Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)

Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)
Selling My Virginity Ch 63.


__ADS_3

Beby berjalan keluar dari Mansion. Dia mendapati Agil yang hanya sendirian berdiri di samping mobilnya. Beby menatap sekeliling mencari Nina dan Bagas.


“Dimana yang lain?”


“Aku meminta Bagas mengantar Nina.”


“Lalu bagaimana denganku, Tuan Ragilio yang tampan.”


Beby mendelik kan matanya. Agil malah tertawa.


“Hahaha ... apa sekarang kau sedang menggodaku, Moe kesayangan ku,” ucap Agil.


Seketika Beby mengerinyit. “Kamu bilang apa tadi? Moe?”


“Iya Moe! Memangnya kenapa?” Agil mendekat kepada Beby yang masih berada satu anak tangga lagi menginjak tanah.


Agil menjulurkan tangan nya seperti seorang pangeran yang menyambut putrinya. “Jadilah Moe-kesayanganku,” ucapnya.


Beby tersenyum dan segera meraih tangan Agil. “Kenapa kamu memanggilku Moe?”


“Aku hanya ingin memanggilmu berbeda dari semua orang yang selalu memanggilmu Beby ... anggap saja Moe adalah panggilan sayang dariku, dan hanya aku yang boleh memanggilmu seperti itu,” tutur Agil.


“Tapi kan-”


“Aku tau ... Moelinda adalah nama bunda mu, tapi tetap saja aku ingin memanggilmu seperti itu. Pokoknya tidak ada tapi-tapian, itu adalah perintah!” sanggah Agil cepat, dengan penuh tekanan.


Beby tersenyum dan geleng-geleng kepala. “Dasar posesif, setiap ucapan nya harus selalu di ikuti,” Gumam nya pelan.


Dengan penuh perhatian Agil membukakan pintu mobil untuk Beby. Lalu memakaikan sabuk pengaman dan mengecup kening kekasihnya itu. Sebelum akhirnya dia juga masuk ke dalam mobil. Kemudian menancap gas menuju tempat kediaman Nenek nya.


Sesampainya di kediaman sang nenek. Rumah besar berwarna peach dengan taman bunga yang menampakan beragam bunga-bunga unik.

__ADS_1


Agil keluar dari mobil lalu membukakan pintu untuk Beby. Beby memandangi rumah tersebut kemudian menatap Agil dengan penuh tanya.


“Kita ada dimana?”


“Rumah Nenek ku.” Agil meraih tangan Beby. Lalu menyematkan jemarinya dengan jemari Beby. Lalu menggandeng kekasihnya itu masuk ke dalam rumah tersebut.


“Untuk apa kita kesini, Agil?” tanya Beby.


“Tentu saja untuk mengenalkan calon istriku,” jawab Agil tersenyum dan mendaratkan kecupan dikening Beby.


“Kok kamu gak bilang ke aku, kalau kita mau kesini.”


“Memangnya kenapa?”


“Yah paling tidak aku harus menyiapkan dirilah.”


“Aku tidak memaksamu untuk menjadi orang lain, Moe. Jadilah seperti apa adanya dirimu,” tutur Agil. Beby pun mengangguk dan tersenyum.


Tapi tidak dengan Agil. Tanpa Beby minta, dia memang sudah berniat memperkenalkan Beby kepada keluarganya. Tujuan nya bukan hanya untuk membatalkan perjodohan yang dibuat tantenya saja. Melainkan juga untuk membuktikan kepada Beby, bahwa dirinya tulus dan serius menjalani hubungan ini.


Nenek Agil, atau sebut saja Nenek Diana. Tengah menata beberapa rangkai bunga segar ke dalam vas bunga mahal. Rambutnya yang sudah memutih ia gulung sanggul dan gaun berwarna hitam selutut, serta kaca mata yang bertengger di hidungnya. Nampak begitu elegan dan serius menata bunga-bunga itu.


Beby menelan salivanya yang keras seperti batu. Ketika Agil membawanya lebih dekat lagi. Kini dia sudah berdiri di hadapan Nenek Diana. Perlahan Beby melepaskan tangan nya dari tangan Agil.


Agil yang merasa genggaman nya mulai lepas, seketika menatap Beby. Lalu dia kembali meraih tangan Beby dan menggenggam nya erat. “Aku tidak akan pernah melepaskan tanganmu, Moe,” bisik nya di telinga Beby.


“Agil, sayang ... kamu datang pagi-pagi,” sapa Nenek Diana seraya beranjak dari duduk nya. Kemudian langsung memeluk cucu kesayangan nya.


Pandangan Nenek Diana beralih menatap genggaman tangan Agil dan wanita cantik di sebelah cucunya itu. Nenek Diana melepaskan kaca matanya.


“Apa dia wanita yang di maksud Tante mu malam itu?”

__ADS_1


Agil mengangguk. “Nenek, perkenalkan ini Beby ... dia kekasih sekaligus calon istri Agil.”


Beby tersenyum dan menyalimi tangan Nenek Diana dengan sopan. Nenek Diana menatap Beby dari ujung rambut hingga ujung kakinya.


“Kalian sudah sarapan? Jika belum, ayo kita sarapan bersama,” ajak Nenek Diana.


“Baiklah,” sahut Agil.


Nenek Diana pun mengajak Agil dan Beby keruang makan. Mereka berjalan dibelakang langkah Nenek Diana. Beby berjinjit, untuk meraih telinga Agil. menariknya agar membungkuk sedikit.


“Bukan kah kita sudah sarapan? Aku sudah kenyang,” bisik Beby.


Agil menaikan kedua bahunya. “Nenek tidak suka ditolak, apa kamu mau dia marah?” bisik Agil kembali.


Beby menggeleng dengan wajah cemas. “Baiklah,” bisik nya kembali.


Sesampainya di meja makan. Beby menatap makanan yang sudah berjejer di atas meja makan. Semuanya nampak berat, dia kebingungan. Apakah keluarga Ganendra selalu sarapan dengan makan berat seperti ini. Beby menelan salivanya yang keras.


“Ayo ... duduklah disini,” ucap Nenek Diana sembari menarik kursi disebelahnya.


“Untuk siapa? Aku?” Beby menunjuk dirinya.


“Pergilah,”Agil mengarahkan tubuh Beby untuk duduk di kursi yang minta sang Nenek. Dia tersenyum simpul melihat sang nenek tidak menampakan rasa tidak sukanya terhadap Beby.


“Sepertinya Nenek menyukai Beby, aku harap Nenek tidak berpura-pura,”batin Agil.


“Anak ini sepertinya dari keluarga baik-baik,”batin Nenek Diana.


“Entahlah ... apakah aku bisa makan-makanan berat seperti ini?” Batin Beby.


TBC.

__ADS_1


Note : Makasih untuk yang sudah mendoakan,🙏🏻😊


__ADS_2