Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)

Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)
Selling My Virginity Ch 81.


__ADS_3

Bagas pun segera memberikan rekaman CCTV sebuah hotel, dimana merekam tepat di depan sebuah pintu kamar. Terlihat seorang wanita yang tak lain adalah Beby keluar dari kamar hotel tersebut. Selang beberapa menit, keluarlah juga seorang pria. Nenek Diana. Melotot, pria itu sangat familiar ialah Agil cucunya sendiri. Begitu pun juga dengan Tante Laras yang tidak bisa berkata-kata lagi.


“Apakah Nenek pikir aku akan menikahi wanita sembarangan? Aku adalah satu-satunya pria yang sudah merusak Beby, karena itu aku merasa bertanggung jawab penuh terhadapnya. Perasaan ku padanya tidak main-main, Nek. Aku sangat mencintainya,” ucap Agil.


“Tapi ayahnya-”


“Tuan Endrawira bukan ayah kandung, Beby. Berikan aku waktu dua minggu untuk membuktikan sesuatu. Aku harap Nenek tidak termakan hasutan wanita jalang ini lagi!” Agil menunjuk telak wajah Amanda.


Wanita itu hanya bisa tertunduk malu. Karena sudah memberikan informasi yang tidak akurat. Ia pun kembali bersujud di kaki Nenek Diana.


“Ibu, maafkan aku. Aku salah karena sudah menuduh tanpa mencari tahu, maafkan aku.”


“Dasar tidak tahu malu,” ucap Nenek Diana mendorong Amanda dari kakinya.


“Dan Nenek harus melihat ini ... masih pantas kah wanita ini ada di keluarga kita,” ucap Agil seraya memberikan amplop kulit berwarna hitam kepada Nenek Diana.


Amanda terkejut, dia penasaran apa isi amplop tersebut. Membuat dadanya berdebar sangat hebat. Nenek Diana pun membuka amplop tersebut, dan melihat isi di dalam nya. Sebuah foto dimana Amanda tengah mencium dan menarik seorang pria masuk kedalam kamar nya.

__ADS_1


Setelah matanya terbakar melihat foto-foto Amanda yang tidak bermoral. Bagas kembali memperlihatkan sebuah rekaman vidio kepada Nenek Diana. Yang membuat nya semakin murka. Dia menatap jijik kearah Amanda.


“Kamu! Pergi dari rumah ini, kamu sudah bukan bagian dari keluarga ini lagi!” usir Nenek Diana.


“A-apa salahku? Ibu, tolong dengarkan penjelasan ku ... foto-foto itu mungkin saja sudah direkayasa,” ucap Amanda membela dirinya.


“Menjijikan ... masih saja kamu mengelak! Lalu vidio ini apakah ini bukan dirimu??” Nenek Diana melempar ponsel milik Bagas kepada Amanda, membiarkan wanita itu melihat vidio tersebut.


Mata Amanda terbelalak. Bagaimana tidak jika vidio tersebut. Memperlihatkan adegan ranjang nya malam itu bersama dengan Dewa. Benar-benar sangat menjijikkan, Amanda sendiri tidak percaya melihatnya.


“Kamu! Apakah kamu sengaja memata-matai ku? Agil, kamu benar-benar kurang ajar!” decak Amanda kesal seraya beranjak dan mencengkram kerah kemeja Agil.


“Apa kamu lupa? Kamar yang kamu tempati adalah kamar VIP milik ayahku, dan dikamar itu terdapat beberapa berkas penting tentang pekerjaan. Tentu saja CCTV itu sudah lama terpasang dikamar tersebut.”


“Tidak mungkin ... ini gak mungkin, Ibu tolong maafkan aku. Itu hanya sebuah kesalahan, aku tidak berniat untuk melakukan nya, plis maafkan aku. Aku mohon,” ucap anda memelas di kaki Nenek Diana.


“Jangan sentuh aku,” ucap Nenek Diana melepaskan tangan Amanda dikakinya.

__ADS_1


Amanda merasa frustasi, dia menangis. Mulai berteriak seperti orang gila. Membayangkan dirinya kehilangan semua kemewahan ini. Kekayaan dan tanggungan hidup yang diberikan keluarga Ganendra padanya. Sungguh, membuat Amanda menggila. Ia pun mendekati Tante Laras dan memohon di kaki nya.


“Kak Laras, tolongin aku. Bicaralah pada Ibu untuk memaafkan aku ... dan tidak mengusirku, plis aku mohon.”


Tante Laras menatap jijik Amanda, tangan nya yang lentik mendorong Amanda jauh dari kakinya.


“Iughh ... sejak kapan kita sedekat itu hingga aku bersedia membantumu! Jangan harap kamu, dasar jalang! Keluarga Ganendra tidak membutuhkan orang sepertimu, sangat menjijikan,” hina Tante Laras dengan pedasnya.


Amanda semakin hancur, dia menatap Agil yang tersenyum menyeringai. Akhirnya dia bisa menghancurkan Amanda, dan menendang nya jauh dari kehidupan nya.


“Bawa dia pergi dari sini, dan jangan sampai dia menginjakan kakinya yang kotor dirumah ini maupun dirumah Utama,” perintah Nenek Diana.


Dua petugas keamanan pun datang dan menyeret Amanda keluar dari rumah itu. Melihat pemandangan itu membuat Agil merasa lega dan merdeka. Ia pun beranjak dan hendak melangkah pergi tapi langkah nya terhenti. Ia kembali menoleh ke arah Tante Laras. Sedetik kemudian ponsel Tante Laras bergetar sebuah pesan masuk dari Agil.


“Itu untuk mu,” ucap Agil lalu melangkah pergi.


Tante Laras membuka pesan tersebut, sebuah foto. Melanie yang tengah menggandeng seorang pria paruh baya yang berbeda-beda. Tante Laras dibuat terdiam tanpa bisa berkata-kata lagi oleh Agil. Sedangkan Nenek Diana pergi menuju kamarnya, karena merasa lelah dengan drama keluarga yang tidak ada habisnya. Ada sedikit perasaan bersalah yang dia rasakan karena telah menuduh Beby yang tidak-tidak. Karena sudah terhasut dengan omongan Amanda, si wanita murahan yang sebenarnya.

__ADS_1


TBC.


Note : Maaf baru bisa up🙏🏻. Karena author lagi banyak kerjaan, jadi baru bisa up sekarang, sekali lagi maaf yah☺️.


__ADS_2