Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)

Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)
Selling My Virginity Ch 95.


__ADS_3

Agil menyeringai licik.


“Awwh, Agil lepaskan aku,” teriak Beby yang disertai tawa geli. Ketika Agil menggendong tubuhnya masuk ke dalam kamar dan merebahkan nya di atas tempat tidur dengan perlahan.


“Kamu mau apa?” Wajah Beby berubah merah dan terasa panas. Saat Agil mulai naik ke atas tempat tidur dan mendekatinya.


“Apaan sih, Moe. Aku hanya mau mencium mu saja, memang nya kamu kira apa?”


Agil mengecup kening dan pipi Beby yang merah. Lalu tertawa geli melihat wajah kekasihnya itu yang tersipu. Setelah itu Agil melepaskan sepatu hak yang Beby kenakan. Lalu melemparkan nya ke sembarang arah.


Beby mengerutkan kening nya. “Sayang, kok di lempar sih. Itu tuh mahal tau gak, kalau rusak gimana?” decak nya kesal.


Ingin beranjak dari tempat tidur mengambil sepatu hak nya. Tapi di tahan dan ditarik oleh Agil agar dia kembali merebahkan kepala nya di bantal.


“Kamu itu ngeselin, ih!” gerutu Beby cemberut menatap wajah Agil yang sangat dekat dengan wajahnya.


“Kalau rusak awas aja ka-”


“Berisik sekali ... mmmhhh.”


Belum sempat Beby menyelesaikan gerutuan nya. Dalam sekejap bibirnya sudah dilumat habis oleh Agil. Awalnya menolak, tapi akhirnya Beby pasrah. Membiarkan Agil memperdalam ciuman nya.


“Aku mau buang air kecil,” ucap Beby dengan nafas terengah-engah.


Agil menggeleng dan kembali mencium bibir Beby. “Sayang.”


“Hmm.” Agil tidak mau melepaskan bibir Beby. Sekilas seringaian licik tergambar di wajah Agil.


“Agil!” teriak Beby yang sudah tidak tahan.Dia mendorong dada Agil untuk menjauh.


“Ngeselin deh!” gerutu Beby yang langsung beranjak dari tempat tidur dan berlari kecil menuju kamar mandi.

__ADS_1


“Moe, hati-hati jangan berlari,” teriak Agil. Ia tertawa melihat sang kekasih yang menggerutu karena tidak tahan menahan buang air kecil nya.


Selagi Beby di kamar mandi, tiba-tiba saja bel berbunyi. Agil dengan cepat beranjak dan membukakan pintu kamarnya.


“Hey, bro.”


Agil berjabatan dengan Bagas yang berdiri di depan pintu kamarnya, setelah ia membuka pintu. Bagas memicingkan matanya lalu menerobos masuk ke dalam kamar Agil tanpa permisi. Agil tersenyum melihatnya dan menyusul langkah Bagas setelah menutup kembali pintu.


“Tidak sopan! Masuk ke dalam kamar bos sendiri tanpa izin,” sindir Agil seraya duduk di sofa. Ia menuangkan wine di gelas nya dan juga gelas satu lagi untuk Bagas.


“Ingat, aku bukan lagi asisten mu,” sahut Bagas ketus seraya ikut duduk disofa tepat di depan Agil. Ia menatap sekeliling ruangan ini, mencari adiknya.


“Dimana kamu menyembunyikan adik ku?”


“Hahaha, untuk apa aku menyembunyikan calon istriku sendiri.”


“Kenapa menatap ku seperti itu?”


“Hei, jauhkan tangan mu dari adik ku!”


Agil geleng-geleng kepala ketika Bagas mendorongnya dan menarik Beby darinya. “Kalian belum menikah, jadi tidak boleh berdekatan,” cibir Bagas.


“Kak Bagas,” ucap Beby terkejut ada Bagas.


“Ayo pulang, Bunda sudah menunggu mu sejak tadi.”


“Mau kemana?” Agil menjegat langkah Bagas di depan nya.


“Biar aku yang antar, Moe.”


“Kamu gak boleh kemana-mana, besok itu hari pernikahan kalian. Kata Nenek Diana, pantangan nya besar ... jadi nurut aja deh, gak usah cerewet dan bawel.”

__ADS_1


Bagas tersenyum penuh kemenangan. Tapi saat dia hendak membawa Beby pergi. Langkah sang adik berhenti sontak Bagas langsung menoleh ke arah Beby.


“Ada apa?”


Beby memasang wajah sedih. “Satu menit, plis.”


“Huh, baiklah sana!” Bagas menghela nafas panjang.


Beby tersenyum, dan langsung berlari memeluk Agil. “Sayang, aku pulang ya. Sampai jumpa besok,”ucap Beby memeluk erat Agil.


“Hati-hati, Moe. Aku mencintai mu,” ucap Agil seraya menangkup wajah Beby menggunakan tangan nya. Lalu mendaratkan ciuman lembut penuh kasih dibibir Beby.


“Cih, alay banget, sumpah!” cibir Bagas yang langsung memalingkan wajahnya.


Beby tersenyum dengan wajah merah, lalu menghampiri sang kakak dan menggandeng tangan nya. “Ayo.”


“Makanya cari pacar terus nikah, jadi gak sinis liat orang mesra-mesraan,” sindir Agil sambil tersenyum sinis.


“Sudah-sudah, kalian itu...”


Beby menarik Bagas keluar dari kamar hotel Agil. Sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah kekasih dan kakaknya itu yang bertengkar karena hal konyol saja.


“Sayang, aku pergi dulu!” teriak Beby sebelum akhirnya pintu tertutup.


Setelah kepergian Beby dan Bagas. Agil kembali berdiri di balkon kamar nya. Ia mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menghubungi seseorang.


“Bagaimana? Apa mereka sudah bertemu?” Berbicara kepada seseorang di seberang telpon. Sambil mengangguk.


“Baiklah, tetap ikuti kemana dia pergi ... dan pastikan sesuai dengan rencana,” ucap nya seraya tersenyum dengan licik.


TBC.

__ADS_1


Note : Jangan lupa like ya😉


__ADS_2