
Sore harinya. Keadaan kantor sudah sangat sepi. Bagas mencari-cari Nina yang ternyata sudah pulang lebih awal. Sayang sekali pikirnya. Padahal hari ini Bagas ingin mengantarkan Nina pulang.
“Sudahlah, aku akan menelpon nya nanti ... mungkin sekarang dia masih dijalan,” gumam Bagas dengan tidak bersemangat.
Ia duduk di dalam mobil menunggu Dian selesai mengisi absensi pulang nya. Setelah selesai, Dian secepatnya kembali ke mobil.
“Dian,” panggil Bagas.
Dian menoleh ke belakang karena mobil masih berhenti. “Apa ada yang bisa saya bantu, Tuan?”
“Tolong kamu cari tahu alamat rumah orang yang ada di dalam foto ini,” titah Bagas.
Bagas memberikan secarik foto kepada Dian. Mata Dian terbelalak. Dia mengenali pria yang ada di foto itu. “Bukan kah ini pria yang biasa mengantar dan menjemput Nona Nina?” batin Dian.
“Ada apa? Apa kau mengetahui sesuatu?” tanya Bagas yang menangkap raut wajah terkejut Dian.
“Saya sering melihat pria ini, Tuan,” jawab Dian sembari memperjelas matanya menatap foto tersebut. “Benar Tuan. Saya yakin dia orang yang sama.”
“Benarkah? Dimana kau melihatnya?” tanya Bagas lagi dengan sedikit bersemangat.
“Ini pria yang sering mengantar dan menjemput Nona Nina kerja, Tuan.”
“Apa? Jangan sembarang bicara, katakan yang benar dimana kau melihat pria ini?” Bagas nampak tidak percaya dengan ucapan Dian.
“Saya tidak sembarang bicara, Tuan. Coba saja Tuan tanya sendiri kepada, Nona Nina.” Dian mengerutkan keningnya sambil menggeleng.
“Hmm, baiklah akan coba aku tanyakan padanya nanti. Aku merasa sedikit lelah, kita langsung pulang saja.”
“Baik, Tuan.”
Dian pun langsung menuruti perkataan Bagas. Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju apartemen Bagas.
“Apa benar yang dikatakan Dian? Apa pria ini kakak ipar yang di maksud oleh Nina tadi pagi? Aku akan menghubunginya nanti,” batin Bagas.
🌺🌺🌺
Disisi lain. Hari sudah mulai gelap. Langit senja menampakan cahaya jingga yang begitu indah. Nina turun dari taksi yang ditumpanginya berhenti di depan rumah Bibinya Fitriani.
“Terima kasih, Pak.”
Nina menerima angsulan dari ongkos taksi yang dia bayar. Lalu ia melangkah menuju pintu depan. Nina merasa sedikit aneh, kenapa sangat sepi. Biasanya suara celotehan Gio sudah terdengar di teras rumah. Tapi sekarang ini suasana sedikit hening.
Nina masuk kedalam rumah itu. Dia disambut dengan senyuman dan kehangatan oleh Fitriani sang bibi. Nina mengerutkan dahi menatap Fitriani yang tersenyum menggandengnya menuju ruang tamu.
“Kak Gerry? Tante Rosa juga ada disini?”
Nina terkejut mendapati Gerry dan Ibunya Rosa. Wanita paruh baya yang memakai pakaian mahal itu menatapnya sinis. Dari awal Rosa memang tidak suka dengan Nina. Karena itu dia selalu melemparkan tatapan sinis kepada Nina setiap kali bertemu.
__ADS_1
“Bibi, ada apa ini? Apa ada hal penting?” tanya Nina menatap Fitriani kebingungan.
Fitriani menarik Nina duduk bersama diruang tamu. Nina semakin merasa tidak enak. Apa jangan-jangan ini...
Nina menggelengkan kepalanya, menepis pemikiran buruk yang terlintas.
“Nin, sebenarnya tujuan aku dan Mamah kemari untuk-” Belum selesai Gerry berkata, Nina memotongnya dengan cepat.
