
Malam harinya di restauran VIP. Bagas terus memperhatikan wanita cantik yang duduk di sampingnya. Betapa perhatian nya dia kepada anak kecil yang duduk dipangkuan nya. Menyuapi perlahan makanan dan sesekali menghujami pucuk kepala anak itu dengan kecupan hangat.
Seperti ada sesuatu didalam dirinya yang tergelitik. Melihat perhatian yang Nina berikan kepada Gio. Walaupun Gio bukan anaknya tapi Nina menorehkan kasih sayang yang besar kepada Gio. Hal itu tentu sangat menyentuh hati Bagas.
“Semua akan berjalan dengan baik, kau tidak perlu khawatir,” kata nya seraya meraih tangan Nina yang ada di atas meja.
Wanita itu terkejut saat tangan nya di genggam. Dia menatap tangannya dan wajah Bagas secara bergantian. Nina tersenyum dan mengangguk.
“Kau sangat cantik jika tersenyum ... karena itu tetaplah tersenyum, aku tidak mau melihatmu bersedih lagi,” ungkap Bagas.
Tanpa sadar dia mengeluarkan kata-kata manis di depan Beby dan Agil. Keduanya tersenyum melihat sikap Bagas kepada Nina sejak tadi. Terlebih Beby yang begitu senang melihat sang kakak, akhirnya menemukan wanita yang baik untuk hidupnya.
“Kau tak makan?” tanya Nina yang sedari tadi melihat Bagas tidak menyentuh makanan nya. Entah apa yang masih mengganggu pikiran nya. Bagas nampak tidak berselera untuk menyantap hidangan makan malam nya.
“Eehmm,” dehem Beby. Membuat Bagas dan Nina tersentak. Mereka sadar jika di sana tidak hanya ada mereka berdua. “Manis banget ... sayang aku juga mau dong di perhatiin kaya gitu.”
Beby bergelayut manja di lengan Agil, menggoda Bagas dan Nina. Berhasil membuat keduanya tersipu dengan wajah yang merah. Nina yang sadar langsung melepaskan tangan nya dari genggaman Bagas.
__ADS_1
Bagas tersenyum seraya mengelus wajah Beby dengan lembut. Menatap wajah Bagas yang tersipu. “Sebaiknya kalian segera menikah saja,” ucapnya.
Bagas menatap Agil dengan skeptis. Apa-apaan bisa-bisanya disaat seperti ini, Agil sempat membicarakan masalah pernikahan.
“Benar sekali ... kakak aku bisa melihat dari matamu, jika kau memiliki perasaan terhadap, Nina,” celetuk Beby.
Bagas terkejut, begitu pun juga dengan Nina. Keduanya saling memandang lalu memalingkan wajah masing-masing.
“Itu tidak mungkin,” lirih Nina pelan. Bagas bisa mendengarnya namun dia hanya menghela nafas dan cepat-cepat meneguk air putih di dalam gelas nya.
Beby dan Agil tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat tingkah Bagas yang lucu. Memang cinta itu bisa membuat semua orang menjadi bodoh dalam sekejap.
Nina menatap sendu kepergian Bagas. Ada perasaan sedih di dalam hatinya. Dia mengira bahwa Bagas pasti tidak nyaman dengan perkataan Beby dan Agil. Tentang menikahi dirinya. “Dia pasti sangat tidak menyukaiku, karena itu dia langsung pergi seperti itu,” batin Nina.
“Nina, aku senang sekali bisa bertemu lagi denganmu. Kau tahu betapa aku sangat merindukan mu,” ucap Beby meraih tangan Nina dan tersenyum manis.
“Aku juga senang bisa bertemu lagi dengan mu,” ucap Nina pelan sambil membalas senyuman Beby.
__ADS_1
“Aku tahu dari penampilan mu saat itu, bahwa kau menyembunyikan kecantikan mu. Kau sangat cantik, Nina,” puji Beby.
Nina tersenyum tipis, sambil menggaruk tengkuk lehernya. “Benar kan, sayang ... Nina sangat cantik,” celetuk Beby lagi sambil menepuk bahu Agil.
Pria itu menatap Nina dan menatap Beby secara bergantian. “Lumayan, tapi masih cantik kamu Moe.”
Nina menatap sengit Agil yang tersenyum miring seakan meledeknya. “Masih saja, songong dan menyebalkan,” cibir Nina.
Beby tertawa menyandarkan kepalanya di bahu Agil. “Kalian itu masih saja suka bertengkar, aku sangat rindu dengan saat-saat seperti ini,” ucap Beby sendu.
Agil merangkul pundak Beby dan menarik nya ke dalam dekapan. “Mulai sekarang dan seterusnya, aku tidak akan membiarkan kesedihan melanda hatimu lagi, Moe.”
“Makasih, sayang.”
Agil mengecup kening Beby dan mendekapnya semakin erat. Nina tersenyum melihat kehangatan pasangan suami istri itu. Dia menatap ke arah toilet dimana Bagas masuki tadi.
“Salah kah aku yang memiliki perasaan ini padamu? Aku merasa seperti wanita yang tidak tahu diri, siapa diriku? Dari mana asal ku? Jangan kan bersanding, memikirkan nya saja aku tidak pantas. Betapa bodohnya diriku,” batin Nina.
__ADS_1
TBC.