Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)

Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)
Selling My Virginity Ch 40.


__ADS_3


🌺🌺🌺


Beby menatap sendu wajah Agil, begitu pun Agil sebaliknya. Dia mendekatkan wajahnya, Beby menutup matanya. Seakan tahu apa yang akan dilakukan Agil.


Cups!


Agil mengecup kening Beby, dan kembali mendekapnya. Beby menelan salivanya, lalu membuka matanya. Dia semakin berdebar dengan perlakuan hangat Agil padanya. Adakah yang lebih menghangatkan dari ini? Beby merasa dia semakin merasa nyaman berada di dekapan Agil.


"Kau sudah merasa baik?" tanya Agil.


Beby mengangguk, dan Agil pun melepaskan pelukan nya. Dia memperbaiki rambut panjang Beby yang terhambur. Lalu ia tersenyum dengan manisnya, membuat Beby semakin terpukau.


"Bagaimana kau bisa tahu aku ada di--" kata-kata Beby terputus. "Bukan kah, kau bilang ada rapat penting pagi ini?"


"Aku sudah meminta Bagas, untuk mengaturnya lain waktu!" jawab Agil.


"Hmm, dia sekertaris mu?"


Agil mengangguk, "Kenapa?"


"Kalian bukan seperti atasan dan bawahan," ucap Beby.


"Ya, begitulah!" Agil mengangkat kedua bahunya.


"Beby Moelinda Endrawira, nama yang cantik!" ucap Agil lagi seraya meraih helaian rambut Beby kemudian menggulung-gulungnya di jari telunjuk.


"Berhenti memanggil ku seperti itu."

__ADS_1


Beby memalingkan wajah sedih nya. "Itu bukan namaku," lirih Beby.


"Lalu siapa namamu?" Agil meraih dagu Beby lagi. "Lihat mataku, jika aku sedang bicara!"


"Aku bukan anak ayahku! Dan aku bukan anak keluarga Endrawira, jadi berhenti menyebut marga itu! Kau mengerti!" bentak Beby, kesal karena Agil yang terus memanggil nama lengkapnya.


"Kalau begitu jadilah menantu keluarga Ganendra, dan kau tidak akan aku panggil dengan marga keluarga Endrawira," tutur Agil.


Seketika, mata Beby membulat. Apa-apaan pria ini, pikir Beby. Dia selalu saja membuat kejutan disetiap perkataan yang keluar dari mulutnya.


"Maksudmu apa? Apa kau sedang melamar ku?" Beby menyipitkan matanya.


"Hmm, bisa dibilang begitu!" Agil mengangguk dengan wajah santainya.


"ih, kau ini! Agil aku serius, jangan bercanda! Aku tidak suka!" Beby mencubit perut Agil. Sedangkan Agil malah tergelak dan bergelinjang kegelian.


"Aku serius, Beby! Aku tidak bercanda, menikahlah denganku!" Agil menggenggam erat kedua tangan Beby dan menatapnya intens.


"Hussstt...aku tidak perduli kau wanita yang seperti apa Beby, bagiku kau yang terbaik! Meskipun kita baru saja kenal, entah kenapa aku merasa begitu nyaman jika bersama mu! Masalah-masalah rumit di hidupku, seakan terlupakan," tutur Agil. Beby tertegun dengan ucapan Agil tentang nya.


Dadanya berdebar-debar dan wajahnya terasa panas, mulai merah merona. "Apa kau yakin? Bahkan kita belum saling mengenal satu sama lain, aku juga belum mengetahui seperti apa keluarga mu, begitu juga sebaliknya."


"Tidak apa-apa, kita bisa memulainya dari sekarang. Apa kau bersedia? Menikah denganku?" Agil semakin menatap ke dalam mata Beby. Beby bisa merasakan ketulusan dari tatapan itu. Dia bingung untuk menjawab apa, karena bibirnya terasa sulit untuk menjawab.


"Hmm, a--aku..." Ia tergagap.


"Jawab iya atau tidak," sanggah Agil.


"Aku bersedia," Beby tersenyum dan mengangguk. matanya mulai berairan. Saking senangnya, Agil langsung memeluk erat tubuh Beby. Menciumi pucuk kepala dan pipi Beby beberapa kali.

__ADS_1


"Aku akan segera mengenalkan mu kepada keluarga ku!" ucap Agil. Beby mengangguk bahagia, tangan nya melingkar ditubuh Agil. Dengan begitu erat dia tidak mau melepaskan Agil.


Seperti mimpi, sejak dia memutuskan keluar dari rumah dan hidup sendiri. Ini adalah satu-satunya momen bahagia, setelah banyak nya kenyataan pahit yang dia hadapi. Meskipun ada perasaan ragu dalam hatinya, tapi Beby akan tetap mencoba. Dia ingin mengenal Agil lebih jauh lagi. Mungkin masa depan nya ada pada Agil.


Setelah itu.


Agil mengantarkan Beby ke kampus, karena dia masih harus bekerja. Dan Beby juga masih harus menghadiri kelas sore. Beby melambaikan tangan dengan senyuman yang merekah, begitu pun Agil. Saat mobil yang dikendarai Bagas membawanya pergi.


Di dalam mobil.


"Apa kau belum memberitahunya? Kurasa dia seperti nya tidak tahu, jika kau juga mahasiswa di kampusnya!" seru Bagas yang fokus mengemudi.


"Hmm, dia akan segera tahu! Aku juga sedikit bingung, bagaimana bisa dia tidak mengenaliku! Dia juga tidak bertanya siapa aku? Siapa keluarga Ganendra?" Agil tersenyum mengingat wajah Beby.


"Yah, dia begitu menarik! Karena itu kau begitu tertarik padanya," sahut Bagas tersenyum penuh arti melirik nya dari kaca sepion tengah.


"Dia sangat lucu! Kurasa di dalam kepalanya hanya soal uang, uang, dan uang..."


"Apa kau tidak takut? Jika dia akan menipumu, seperti kebanyakan wanita matre, yang mendekatimu hanya karena kekayaan keluargamu!"


"Hahaha, aku tahu dia bukan wanita yang seperti itu! Walaupun dia begitu menyukai uang, tapi aku yakin dia punya hati yang tulus dan aku tidak pernah salah memilih wanita," ucap Agil dengan sombongnya.


"Baiklah-baiklah terserah kau saja! Tapi jangan panggil aku yah, jika kau sakit hati nantinya!"


"Tenang saja, itu tidak akan terjadi! Urus saja pekerjaan mu yang menumpuk, atau aku tidak akan menggajimu bulan ini!"


"Cih, dasar tidak tahu diri! Selama ini siapa yang sudah membantumu! Jika tidak ada aku, mungkin kau sudah kewalahan mengerjakan pekerjaan kantor!" gerutu Bagas yang tidak terima.


"Hahaha!" Agil malah tergelak. Lalu ia tersenyum sambil menyandarkan kepalanya. Wajah cantik Beby tidak pernah lepas dari benaknya. Dia selalu memikirkan nya, kapan pun, dimana pun itu.

__ADS_1


🌺🌺🌺



__ADS_2