Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)

Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)
Selling My Virginity Ch 135.


__ADS_3

Agil sangat geram dan marah terhadap kelakuan Melanie. Karena lagi-lagi dia berniat untuk mencelakai istrinya. Kemurkaan Agil terhadap Melanie, dia buktikan dengan tuntutan hukuman mati atau penjara seumur hidup untuk wanita gila itu. Dan hakim juga setuju, karena sudah dua kali Melanie membunuh seseorang.


Satu bulan telah berlalu sejak kejadian tersebut. Gerry dan Tante Laras juga sudah mendapat hukuman sesuai dengan kejahatan mereka. Hidup Agil dan Beby terasa begitu nyaman tanpa gangguan.


“Sayang, kemari sebentar!”


Agil segera berlari menuju kamar mandi yang ada di kamar nya. Menghampiri sang istri yang berteriak histeris memanggilnya.


“Moe, kau baik-baik saja?”


Agil memegang bahu Beby yang berdiri di depan kaca wastafel. Dia bisa menangkap raut wajah sang istri yang datar. Agil mengerutkan keningnya dan memutar tubuh sang istri.


“Ada apa, Moe? Kenapa berteriak histeris seperti itu?” tanya nya heran.


“Belum genap setahun aku melahirkan, sayang ... bahkan Baby Rey masih berusia delapan bulan,” ucap Beby dengan nada lirih.


Agil semakin gemas melihat tingkah sang istri. “Ya lalu kenapa? Moe, berhenti membuatku bingung!”


“Kau membuatku hamil lagi.” Beby menunduk menyembunyikan senyuman nya. Dia sengaja mengerjai Agil dengan teriakan histerisnya.


“Apa? Kau hamil?” tanya nya seraya menegakkan kepala Beby. Wanita itu mengangguk.


“Hahaha, ternyata tidak sia-sia aku memakan mu setiap malam!” teriak Agil bahagia. Dia langsung memeluk sang istri dengan erat dan menggendongnya keluar dari kamar mandi. Berputar-putar sambil mencium bibir Beby.


“Kau ini...” Beby mendelik lalu tertawa. Melihat tingkah sang suami. Pria itu nampak sangat bahagia dari sorot matanya yang berbinar-binar.


“Aku mencintaimu, Moe...”


“Aku juga mencintaimu, Agil...”


Mereka berpelukan sangat lama. Agil menghujami pucuk kepala Beby dengan kecupan. Bahkan sesekali dia juga mengecup pipi sang istri. Kebahagiaan nya akan bertambah dengan hadirnya buah hati kedua mereka. Baby Rey akan menjadi seorang kakak.


***


Nina yang baru saja selesai mandi dan bersiap-siap keluar dari dalam kamar. Langkahnya terhenti menatap kedepan sana.


“Hei, kau curang sekali ... berikan roti itu. Mommy membuatkan nya untuk Papah, Gio kau curang sekali,” ucap Bagas sambil tertawa dan menggelitik perut Gio.

__ADS_1


“Aahhh, geyi geyi ... Papah Gio geyi, belenti belenti. Gio panggilin Mommy nih,” ucap Gio sambil tertawa menggeliat kegelian.


Nina menutup mulut menahan tawanya. Bagas dan Gio begitu menggemaskan. Layaknya seorang ayah dan anaknya yang tengah bercanda ria. Sesekali Bagas mengusap kepala Gio dan menyuapinya makanan.


“Hei, kalian sedang apa? Ribut sekali pagi-pagi begini.” Nina berjalan mendekati keduanya.


Bagas tersenyum dan menarik wanita itu keatas pangkuan nya. Lalu melingkarkan tangan nya di perut Nina.


“Aku sayang Mommy,” ucapnya seraya menjulurkan lidahnya meledek Gio.


“Ihhh, itu Mommy nya Gio ... Papah jahat!”


“Siapa bilang? Ini juga Mommy nya Papah.”


“Papah jahat, Gio gak mau tidul cama Papah lagi!”


Anak itu bersidekap dan duduk di sofa dengan raut kesal. Tak mau menatap Bagas dan Nina. Melihat itu Nina dan Bagas tergelak. Mereka bersamaan memeluk Gio.


“Anak Papah, gitu aja ngambek ... sini biar Papah peluk.” Bagas menarik Gio semakin ke dalam pelukannya.


“Gak mau, Gio maunya cama Mommy ... mucuhin Papah!”


