Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)

Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)
SEASON 2 : 20. Mengingat Kakak ipar.


__ADS_3

Freeya baru saja selesai membersihkan dirinya di dalam kamar mandi yang letaknya juga berada di dalam kamar tamu tersebut. Dengan rambutnya yang dibiarkan setengah basah dan terurai berantakan tanpa disisir. Dia berjalan keluar dari kamar tersebut.


“Tenggorokan ku kering sekali,” gumamnya seraya membuka pintu.


“Gelap sekali, apa semua orang sudah tidur?” Dia celingukan menatap sekitar. Beberapa lampu sudah mati, menyisakan lampu-lampu yang berwarna kuning, tergantung seperti lampion.


Ia pun melangkahkan kakinya di kesunyian tersebut. Namun tiba-tiba saja, terdengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya dari arah belakang. Sontak Freeya langsung berbalik, dia terlonjak kaget.


“Desi!! Astaga, kamu membuatku terkejut... ”


“Maafkan saya, Nona. Sudah membuat terkejut,” ucap Desi dengan wajah tertunduk. Merasa bersalah sudah membuat Freeya terkejut.


“Hahaha, santai saja kali, Des. Aku tidak marah kok,” sahut Freeya setengah tertawa, mencoba membuat Desi tidak canggung.


Desi tertegun dengan sikap ramah Freeya, sangat berbeda dengan wanita lain nya. Yang akan memandang rendah seorang pelayan. Sedangkan Freeya dengan ramahnya, dia tidak keberatan berbicara santai padanya, bahkan marah pun tidak. Padahal dia sudah membuatnya terkejut tadi.


“Nona, apa ada yang nona butuhkan?”


“Hmm, sebenarnya sih, aku sangat haus...”


“Kalau begitu, biar saya ambilkan air minum untuk, Nona.”


“Tidak tidak, Des. Biar aku yang mengambilnya sendiri,” ucap Freeya seraya menarik tangan Desi sebelum pergi.


“Tidak apa-apa, Nona. Ini sudah menjadi pekerjaan saya,” ucap Desi tersenyum.


Freeya menggeleng dan ikut tersenyum. “Aku bisa mengambilnya sendiri, Des. Apa kamu mau aku marah?”


“Hah?” Mata Desi membulat dan dia menelan salivanya. “Maaf, Nona. Bukan maksud saya membuat anda marah, ta- ta-pi...”


“Aku hanya bercanda, Des. Kenapa kamu serius sekali,” ucap Freeya menutup mulutnya menahan tawa.


“No--Nona, bercanda?”


“Iya, sudah sana kamu kembali istirahat. Aku mau ambil minum sendiri.”


“Tapi, Nona.”

__ADS_1


“Sudah, pergi sana, bawel deh!” Freeya mendorong tubuh Desi agar dia pergi.


Desi pun mengalah. Wanita cantik itu benar-benar keras kepala, pikir Desi. Tapi dia juga lucu, apakah dia akan menjadi Nyonya barunya nanti? Desi bertanya-tanya dalam hati. Jika benar itu terjadi, dia akan sangat senang bekerja melayani Nyonya baru baik hati seperti wanita tersebut.


Freeya menuruni satu persatu anak tangga dengan perlahan. Karena pencahayaan yang redup, dia takut jika akan terjatuh. Sesampainya di dapur, yang letaknya ada di ruangan sebelah kanan tangga. Freeya kembali menatap sekeliling, metanya mengkerut dan tak jarang menyipit, karena pandangan yang gelap. Dia mencari letak lemari es.


“Ahhhh, segarnya....”


Dia mendesah lega, setelah meneguk habis sebotol air dingin, yang dia ambil dari dalam lemari es. Setelah iru bergegas kembali ke kamarnya.


Saat di depan tangga, langkahnya terhenti. Dia mendongak untuk menatap pria yang berdiri tepat pada satu anak tangga di atasnya. Daniel, pria itu menatapnya tanpa ekspresi.


Freeya pun mengalihkan pandangan nya. Lalu bergeser agar tidak menghalangi jalan pria itu. Akan tetapi keberuntungan tidak berpihak kepadanya. Karena gugup, dia jadi gelagapan. Kakinya salah melangkah, alhasil tubuhnya terhuyung dan terjatuh.


Melihat hal itu, Daniel dengan spontan langsung meraih tangan Freeya. Wanita itu berpegangan kuat pada lengannya. Dia pun menariknya agar tubuh wanita itu kembali berdiri dengan tegak.