“Tunggu dulu, Gio ada dimana, Bi? Kok aku gak ada dengar suaranya sejak tadi? Aku mau cari Gio dulu, mungkin dia ada dikamar?”
Nina beranjak dari duduk nya. Namun Fitriani sang bibi kembali memaksanya untuk duduk. “Kita sedang bicara penting, sebaiknya kau tetap disini. Gio baik-baik saja,” ucap Fitriani pelan berbisik dengan nada kebencian nya biasa kepada Nina.
“Tapi menurutku, Gio lebih penting. Aku mau cari Gio dulu,” decak Nina yang menjadi kesal. Karena merasa sang bibi hendak menahan nya bertemu dengan Gio.
“Ishh, kau ini anak tidak tahu diri yah. Berhenti membantah.” Fitriani mencengkram lengan Nina dengan kuat.
“Bibi lepaskan, tangan ku sakit!” Nina marah dan membentak Fitriani.
“Nina, tenanglah dulu. Gio ada padaku, saat ini dia ada di villa ku,” sahut Gerry secara tiba-tiba.
Sontak membuat Nina menatap tajam ke arah nya. “Apa maksud kakak? Hari ini bukan giliran kakak menjaganya? Lagipula ini sudah jam berapa? Kenapa tidak membawanya pulang.”
PLAK.
“Kenapa kau tidak sopan? Aku tidak pernah mengajari mu seperti itu!”
“Nak Gerry itu niatnya baik. Asal kau tahu, tidak ada pria yang mau menikahi mu. Dan sekarang ini ada Nak Gerry yang bersedia menikah dengan wanita yatim piatu seperti mu, seharusnya kau itu sadar.”
Deg.
Seperti tersambar petir saat itu juga. Perasaan apa ini, hatinya seperti di pukul palu godam yang sangat kuat. Kata-kata yatim piatu itu memang benar, tapi tidak ada yang mau menikahimu? Itu kata-kata yang berhasil membuat hati Nina hancur.
“Menikah? Apa maksud Bibi? Siapa yang mau menikah?”
“Tentu saja kau dan Nak Gerry.” Fitriani menyilang tangan di depan dadanya. Lalu menatap Nina dengan penuh kebencian. “Syukur-syukur masih ada yang mau, jangan jual mahal kamu!”
“Bibi!” teriak Nina yang sudah tidak tahan lagi. Membuat semua orang yang ada di ruangan itu terkejut. Fitriani memukul kepala Nina dengan keras.
“Kau ini anak kurang ajar! Kenapa kau meneriaki ku? Dasar brengsek kau ini.” Dia terus memukuli kepala Nina berulang-ulang kali.
“Silahkan bibi pukul saja aku. Tapi jangan bibi memaksaku untuk menikah. Aku tidak mau, hiks hiks.” Nina menangis tanpa ada perlawanan terhadap pukulan yang dia terima. Meskipun kepalanya terasa sakit.
“Bibi sudah, jangan pukul lagi. Kasihan Nina.” Gerry menarik Nina kedalam pelukan nya. Menghindari pukulan Fitriani.
Rosa yang melihat drama keluarga itu. Merasa muak dia pun memilih pergi dan kembali menunggu Gerry di mobil mereka.
“Lepaskan aku!” teriak Nina lagi.
__ADS_1
Dia melepaskan tangan Gerry yang memeluk nya erat. Didorong nya Gerry dengan kuat. Hingga tidak sengaja menabrak sebuah bufet.
“Owwh, dasar kau yah. Kenapa kau menyakiti Nak Gerry. Sini biar ku eri kau pelajaran!” Fitriani kembali ingin memukul Nina. Tapi tangan nya di tahan oleh Gerry.
“Bibi, berhenti. Aku akan coba bicara pada Nina.”
Gerry pun melangkah mendekati Nina yang terduduk dilantai di pojok ruangan sambil menangis. Di sentuhnya pundak Nina, namun kembali ditepis oleh wanita itu.