“Bisa ambil kan isi di dalam kotak di atas meja makan?” ucap Bagas.


Nina mengangguk dia beranjak dan berjalan ke arah meja makan. Diatas meja itu sudah ada kotak berwarna biru muda.


“Kotak ini?”


“Iya, bukalah.”


Tanpa rasa curiga apapun ia segera membuka kotak tersebut. Sontak mata Nina membulat. Dia menutup mulutnya karena terkejut.


“Cantik sekali,” gumam nya.


Terpukau akan isi di dalam kotak itu. Dia meraih topi putih dan kaca mata bening yang begitu menawan. “Topi ini...”


Bagas menoleh, dia tersenyum menatap ke arah Nina. Melihat wanita itu tersenyum dan menyukai isi kotak tersebut. Ia beranjak dari sofa membiarkan Gio bermain di sana. Lalu ia mendekati Nina dan memeluk wanita itu dari belakang.

__ADS_1


Nina berbalik menatap lekat mata pria yang kini tengah memeluknya erat. “Topi dan kaca mata ini? Kau dapat dari mana?”


“Selama ini aku tidak bisa melupakan mu, Mochi ... meskipun kita hanya berteman tapi ternyata kau sudah berhasil menembus hatiku,” tuturnya lembut.


“Aku tidak tahu jika kau juga memiliki perasaan yang sama terhadapku,” ucap Nina.


“Aku memang tidak menyadari itu sebelumnya, tapi dengan seiring berjalan nya waktu. Aku semakin merindukan mu, mencarimu tapi tidak ada hasilnya.”


“Dan sekarang, aku sadar bahwa aku sangat mencintaimu. Aku tidak akan membiarkan mu menghilang lagi.”


Bagas meraih kotak kecil yang ada di dalam kotak tersebut. Kemudian membukanya tepat di depan Nina. Dua cincin pasangan yang begitu cantik dan mengkilap.


“Ini...” Nina menutup mulut nya tidak percaya.


Bagas mengangguk. “Kau benar, hari ini aku ingin melamar mu dengan sungguh-sungguh.”


Ia meraih satu cincin dan meraih tangan lembut milik Nina. “Frederica Mochini, mau kah kau menjadi istriku? Dan menjalani kehidupan membosankan bersama ku selamanya? Kita akan menua dan mati bersama.”


Nina meneteskan air mata bahagianya. Pria dihadapan nya itu menatapnya dengan lekat. Tatapan nya yang begitu memabukkan, ketulusan dan rasa cinta yang besar tergambar jelas di sorot mata itu.


“A-aku bersedia menjadi istri Tuan Bagas Prayoga, dan menjalani kehidupan membosankan bersama mu,” ucap Nina tersenyum. Dia berjinjit dan mengecup bibir Bagas dengan lembut.


Bagas terkejut dia menatap wajah Nina yang memerah. Kemudian dia melingkarkan cincin itu di jari manis Nina. Begitu pun sebaliknya. Lalu memeluk erat wanita itu dan menghujami pucuk kepalanya dengan kecupan.


“Apa kau yakin? Jangan mengeluh padaku, jika kehidupan mu nanti akan sangat membosankan,” ucap Bagas.


Nina terkekeh pelan. “Ckck, membosankan sekalipun itu ... aku akan tetap bahagia, selama bisa terus hidup bersama mu.”


Bagas mengerinyit. Dia melepaskan pelukan nya. Memiringkan kepalanya menengok wajah Nina di depan nya.


“Cih, kau sudah pintar gombal yah ... belajar dari mana?” Bagas menaikan satu alisnya.


“Awwhh, geli tau!” Nina menggeliat geli saat Bagas menggelitik perutnya. “Ampun, Bagas hentikan... aku belajar menggombal kan juga darimu! Dasar pria mesum dan tukang gombal!”


“Apa kau bilang? Mesum? Hahaha, tunggu saja waktunya ... jika kau sudah menjadi istriku, setiap hari aku akan mengajari mu menjadi mesum!”


Bagas tergelak sambil terus menggelitik perut Nina. Wanita itu menggeliat dan berteriak-teriak kegelian. Nina berlari menghampiri Gio dan dikejar oleh Bagas. Sungguh pemandangan yang begitu indah. Mereka bertiga sudah seperti satu keluarga yang saling mencintai dan menyayangi.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2