
Sore pun berganti malam. Mereka semua berencana makan malam bersama di teras belakang yang mengahadap ke arah pantai.
Di sana terlihat Nina yang dibantu oleh Bagas, menyiapkan hidangan makan malam. Sebuah daging sapi yabg di panggang dengan taburan saus barbeque.
Rambut Nina yang diikat kini sudah terurai. Hembusan angin laut menerbangkan kesana kemari rambutnya. Dan tak jarang beberapa helai menerpa wajah Bagas. Tapi Nina tidak menyadarinya, karena dia sibuk membalik-balikkan daging di atas panggangan.
Sedangkan disisi lain. Ketika rambut panjang Nina mengenai wajahnya, Bagas hanya menoleh sekilas. Tangan nya mengusap wajahnya yang terasa geli. "Kenapa perasaan ku jadi kacau begini," gumam nya dalam hati.
Bagas memilih diam. Karena dia bingung harus bicara apa. Terlebih Nina yang juga sibuk dengan apa yang dia lakukan. Membuat Bagas hanya bisa memperhatikan Nina dalam diam.
Sebuah mobil sport berwarna biru mengkilap. Memasuki pekarangan mansion dan parkir tepat disebelah mobil Agil. Seorang pria tampan keluar, dengan memakai sebuah kaos berwarna kuning dan celana jeans hitam.
Daniel menyibak rambutnya kebelakang. "Ada-ada saja, Agil. Tumben ngajak makan malam bareng."
Daniel pun melangkahkan kakinya menuju teras belakang. Tatapan nya menajam ketika saling bersitatap dengan Bagas. Kedua pria itu memalingkan wajah bersamaan.
“Hai ... Nina!” sapa Daniel.
“Oh ... ha-hai Daniel!” sapa Nina balik.
Nina semakin gugup ketika Daniel tersenyum ramah kepadanya. Sebelum nya tidak pernah dia membayangkan, akan berada di tempat itu. Terlebih bersama dengan orang-orang populer di kampusnya. Ternyata mereka sangat baik, tidak seperti yang digosipkan orang-orang.
"Dimana Agil?" Daniel mengedarkan pandangan nya, mencari-cari sosok Agil.
"Agil dan Beby ada di dalam," kata Nina tersenyum.
"Ok ... thanks Nina," sahut Daniel tersenyum cerah. Nina hanya bisa mengangguk, karena tidak bisa berkata apa-apa lagi. Daniel membuat hatinya berdebar-debar.
Sedangkan disisi lain. Bagas memutar bola matanya dan membuang muka. Melihat Daniel yang tebar pesona di depan Nina. "Bukan hanya culun, tapi dia juga bodoh!" ucap Bagas pelan sambil geleng-geleng kepala.
__ADS_1
Nina yang mendengarnya sontak langsung menoleh tajam. "Apa? Kau bilang aku bodoh?"
"Aku tidak bicara padamu!" sahut Bagas datar, tanpa memperdulikan Nina. Ia sibuk membalik daging di atas panggangan.
Nina mendengus kesal, ia pun memilih pergi untuk mengurus minuman. "Mending aku pergi, dari pada tambah kesal bersama cowok dingin dan rese itu," gerutu Nina.
Bagas hanya melirik sekilas. Dia menghela nafas dengan tingkah cewek culun bodoh, yang terus menggerutu itu.
🌺🌺🌺
Daniel menghentikan langkahnya di ambang pintu. Ketika hendak masuk ke dalam mansion melalui pintu belakang, yang terhubung ke dapur.
Daniel langsung memalingkan wajahnya. Dadanya seperti ditusuk-tusuk jarum kecil, perih tapi tak berdarah. Saat melihat Agil yang memeluk Beby dari belakang.
Daniel memutar langkahnya, dia kembali keluar dan duduk di kursi santai. Memandang lurus ke arah pantai. Desiran ombak dimalam hari dengan penerangan lampu sorot, begitu indah. terlebih hamparan pasir putihnya yang menambah kesan indah bagi yang memandang. Namun, sayang sekali keindahan itu tidak bisa membuat Daniel terkesan. Adegan pelukan Agil dan Beby tadi, masih terus tergambar di benak nya.
Beby dan Agil tengah menyiapkan peralatan makan malam. Agil duduk di atas pantry, sambil memandangi Beby yang mondar mandir. Menyiapkan piring, sendok, garpu, dan yang lainnya.
