Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)

Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)
SEASON 2 : 18. Bukan wanita lemah.


__ADS_3

Malam itu tiba-tiba angin malam yang dingin berhembus sedikit kencang dari hari-hari sebelumnya. Setelah mendengar penjelasan dari Freeya. Daniel berbalik dan hendak melangkah pergi. Namun langkahnya terhenti, ketika dia merasa sesuatu yang hangat membalut tangan kirinya. Dia pun menoleh, ternyata benda hangat itu adalah tangan lembut Freeya. Ia menatap lekat wajah wanita tersebut.


“Kamu mau kemana?”


“Aku-”


Belum sempat menjawab Freeya kembali memotong perkataan Daniel. Dia menggelengkan kepalanya. Wajah cantik yang terdapat luka memar di ujung bibir mungilnya.


“Jangan memarahinya...”


“Apa maksudnya?” Daniel mengerutkan kening dan berkata : “Memarahi siapa?”


“Jangan memarahi Ratu, dia tidak salah dalam hal ini. Aku yang salah sudah mengiyakan ajakannya, meskipun aku tahu itu salah,” katanya penuh lirih dan rasa bersalah.


Seketika angin kembali berhembus, menerbangkan rambut panjang Freeya. Ketika wanita itu menegakkan kepala. Matanya yang bermanik kecoklatan, nampak berair.


“Dia menangis?”


Saat itu juga dunia seakan meluruh, dan angin dingin yang berhembus berubah hangat. Manik mata tajam Daniel bergetar menatap wanita dihadapan nya itu. Apa yang membuat wajah ceria wanita itu tiba-tiba berubah? Daniel menahan bibirnya yang hendak berucap sesuatu.


“Kamu pantas untuk bangga memiliki seorang gadis kecil sepertinya ... aku pun juga akan melakukan hal yang sama jika berada diposisinya. Dia hanya tidak mau kamu salah memilih wanita, karena itu dia begitu protektif...”

__ADS_1


Deg deg deg deg.


Saat mata indah tersebut meneteskan air mata yang sedari tadi tertahan. Daniel tidak bisa menahan dadanya yang tiba-tiba berdebar. Tangan nya ingin sekali menghapus air mata itu, namun rasanya sangat berat, dia tidak punya hak untuk melakukan hal itu.


“Dia, meneteskan air matanya untuk, Ratu? Apa yang sebenarnya dia rasakan? Kenapa dia begitu perduli dengan apa yang akan aku lakukan terhadap, Ratu?”


“Hei, kenapa wajahmu seperti itu?” Freeya mengibas angin didepan wajah Daniel. “Apa kamu terharu dengan perkataan ku?”


Daniel menggelengkan kepala tersenyum tipis, sambil memalingkan wajahnya. “Huft, dia mulai lagi, baru saja aku merasa dia wanita yang hebat...”


“Kamu tersenyum? Sangat aneh dan mencurigakan? Apa yang membuat mu tersenyum?” Freeya mencodongkan tubuhnya berusaha melihat wajah Daniel yang berpaling.


“Aku tidak tersenyum, kamu hanya salah lihat...” Daniel kembali tersenyum namun dia menyembunyikan nya.


“Aku bilang tidak ya tidak, berisik sekali!”


Daniel membalik badan dan berjalan masuk ke dalam ruangan. Freeya mengikutinya dari belakang. Dengan wajah manyun nya dan gerutuan pelan.


“Kemari,” ucap Daniel seraya menarik Tangan Freeya.


Wanita itu di perintahkan nya duduk di sofa panjang yang ada di dalam ruangan itu. Lalu dia pergi dan kembali sambil membawa kotak P3K di tangannya.

__ADS_1


Duduk disebelah wanita itu dan berkata : “Luka mu harus di obati.”


Dengan penuh perhatian Daniel mengeluarkan sebuah kapas dan menuangkan cairan di atas kapas tersebut. Meskipun terlihat tenang diluar, tapi sebenarnya tidak ada yang tahu. bahwa di dalam dadanya berdebar sangat kencang.


“Aku tidak apa-apa, ini hanya luka kecil,” ucap Freeya.


“Biarpun luka kecil tapi mesti diobati,” sahutnya seraya mengarahkan kapas tersebut ke ujung bibir Freeya yang memar.


“Aku tidak apa-apa, nanti hilang sendiri.”


“Berisik,” Daniel menghela nafasnya. “Kenapa sih, kamu itu selalu saja membantah, terlalu percaya diri, dan sok jagoan ... aku tau ini pasti sangat sakit.”


Freeya menutupi ujung bibirnya itu dengan tangan nya. Dengan wajah yang terasa panas dia berpaling. Menyembunyikan rasa sakit yang dia rasakan. Tidak ingin terlihat lemah di depan orang lain.


“Ini memang sakit, sangat sakit. Tapi, aku bukan wanita yang lemah,” lirih nya pelan dengan wajah yang masih berpaling.


Dadanya terasa begitu perih, mengingat bagaimana pria-pria tadi berlaku kasar padanya. Dari dulu dia selalu menyembunyikan kesedihan dibalik senyumannya yang ceria. Hidup jauh dari keluarga, meskipun dekat dengan sang ayah. Tidak membuat Freeya bahagia.


Sejak Arsyad Endrawira, sang ayah menikah kembali tujuh tahun yang lalu. Monica, nama ibu tirinya, selalu saja memperlakukan nya dengan tidak bersahabat. Bahkan Monica yang juga seorang janda, membawa anak perempuan nya yang dia tahun lebih tua dari Freeya ikut tinggal di rumah Arsyad, ayahnya.


Karena itu Freeya tidak mau tinggal bersama sang ayah, dan malah memilih bekerja keras untuk membeli sebuah apartemen pribadi. Monica dan anaknya, selalu membuat dirinya kesal dan mencari-cari kesalahan nya.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2