
Beverly Wedding Dress, butik gaun pengantin.
Daniel keluar dari mobil sambil menggandeng wanita cantik. Freeya menelan salivanya dan gemetaran merasakan genggaman erat tangan Daniel.
“Ya Tuhan, apakah aku benar-benar telah jatuh cinta padanya?” batin Freeya.
Daniel menggandeng Freeya tanpa segan, karena dia pikir Freeya juga akan menjadi istrinya. Di dalam Butik itu mereka disambut oleh tiga orang pelayan wanita dengan ramah.
“Selamat datang, Tuan Daniel.”
“Siapkan semua yang sudah saya perintahkan sebelumnya.”
“Baik, Tuan. Silahkan...”
Pelayan tersebut langsung mengiring Daniel dan Freeya ke sebuah ruangan, yang bertuliskan VVIP di pintunya. Dada Freeya berdebar sangat kencang. Kini tangan nya terasa basah, dan dingin.
“Apa kita mau memilih gaun pengantin?”
__ADS_1
“Aku sudah menyiapkan nya, kau tidak perlu khawatir.”
Freeya hanya menuruti perintah Daniel yang membawanya masuk ruangan tersebut. Wangi lavender yang sedikit menyengat, cat dinding berwarna ungu berpadu putih, serta sofa berbentuk hati di tengah ruangan yang menghadap sebuah tirai merah.
“Lakukan yang terbaik,” ucap Daniel kepada pelayan. Ia pun melepaskan tangan Freeya dan berjalan ke arah sofa tersebut. Duduk dengan santai sambil menatap layar ponselnya.
Pelayan membawa Freeya masuk ke balik tirai merah. Tidak lama kemudian Asisten Dion datang, dengan membawa sebuket mawar merah.
“Ini dia Tuan, bunga yang anda pesan.” Memberikan bunga itu kepada Daniel.
“Terima kasih, sekarang kamu tunggu saja di mobil.”
Sekitar dua puluh menit dia menunggu, akhirnya pelayan tersebut telah selesai mempersiapkan Freeya. Freeya berdiri di depan tirai merah yang masih tertutup. Matanya sedikit berkaca, setelah melihat penampilan nya di cermin. Tak pernah terbayangkan olehnya, jika dia akan mengenakan gaun pengantin secantik ini.
Bentuk tubuhnya yang membuat gaun itu terlihat sangat cantik dan pas di tubuhnya. Dengan bagian depan yang tertutup dan bagian belakang yang terbuka di bagian pinggangnya, memperlihatkan jelas kulit putihnya yang mulus. Riasan natural dan rambut yang di gelung menampakan leher jenjang nya. Tak lupa dia memakai penutup kepala yang serasi dengan gaun tersebut.
Tirai pun terbuka. Daniel menegakkan kepalanya. Manik matanya menajam menatap keseluruhan Freeya. Cantik dan memukau. Daniel tak berkedip dan tak bisa berkata-kata. Dalam beberapa saat dia pun tersadar dan langsung memalingkan wajah merahnya.
__ADS_1
“Bagaimana menurutmu?”
“Cantik ... tidak maksudku kau lumayan bagus memakai gaun itu.”
Freeya tersenyum melihat tingkah Daniel, yang berbicara terbata-bata. Dia tahu bahwa saat ini Daniel terpukau dengan penampilan nya.
“Setelah ini? Kita mau kemana?”
Drrt drrt drrt!
Daniel merogoh sakunya dan mengisyaratkan Freeya untuk diam. Dia pun mengangkat panggilan tersebut. Entah apa yang dia bicarakan di telpon. Freeya nampak cemberut dan menggerutu kesal.
“Dia meminta ku diam!”
Setelah selesai menerima panggilan, Daniel kembali menatap Freeya. “Kenapa seperti itu?”
“Tidak apa-apa,” jawab Freeya ketus seraya memalingkan wajahnya.
__ADS_1
“Yasudah, kalau begitu aku akan tunggu di mobil. Ada yang mau ku katakan pada Dion.”
Daniel pun pergi meninggalkan Freeya bersama dengan pelayan tersebut. Freeya semakin kesal dan marah. Dia kecewa dengan sikap Daniel yang seolah-olah tidak perduli terhadap nya.