"Kenapa senyum-senyum seperti itu?" tanya Beby.
Agil geleng-geleng kepala. "Tidak apa-apa, aku hanya senang melihat mu berada di dapur seperti ini," kata Agil.
Beby tersenyum, pipinya terasa panas. "Memangnya apa yang membuat mu senang? Aku hanya sekedar menyiapkan peralatan makan saja kamu sudah senang."
Agil membelai kepala Beby dan mendaratkan kecupan hangat penuh kasih di kening kekasih nya itu. "Tetap saja itu membuatku tidak sabar," kata Agil.
Beby memegangi keningnya yang juga terasa panas. Suhu tubuhnya naik, Beby hampir meledak dibuat Agil. Pria tampan yang kini ada dihadapan nya, seperti seorang malaikat untuk nya. Selalu bersikap manis dan lembut kepada nya, membuat Beby semakin ingin terus berada di dekatnya.
"Tidak sabar ... untuk membuatmu menjadi Nyonya Ganendra," sambung Agil tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang bergingsul.
__ADS_1
Beby membalikkan tubuhnya dengan cepat, dia tidak mau Agil melihat wajahnya. Yang mungkin kini sudah merah seperti kepiting rebus. Dada Beby berdebar-debar karena kata-kata yang terucap dari mulut Agil.
"Ya Tuhan, terima kasih sudah menghadirkan dia di antara banyak nya masalah yang aku alami sekarang. Masalah itu seakan-akan lenyap begitu saja jika aku berada di dekatnya. Dirinya bagaikan magnet yang membuatku ingin terus berada di sampingnya," batin Beby.
"By, kenapa melamun?" Agil menepuk pundak Beby. Dia mengarahkan tangan Beby ke arah wastafel. Kemudian menyalakan keran, membiarkan air membasahi tangan nya dan tangan Beby.
Beby mengerinyit heran. "Apa yang kamu lakukan?" tanya Beby bingung.
"Cuci tangan mu hingga bersih dan lupakan kotoran yang sudah kamu sentuh selama ini ... karena kedepan nya aku tidak akan membiarkan mu menyentuh sesuatu yang kotor lagi, atau pun sembarangan," tutur Agil.
Beby semakin tercengang. Bibir nya terkatup rapat, dia tidak bisa berkata-kata. Agil selalu saja membuatnya membeku, dan berdebar-debar. Beby menelan salivanya. "Apa-apaan sih, gombal terus dari tadi," pekik Beby.
Agil menutup matanya, ketika Beby menyiramkan percikan air ke wajahnya. Dia pun mengusap air tersebut dari wajahnya. Lalu tersenyum menyeringai, tanpa aba-aba dia membalas perlakuan Beby. Akhirnya terjadi aksi saling siram-siraman air.
Beby dan Agil saling menatap, wajah merek begitu dekat. Agil menatap lekat wajah kekasihnya itu, dari mata, hidung, hingga bibirnya. Tangan Agil menyentuh pipi Beby yang merah karena memar bekas tamparan Dewa.
"Ini pasti sangat menyakitkan," lirih Agil.
Beby tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Enggak kok! Aku baik-baik saja, nanti juga hilang," kata Beby.
Beby berusaha kuat. Meskipun sebenarnya, itu terasa sakit dan perih. Beby tidak mau menjadi wanita manja dan senaif dulu. Dia harus berubah. Karena pengkhianatan yang dilakukan oleh Melanie dan Dewa, membuat Beby sadar. Jangan gampang percaya kepada semua orang, terkadang mereka akan tersenyum di depan dan dibelakang dia akan menusuk mu.
Tapi, jika dengan Agil. Entah kenapa Beby merasakan ketulusan yang sungguh-sungguh. Walaupun, dia tahu Agil adalah pria yang suka bermain wanita. Bahkan sampai membeli keperawanan seorang wanita saking brengseknya dia.
Cups!
Agil mengecup memar tersebut, lalu menarik Beby kedalam dekapan nya. Membelai kepalanya dengan lembut. "Berjanjilah ... jika kamu tidak akan membiarkan seseorang berbuat seenak nya kepadamu lagi," ucap Agil.
Beby mengangguk dan semakin menyusup kedalam dekapan Agil. Menghirup aroma khas tubuh Agil, bagaikan magnet yang membuatnya ingin terus mendapat perlakuan manis dari Agil.
__ADS_1
TBC.
...🌺Jangan lupa like dan minta votenya yah guys,🌺...