
Wanita cantik berwajah sendu itu menelan salivanya yang terasa membatu. Ditatap kesekilan kalinya dengan tatapan menyelidik. Berhasil membuat tubuhnya meremang.
Pria berahang kokoh itu terus mengunyah daging steak kesukaan nya. Seolah-olah daging itu adalah Freeya. Dia tahu bahwa wanita nya ini punya alasan khusus tiba-tiba mengajak nya berkencan.
"Apa?" tanya nya dengan wajah semerah tomat.
"Nothing, cepat habiskan rumput mu itu," jawab Daniel sambil terkekeh pelan.
"HAH? Apa kamu bilang? Rumput? Kamu pikir aku kambing?" decaknya kesal.
Daniel tertawa pelan sambil mengunyah makanan nya. Tingkah wanita di depan nya ini sungguh menggemaskan. Terlebih ketika dia mengerucutkan bibir karena kesal. Wajah sendunya membuat Daniel merasa nyaman.
"Terkadang aku berpikir bahwa kamu akan sama seperti kakakmu, tapi ternyata senyum mu lebih indah, Freeya," batin Daniel.
Sekejap dia mulai berangan-angan sembarangan tentang masa depan nya dengan Freeya. Bahkan dia sempat membandingkan diri Freeya dengan Baby sang kakak. Sungguh pikiran yang kejam, jika dia sadar. Sayangnya dia pun tidak menyadari itu.
__ADS_1
"Hey..."
Dia tersentak kaget saat tangan putih mungil yang terlihat lembut itu mengibas anvin deoan wajahnya. Yang berhasil membuyarkan lamunan nya.
"Melamunin apa? Wanita lain?" tanya Freeya dengan dengusan kecil, menyatakan secara tidak langsung bahwa dia cemburu. Tidak ada wanita lain yang boleh Daniel pikirkan, karena mereka bedua sudah menikah. Begitulah pemikiran Freeya, walau belum ada perasaan cinta.
Daniel memicingkan matanya menatap keanehan Freeya. Sudut bibirnya tertarik merasakan sentuhan kecemburuan yang begitu jelas dari cara bicara Freeya.
"Apaan sih? Suka-suka aku mau melamunkan siapa! Yang jelas wanita yang aku lamunkan pasti lebih cantik dari kamu, bodoh!"
Sedangkan disisi lain. Daniel terus menahan tawanya melihat raut wajah Freeya yang cemberut. Dia berhasil membuat wajah putih kapas itu berubah menjadi tomat. Lucu sekali, pikirnya.
Daniel tidak memperdulikan Freya yang terus berdecak kesal. Dia pun melanjutkan makan nya. "Habiskan cepat makan mu, sebentar lagi hidangan penutupnya diantar."
Tidak lama berselang mereka telah selesai. Beberapa pelayan pun juga mulai menyajikan hidangan penutup berupa dessert tiramitsu. Daniel menatap wanita dihadapan nya.
__ADS_1
Wanita itu terdiam menatap dessert tiramitsu nya dengan mata berkaca. Ada perasaan sakit yang begitu menyayat hatinya mengingat kenangan dari dessert itu. Dia mengingat sosok ayahnya yang dulu suka sekali membelikan nya dessert tiramitsu. Sampai akhirnya makanan itu menjadi favoritnya.
Daniel pun sama. Dia teringat akan kisah masa lalu disaat dia pertama kali bertemu Freeya kecil yang masih duduk di bangku SMA. Saat itu dia membawa Freeya dan Baby ke sebuah kafe. Dan dari situlah Daniel tahu bahwa Freeya menyukai dessert tiramitsu.
Walaupun waktu itu dia lebih fokus terhadap Baby. Akan tetapi dia sempat mengingat makanan kesukaan adik dari wanita yang dahulu pernah mengisi hatinya itu.
Freeya mengangkat kepalanya menatap Daniel. Pria itu menatap nya dengan tersenyum. Freeya mengusap ujung matanya yang sempat mengeluarkan cairan bening. Membalas senyuman pria itu dengan anggukan dan juga senyum termanisnya.
"Makasih Daniel," ucap nya dengan tulus.
Daniel mengangguk. Tangan nya terulur begitu saja menyentuh pipi Freeya. Dimana ada beberapa butir air yang masih tertinggal. Diusapnya dengan lembut.
"Sama-sama..."
Wanita cantik itu terdiam merasakan kulit wajahnya yang meremang. Saat tangan Daniel menyentuh permukaan kulitnya yang sensitif. Membuat dadanya berdegup kencang. Lagi-lagi dia berkontak fisik pada laki-laki yang sudah merenggut kesucian nya.
__ADS_1