“Nina, tolong kamu dengarkan aku. Aku hanya ingin kau hidup lebih baik, dan aku yakin bersamaku kau akan bahagia. Kita bertiga, kau aku dan Gio tentunya.”
“Jangan membawa-bawa Gio jika niatmu hanya untuk menyenangkan dirimu sendiri! Aku tidak sudi menikah dengan mu, jangan kan menikah, sebenarnya aku sangat risih jika bersentuhan dengan mu!”
Nina tidak bisa menahan emosinya lagi. Dia mencengkram kerah kemeja Gerry dengan kuat dan menatap nya dengan penuh kebencian.
“Jadi kau benar-benar tidak mau menikah dengan ku?” tanya Gerry yang tatapan nya berubah dingin.
Nina merasa aneh namun dia tidak perduli. “Jangan harap! Kau itu brengsek, cinta mu kepada Kak Naina semua palsu! Aku tidak sudi!”
“Awwwh!”
Nina meringis ketika Gerry tiba-tiba mencekik lehernya. Tatapan pria itu begitu mengerikan seperti iblis buat Nina.
“Berhenti menghinaku! Kau itu wanita tidak tahu diri, selama ini aku sudah banyak bersabar. Setiap kali kau menatapku dengan tatapan itu, seolah kau sangat jijik kepada ku!” ucap Gerry pelan namun penuh penekanan.
“Pikirkanlah baik-baik, jika kau masih ingin bertemu dengan Gio! Kau harus menikah dengan ku,” ancam Gerry.
Gery mendekat dan langsung melahap bibir Nina secara rakus. Nina menggigit bibir Gerry hingga berdarah. “Shit! Dasar wanita jalang,” umpat Gerry yang melepaskan tangan nya dari leher Nina. Memegangi bibirnya yang berdarah.
“Jangan harap aku mau menikah denganmu, bajingan!”
Gerry pun pergi dari rumah itu. Dia menyusul Rosa yang menunggu dimobil. Mobil pun menyala dan pergi dari rumah tersebut. Dengan penuh emosi Gerry mengendarai mobilnya. Rosa merasa senang jika Nina menolak lamaran anak nya. Karena dari awal Rosa tidak setuju dengan keputusan Gerry yang hendak menikahi Nina.
Sedangkan masih didalam rumah. Fitriani semakin merasa gemas. Dia menjambak rambut Nina dengan kuat. Menyeretnya masuk ke dalam kamar.
“Bibi, apa yang kau lakukan? Awwh, sakit!” Nina terus meringis. Dia terkejut melihat Fitriani yang memegang sebuah gunting.
“Jangan Bi, aku mohon jangan,” melas Nina.
“Kau harus diberi pelajaran!”
Dalam sekejap rambut panjang Nina. Digunting secara brutal oleh Fitriani, hingga bentuknya yang sembarangan. Nina meneteskan air matanya memegangi rambutnya yang berjatuhan kelantai. Setelah menyiksa Nina dengan habis-habisan. Fitriani melemparkan koper dan baju-baju Nina keluar rumah. Dia mendorong Nina keluar hingga jatuh tersungkur di tanah.
“Bibi, buka pintunya. Aku mohon kembalikan Gio padaku? Aku tidak bisa hidup tanpa Gio, hiks hiks.” Nina bersujud mengetuk-ngetuk pintu rumah Fitriani. Meminta agar dirinya dipertemukan oleh Gio.
Nina tidak habis pikir hidupnya akan jadi seperti ini. Kemana arah akan dia tuju. Untuk mencari Gio, Nina tidak tahu harus kemana.
Sepanjang jalanan, semua orang memandangi dirinya yang nampak sangat berantakan. Tak jarang ada orang yang bertanya padanya. Apa yang terjadi? Dan hendak kemana. Namun Nina tidak menjawab, karena bibir ya tidak sanggup berkata-kata lagi.
__ADS_1
TBC.