masuk ke dalam apartemen itu.


“Apa yang kamu lakukan? Bukan kah kamu cewek yang waktu di Paris itu?” Dewa mengingat siapa Amanda. Ia menatap Amanda yang duduk di sofa ruang tamu apartemen nya.


“Kamu sedang apa? Ada yang ingin aku bicarakan padamu,” ucap Amanda sedikit dingin tanpa menatap wajah Dewa.


Belum sempat Dewa me jawab. Pintu kamarnya yang tidak jauh dari ruang tamu terbuka. Seorang wanita yang hanya mengenakan handuk di tubuhnya keluar.


“Dewa, kamu kok lama sih ... katanya kita mau main lagi?”


Dewa menggaruk-garuk kepalanya, sambil menatap wanita itu dan Amanda secara bergantian. “Sial!”

__ADS_1


“Sepertinya aku sedang mengganggu mu,” ucap Amanda ketus seraya beranjak dan hendak pergi tapi tangan nya ditahan oleh Dewa.


“Tunggu dulu, kamu tidak menggangguku. Aku sudah selesai dengan urusan ku, kita bisa bicara.”


Dewa melototi wanita itu. “Dewa, kamu nyebelin!” decak wanita itu seraya kembali masuk ke kamar. Lima menit dia sudah memakai bajunya dan pergi tanpa pamit dengan wajah masam. Tabiat nya Dewa yang tidak bisa dihilangkan, tidur dengan wanita mana pun sesukanya. Bukan hanya dengan Melanie, dia juga berhubungan intim dengan wanita lain.


“Apa kamu mau minum sesuatu?” tanya Dewa.


“Tidak!” jawab Amanda ketus.


“Ya tuhan, maafkan segala kesalahan ku selama ini. Tapi gak gini juga, kau menjauhkan Agil yang pria sempurna tanpa kekurangan dari ku, lalu mendekatkan pria brengsek seperti ini padaku. Sungguh buruk nasibku,” batin Amanda.


“Jadi apa yang mau kamu bicarakan padaku?” Dewa duduk di sofa tepat dihadapan Amanda.


Amanda menaruh sebuah amplop coklat di hadapan Dewa. Dengan wajah keheranan Dewa meraih amplop itu. Seketika matanya terbelalak, dia menatap Amanda yang memalingkan wajah ke arah lain.


“Apa ini? Kamu hamil? Lalu apa hubungan nya dengan ku?”


“Dasar brengsek, tentu saja ini berhubungan dengan mu! Anak ini adalah anak mu, apa kamu lupa apa yang sudah kamu perbuat terhadapku malam itu?”


Amanda tersulut emosi, dia melempar kertas-kertas itu ke wajah Dewa. Dewa hanya bisa mematung tak percaya dengan apa yang dia lihat. Dia pun mulai berpikir, bahwa mang ada benarnya yang diucapkan Amanda.


Dia selalu bermain memakai pengaman. Meskipun itu bersama Melanie sekalipun, ia tidak pernah melupakan pengaman. Tapi malam itu, saat bersama Amanda. Dewa melupakan pengaman, mungkin karena efek mabuk berat. Ia sampai tidak berpikir apa-apa lagi, yang ada dalam pikiran nya hanya hasrat yang perlu tersalurkan. Yah, pada akhirnya tumbuhlah sebuah janin di rahim Amanda.

__ADS_1


Entah seperti apa kelanjutan hubungan keduanya. Bagaimana Dewa akan memberitahu Melanie mengenai Amanda. Dan apa yang akan dia lakukan untuk bertanggung jawab terhadap Amanda.


__ADS_2