
Semilir angin menyejukkan, menerbangkan helai demi helai rambut Beby. Begitu indahnya pemandangan dibawah sana, jika melihatnya dari balkon teras lantai dua rumah mewah tersebut.
Bagas dan Agil tengah berdiri menatap Beby, Linda dan juga Prayoga yang tengah berbincang di taman belakang. Akan kah keluarga yang sangat dirindukan oleh Bagas itu akan bersatu kembali?
“Apakah ini bonus yang kau maksud?”
Bagas menatap skeptis Agil yang terus tersenyum, pandangan nya tidak bisa berpaling dari Beby sedetik pun.
“Dia sangat cantik,” ucap Agil.
Bagas ikut memfokuskan pandangan nya kepada Beby. Adiknya itu memang sangat cantik. “Tentu saja dia cantik ... secara kecantikan nya itu turun dari ketampanan ku,” ucap nya percaya diri.
Agil menyipitkan matanya menatap pria disampingnya itu yang terlalu percaya diri. “Cih.” Agil berdecih dan terkekeh.
“Kenapa? Itu memang benar, dia adik ku tentu saja dia cantik,” ucap Bagas dengan wajah masam.
“Terserah,” sahut Agil singkat sambil geleng-geleng kepala menanggapi sifat sahabatnya itu yang selalu percaya diri.
“Aku baru sadar sekarang ... ternyata sifat sombong dan percaya diri Beby yang tinggi itu, turun dari dirimu, Bagas,” batin Agil.
__ADS_1
“Kenapa menatap ku seperti itu, ingat kamu harus sopan padaku ... jika tidak aku tidak akan merestui hubungan kalian,” celetuk Bagas tersenyum miring.
“Cih ... tidak perduli! Meskipun kamu tidak merestuinya, aku akan menculik Beby dan membawanya jauh darimu,” sahut Agil tidak mau kalah. Ia menyeringai begitu licik.
“Awas saja kalau kamu berani ... aku tidak mau berpisah lagi dengan nya,” ucap Bagas menatap sendu Beby yang sedang tersenyum dibawah sana.
Agil merasa senang melihat Bagas yang begitu menyayangi Beby. Terkadang takdir suka mempermainkan kita. Seperti takdir yang mempermainkan kehidupan Agil. Tidak pernah sebelumnya dia berpikir bahwa ia akan di pertemukan dengan wanita seperti Beby. Terlebih pertemuan mereka yang sangat tidak wajar. Sifat dan sikap yang dimiliki Beby, jauh dari kriteria wanita baik-baik.
***
Disisi lain. Ditengah-tengah perbincangan mereka. Linda tidak sengaja melihat Agil dan juga Bagas yang tengah berdiri memandangi mereka dari balkon atas. Dilihatnya Agil yang tidak berhenti menatap ke arah Beby.
“Bunda,” panggil Beby.
“Aku sangat merindukan Freya dan juga Aiden.”
“Kalau begitu sebelum malam, sebaiknya kita pulang. Bunda juga sudah memberitahu Nenek dan Kakek mu, bahwa kau ada di Amsterdam.”
Beby mengangguk dan berjalan ke arah meja yang tidak jauh dari tempat nya berdiri. Meraih tas nya dan melingkarkan di tubuhnya.
__ADS_1
“Kalau begitu ayah akan mengantar kalian,” ucap Prayoga.
Beby tersenyum sambil menggeleng. “Tidak usah, ayah. Agil sudah bilang akan mengantarku dan bunda pulang.”
Agil pun muncul bersama dengan Bagas. “Apa kau sudah mau pulang, Moe?” tanya Agil mendekati Beby.
“Moe?” Linda nampak kebingungan, mendengar Agil memanggil anaknya dengan sebutan Moe.
Beby tersenyum sambil mengangkat kedua bahunya. “Aku akan menghubungi mu, ayah.”
Ia memeluk Prayoga dengan begitu hangat. Lalu beralih memeluk Bagas sang kakak. “Aku pergi dulu, kak.”
“Hati-hati,” ucap Bagas seraya mengusap lembut pucuk kepala Beby. Beby merasa kembali menjadi gadis kecil lagi, karena perlakuan hangat dari Prayoga dan juga Bagas padanya.
“Ayo, sayang.” Beby merangkul Agil dengan mesranya. Linda hanya bisa diam dan menahan diri untuk bertanya mengenai Agil kepada Beby.
“Bagas, Tuan Prayoga, kami pamit,” ucap Agil sopan sambil tersenyum.
“Awas saja jika ada yang lecet sedikit saja di tubuh Beby,” celetuk Bagas tersenyum meledek kepada Agil.
__ADS_1
“Cih, awas kau yah. Hari ini kau menang, tapi besok-besok aku tidak akan membuatmu bisa pulang. Kerjaan menumpuk di kantor,” sahut Agil menggigit bibir bawahnya karena gemas.
Agil pun mengantarkan Beby dan Linda pulang menuju rumah Nenek dan Kakek Beby. Tempat dimana Linda dan adik-adik Beby tinggal sementara setelah perceraian nya dengan Arsyad Endrawira.