
Beby menatap Bagas yang masih terdiam. Bahkan memalingkan wajah darinya. “Ada apa ini sebenarnya? Bunda, cepat katakan apa yang ingin Bunda katakan padaku?”
Beby mengerinyit ketika Linda menggenggam tangan nya dan juga tangan Bagas. “Bunda tidak tahu bagaimana caranya kalian bisa bertemu ... tapi, Beby sayang kamu harus tahu bahwa kalian adalah bersaudara dan Tuan Prayoga ini adalah ayah kandung mu, sayang.”
Deg.
Seperti ada sesuatu yang menusuk dadanya. Beby menatap Prayoga dan juga Linda secara bergantian. Kemudian dia melepaskan paksa tangan nya dari genggaman Linda.
“Omong kosong apa ini? Jangan berkata sembarangan, Bunda. Aku memang sangat ingin tahu siapa ayah kandungku, tapi bukan berarti harus seperti ini,” ucap Beby yang matanya mulai berkaca-kaca. Bahkan setetes cairan bening sudah lolos begitu saja.
“Beby, apa yang dikatakan Bunda mu semuanya benar. Maafkan aku ... pertemuan pertama kita seperti ini,” sahut Prayoga dengan lembut dan tatapan rindu. Rindu kepada anak yang selama ini dia cari-cari.
__ADS_1
Beby berdiri dan mengusap air matanya dengan kasar. “Saat aku mengetahui bahwa aku bukan anak kandung ayah Arsyad ... aku bertanya-tanya kemana ayah kandung ku yang sebenarnya? Apakah dia membuang ku atau tidak menginginkan ku? Aku hampir gila memikirkan nya setiap malam,” ucap Beby dengan nada kasar.
“Beby, kenapa kamu bicara seperti itu sayang?” Linda menangis tersedu-sedu dan meraih lengan Beby.
“Lepaskan tangan ku, Bunda.” Beby melepas dengan kasar tangan Linda dari lengan nya.
“Beby!” bentak Bagas tiba-tiba. Membuat Beby terkejut. “Kenapa kamu begitu kasar padanya?”
Beby menatap Bagas yang terlihat marah dengan mata yang berkaca-kaca. “Aku harus pergi,” ucap Beby seraya berlari pergi.
“Tunggulah disini ... aku yang akan bicara padanya,” ucap Bagas kepada Linda. Melihat wanita itu menangis, Bagas merasa sedih. Karena dia sudah menganggap Linda juga sama seperti orang tuanya sendiri.
__ADS_1
Bagas meraih tas milik Beby yang tertinggal di atas meja. Kemudian melangkah pergi menyusul Beby yang pergi entah kemana. Akan tetapi baru dua langkah ia kembali menoleh ke arah Prayoga.
“Ayah, terima kasih ... kamu sudah menepati janjimu,” ucap nya. Prayoga tersenyum dan mengangguk.
“Sekarang kamu yang harus menepati janjimu, Bagas. Pulanglah dan bawa adikmu kembali,” ucap Prayoga yang disambut sebuah anggukan mantap dari Bagas.
Sedangkan diluar Restauran. Beby yang merasa perasaan nya tidak karuan. Ia menangis tanpa sadar berlari ke arah penyeberangan jalan. Tanpa melihat kiri dan kanan, ia langsung melewatinya. Alhasil, ada sebuah mobil putih yang melaju dari arah kanan. Supirnya sudah menginjak rem dalam-dalam. Tapi mobilnya masih tidak bisa berhenti.
Beby yang terkejut, malah terpaku diam menatap mobil itu yang melaju ke arah nya. Kaki nya serasa beku tidak bisa bergerak.
“Moe!” teriak Agil.
__ADS_1
Pria itu langsung berlari menarik Beby ke arah pinggir jalan. Beby terhuyung dan jatuh ke pelukan Agil. Saat sadar pria tersebut adalah Agil. Beby mengeratkan pelukannya dan mulai menangis. Betapa takutnya dia tadi, sempat berpikiran bahwa itu adalah akhir dari hidupnya. Tapi lagi-lagi Agil menyelamatkan nya.
“Moe, kamu baik-baik saja?” tanya Agil cemas sambil mengusap-usap kepala Beby untuk menenangkan nya. Agil sendiri begitu terkejut saat melihat kekasihnya itu hampir saja tertabrak.