“Makasih,” ucap Freeya canggung seraya melepaskan tangannya dari Daniel.


Daniel pun juga merasa canggung, setelah sadar bahwa dia tadi memegang tangan Freeya. Dia pun memasukkan tangan nya tersebut ke dalam saku celana, lalu memalingkan pandangan nya.


“...tangga sebesar itu sampai tidak dilihat,” ucap Daniel.


“Apa kamu bilang?” sahut Freeya, sembari mendengus kesal dan menggigit bibir bawahnya. Gemas dengan mulut Daniel yang selalu saja mengeluarkan kata-kata yang membuat dia kesal.


“Apa yang kamu lakukan, malam-malam begini? Belum tidur?” tanya Daniel menatap penuh pertanyaan.


“Aku mau minum air putih.”


“Jangan tidur terlalu malam, wanita akan terlihat jelek jika kurang beristirahat...”


Seketika Freeya terdiam dan tersenyum menatap Daniel dalam keremangan. Membuat Daniel mengernyit tidak mengerti.


“Kenapa tersenyum?”


“Tidak apa-apa... aku hanya teringat pada kakak iparku, kalian berdua mengatakan hal yang sama...”


Deg.

__ADS_1


Tiba-tiba saja suasana berubah. Nostalgia, itulah yang dirasakan oleh Daniel. Dia teringat akan sosok Agil, sahabatnya yang sudah lama tidak berjumpa. Sejak Agil menikah dengan Beby cinta pertamanya, Daniel memilih menghindar jauh dari hubungan mereka.


“Ternyata dia masih ingat dengan kata-kata ku itu,” batin Daniel dan ia tersenyum tipis, sambil mengingat-ingat persahabatan mereka.


“Hei! Kenapa melamun?”


Daniel tersentak kaget saat Freeya lagi-lagi mengibas udara didepan wajahnya, membuyarkan lamunannya.


“Tidak, aku tidak melamun,” tangkas Daniel seraya berpaling. “Mungkin hanya kebetulan saja sama...”


“Tentu saja! Tidak mungkin kalian saling mengenal, aku yakin kakak iparku adalah orang yang baik, dia tidak akan berteman dengan pria angkuh sepertimu,” sahut Freeya sangat cetus.


Daniel menyipitkan matanya menatap Freeya. “Cih, dasar wanita....”


“Meskipun sebenarnya setiap melihatmu aku selalu teringat padanya, sangat aneh bukan,” ucapnya kembali.


Daniel menjadi gugup. “Jangan bicara yang tidak tidak, aku memang pria yang baik, karena itu cara bicara ku juga baik...”


Freeya berdecih sinis. “Jangn terlalu percaya diri, meskipun kata kata kalian sama, kakak iparku adalah yang paling baik di dunia ini, dia sangat bertanggung jawab pada kakak ku dan keluarga...”


Mendengus kesal dan melotot. “Wanita ini!!! Apa dia sedang membanding-bandingkan aku dengan Agil? Bisa-bisanya dia....”


“YAAA....berhenti bicara ngawur, dan pergi tidur sana!!! Tengah malam seperti ini, kamu masih saja mengganggu ku, berisik!”


Daniel pergi begitu saja. Tanpa mendengarkan sahutan yang keluar dari mulut Freeya. Laki-laki itu nampak gusar dan tergesa-gesa pergi.


“Iihhhh nyebelin, perasaan dia yang mengajak ku bicara tadi, sekarang malah bilang aku mengganggunya, awas saja nanti....” Freeya menggerutu sambil menaiki satu persatu anak tangga.


Ia kembali ke dalam kamarnya dan kembali bersiap untuk tidur. Besok pagi dia masih harus bekerja, terlebih dia berada di rumah orang lain. Tentu saja, akan sangat tidak enak jika dia bangun terlalu siang, sedangkan orang-orang bangun di pagi hari.


Di dapur, Daniel meraih botol air yang ada di atas meja makan. Meneguk habis tanpa tersisa. Dia memegangi dadanya yang berdegup sangat kencang.


“Kenapa setiap kali berada di dekatnya aku seperti ini? Sudah sangat lama aku tidak merasakan hal begini,” gumam Daniel menatap lurus kedepan dengan kosong.


Pikiran nya tiba-tiba melayang, memikirkan sosok Beby dan Freeya. Dua wanita yang membuat jantungnya berdebar, meskipun sekarang hatinya belum yakin, dengan apa yang membuatnya berdebar pada Freeya. Tapi wanita itu selalu saja masuk dalam pikiran Daniel.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2