
“Dion, cepat siapkan mobil!” perintah Daniel sambil menggendong Kaisar menuruni anak tangga.
Pria dengan setelan jas abu-abu dan kemeja putih itu, nampak terkejut melihat Tuan Muda nya pingsan. “Baik, Tuan!” jawab Dion sigap.
Dion berlari mendahului Daniel dengan cepat menuju pintu luar. Sedangkan Ratu yang mendengar kericuhan dan suara besar sang ayah yang berteriak. Keluar dari kamar dan terkejut melihat Kaisar tidak sadarkan diri dalam pelukan sang ayah.
“Ayah, apa yang terjadi dengan Kaisar?” tanya nya panik mengikuti langkah sang Ayah di belakangnya.
“Kai, pingsan ... kamu tetap dirumah, Ayah akan mengabari kondisi Kaisar padamu,” jawab Daniel.
“Tapi, aku ikut Ayah. Aku khawatir dengan kondisi Kaisar, hiks hiks,” ucap Ratu mulai menangis.
“Dengarkan ayah, kamu tetaplah dirumah!” titah Daniel kembali dengan mata melotot.
Seketika Ratu terdiam dan menghentikan langkahnya. Dia sadar bahwa perintah sang ayah tidak bisa diganggu gugat, apalagi dibantah.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, sesekali Dion melirik ke arah kaca sepion tengah. Melihat keadaan Kaisar yang terbaring lemah dengan paha Daniel yang menjadi bantalan nya.
“Tuan, apa yang terjadi dengan Tuan Muda Kaisar?” tanya Dion.
__ADS_1
“Entahlah, dia tiba-tiba pingsan ... kata Ratu dia Kai memang sudah tidak enak badan saat disekolah,” jawab Daniel.
“Dion, cari tahu anak yang sudah berani mengganggu Ratu dan Kaisar disekolah nya ... pastikan mereka tidak lagi bersekolah ditempat yang sama!”
“Baik, Tuan!”
Daniel merasa tidak terima jika ada yang mengganggu anak-anaknya. Apalagi jika sampai membuat salah satu anak nya terluka. “Kaisar bertahan lah,” lirihnya menatap sendu wajah Kaisar.
Tidak berselang lama. Sampailah mereka disebuah rumah sakit besar Husada. Dion segera keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Daniel.
Pria itu menggendong tubuh sang anak dan berlari kencang memasuki ruang UGD rumah sakit. Berteriak meminta pertolongan untuk sang anak yang terkulai lemas.
“Silahkan, Tuan ... rebahkan anak nya di sini,” ucap salah satu perawat.
Melihat Kaisar yang semakin melemas, membuatnya hampir gila. Ingin rasanya dia berteriak sekencangnya, agar para perawat dan juga dokter memeriksa anaknya.
“Tuan, bersabar ya ... dokter kami akan segera datang,” jawab perawat wanita dengan lembut, untuk menenangkan Daniel yang panik.
“Saya mau sekarang! Jika terjadi sesuatu pada anak saya karena keterlambatan kalian, saya akan membuat rumah sakit ini ditutup!” Daniel melotot dan membentak habis-habisan perawat yang mencoba menenangkan nya itu.
__ADS_1
Tidak lama kemudian dari belakang nya, terdengar suara langkah kaki seseorang mendekat.
“Ada apa ini?” tanya seorang wanita dengan suara lembut tepat dibelakang Daniel.
“Dokter, ini dia pasien anak usia sepuluh tahun ... katanya tadi tiba-tiba pingsan,” jawab perawat yang tadi sempat dimarahi oleh Daniel.
“Tuan, bisa misi sedikit dan tenang, saya akan memeriksa anak anda,” ucap wanita tadi yang diketahui adalah seorang dokter.
“Kalian ini bisa kerja apa tidak? Kenapa lama sekali pergerakan kalian!” bentak Daniel.
Daniel pun menoleh dan menatap tajam wanita yang ada dibelakang nya. Seketika mata nya melotot dan saling bersitatap dengan mata wanita tersebut.
“Wanita aneh!” batin Daniel.
“Pria semalam!” batin Freeya.
Mulutnya berkedut, kakinya seakan mati rasa. Susah sekali untuk melangkah. Freeya menelan salivanya yang sekeras batu.
“Ma-maaf, Tuan ... saya akan memeriksa anak anda segera,” ucap Freeya.
__ADS_1
Freeya melewati Daniel dan langsung mendekati Kaisar. Memeriksa keadaan Kaisar dengan hari yang tidak tenang. Banyak pertanyaan yang bersarang dikepalanya. Tapi Freeya mengesampingkan itu semua, karena baginya keselamatan pasien adalah yang utama.
To be continued...